Iklan

Iklan

Cerbung: Istri Keduaku ( Bag 5 )

1/03/22, 17:43 WIB Last Updated 2022-01-03T10:43:00Z

 Aku merasakan ada yang menepuk-nepuk lenganku. Mataku terasa berat untuk dibuka. Namun, telingaku sudah mampu menangkap suara.

"Dik, bangun, Dik." Samar aku mendengar suara orang membangunkan.

"Dik Faiza, bangun." Kali ini, disertai guncangan kecil pada bahuku.

Pelan, aku membuka mata. Seperti biasa, Ghifari yang membangunkanku sepagi ini. Dia sudah berpakaian sangat rapi.

"Dik, bangun! Sudah jam 5 pagi. Salat subuh dulu, Dik Faiza tidak sedang datang bulan 'kan?" ujarnya 

Aku langsung bangun dan terduduk. "Berisik! Mau datang bulan mau tidak. Mau salat mau tidak. Jangan ganggu tidurku! Berapa kali sudah aku bilang? Hah?!" Aku membentaknya kesal.

Ghifari masih berdiri di tempatnya. "Adik boleh membenci, Mas. Adik boleh tidak suka dengan pernikahan kita. Tapi jangan pernah Adik tinggalkan kewajiban Adik untuk beribadah!"

"Halah, gak usah ceramah pagi-pagi begini. Masalah ibadah, itu urusanku sama Tuhan. Jadi gak usah ngomong itu terus setiap pagi!"

Ghifari terlihat menggeleng. "Dik, tidak bisa seperti itu! Sekarang Mas sudah menjadi suami kamu. Sudah kewajiban Mas untuk membimbing kamu, Dik. Apalagi Mas mendapat wasiat dari Bapak untuk bisa menjaga dan melindungi kamu. Jadi, tolonglah, dengarkan perintah Mas untuk salat!"

Aku mendengkus. "Omong kosong! Sampai mulutmu berbusa, aku gak peduli! Ini hidupku dan jangan pernah mengaturnya meski statusku sah sebagai istrimu. Kalau bukan permintaan Ayah, sudah ku akhiri pernikahan ini!" pungkasku.

Ghifari menghela nafasnya. "Mas tidak ingin berdebat. Mas hanya membangunkan Adik untuk salat. Sekalian Mas mau pamit pergi. Sudah akhir bulan, Mas mau ke pemasok," tuturnya.

"Pergi, pergi aja! Aku gak peduli kamu mau ke ujung dunia sekalipun!"

Ghifari mengangguk. "Assalamu'alaikum," ucapnya.

Aku hanya diam, tak menjawabnya. Ghifari lalu pergi dengan membawa tas kecil.

Begitulah kebiasaannya setiap hari. Membangunkanku di pagi buta begini. Padahal ini hari libur. Aku tidak masuk kantor. Meski hari kerja pun, aku lebih sering bangun jam 6 pagi. Memang kurang kerjaan dia itu.

Aku hendak berbaring kembali. Namun, aku ingat jika hari ini aku sudah janjian dengan Kak Bayu. Aku tidak jadi berbaring. Menyibak selimut dan langsung ke kamar mandi.

Setelah aku dan Kak Bayu menonton bioskop hari itu. Hubunganku dengannya semakin dekat. Aku dan Kak Bayu tak segan untuk bertukar pesan. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menjalin hubungan diam-diam dengannya selama hampir 6 bulan ini.

Kak Bayu sama sepertiku. Ia sudah menikah dan itu karena dijodohkan orangtuanya. Sepulangnya Kak Bayu dari bekerja di luar negeri, orang tuanya sudah menyiapkan calon istri untuknya. 

Istrinya tinggal di luar kota ini. Satu bulan sekali Kak Bayu pulang. Sementara tinggal di kota ini, Kak Bayu menyewa sebuah kost-an.

Kak Bayu juga tidak mencintai istrinya. Ia menikah karena paksaan orangtuanya. Dan ia senang, karena akhirnya ditempatkan di kantor yang berada di luar kota dan jauh dengan istrinya itu.

Kak Bayu tidak bisa menceraikan istrinya. Kalau sampai ia melakukan itu, ia akan dicoret dari daftar keluarga dan juga ahli waris. Kak Bayu tidak punya pilihan.

Hingga akhirnya ia dan aku menjalin hubungan ini. Meski terlarang, tapi aku bahagia. Karena aku memang menyimpan perasaan padanya sejak kuliah dulu. Dan kini, perasaan itu terbalas meski di waktu yang salah.

Hari ini Kak Bayu mengajakku pergi ke kebun teh. Aku memakai celana jeans panjang dengan atasan blouse lengan panjang. Rambutku yang panjang, kuikat kuncir. Aku memoles makeup tipis-tipis di depan cermin dan aku sudah siap, menghabiskan hari libur ini bersama Kak Bayu.

°°°°°°°°°°

Kak Bayu memarkirkan motor di tepi jalan. Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan, akhir sampai juga. Kak Bayu sengaja menyewa sepeda motor milik teman sebelah kost-nya. Katanya kalau ke kebun teh seperti ini enak memakai motor. Biar bisa kupeluk dia bilang.

Aku dan Kak Bayu turun dari motor. Kak Bayu menuntunku untuk duduk di saung bambu yang langsung menghadap ke hamparan hijau perkebunan teh.

Udara di sini sangat sejuk. Kulihat banyak juga pasangan yang ada di sini. Di sepanjang jalan, tersedia saung bambu yang letaknya berjarak. Di kawasan ini juga, terdapat beberapa pemandian air panas, tempat camping, dan jauh lagi dari tempatku dan Kak Bayu singgah kali ini, ada tempat wisata telaga air.

Aku duduk bersebelahan dengan Kaka Bayu, sambil menghadap perkebunan teh yang terhampar hijau dan luas.

"Kamu suka kopi?" Kak Bayu bertanya dan aku menggeleng.

"Suka teh?" tanyanya lagi dan aku juga menggeleng.

Kak Bayu mengernyit. "Terus apa?"

"Sukanya kamu," balasku genit.

Kak Bayu tertawa dan mengacak rambut bagian atasku. "Kakak serius, Fai. Soalnya di sini pas banget buat ngopi," jelas Kak Bayu.

"Aku pesan susu coklat saja, Kak."

Kak Bayu mengangguk lalu memesannya. Tak lama minuman pesananku dan Kak Bayu lalu disuguhkan.

Aku menggosokkan kedua telapak tangan. Sudah agak siang, tapi kabut masih menyelimuti. Membuatku merasa sedikit kedinginan.

"Kamu kedinginan?" tanyanya seraya menoleh.

Aku menggeleng cepat sambil tersenyum.

Kak Bayu merapatkan duduknya di sampingku. Ia merangkul pundakku, menuntun kepala ini bersandar langsung di bahunya. "Jangan bohong, Fai. Kakak lihat dari tadi kamu menggosok telapak tangan terus."

Aroma maskulin menguar saat aku sangat dekat dengannya seperti ini. Aku ragu, tapi kucoba beranikan untuk melingkarkan tanganku di pinggangnya. Aku tidak menjawab ucapannya, aku hanya memejam, mengendalikan debaran jantung yang tak beraturan.

"Fai?" panggilnya.

Sontak aku membuka mata. "Ya, Kak?"

"Kamu sering ke sini?"

Aku menggeleng. "Ini kedua kalinya."

"Kamu tidak suka tempat seindah ini?"

"Bukan, tapi kesini butuh waktu 2 jam, Kak. Jadi, aku sama temanku lebih sering ke bioskop, ke caffe atau mall."

Kak Bayu manggut-manggut. "Kalau Kakak ajak kesini lagi, kamu mau?"

"Maulah, Kak!"

"Suami kamu gimana, Fai?"

"Gimana apanya maksud Kakak?"

"Ya, apa dia curiga dengan hubungan kita?"

"Mau curiga. Mau dia tau sekalipun. Aku gak peduli, Kak. Malah kalau dia tau dan mengakhiri pernikahannya denganku, itu lebih bagus, Kak."

"Kenapa tidak kamu menggugatnya saja?"

Aku menggeleng. "Tidak bisa, Kak. Perjodohan dan pernikahan ini, semuanya wasiat Ayah. Apalagi kedua abangku, sangat mendukung pernikahan ini."

"Apa kamu nyaman dengan hubungan diam-diam kita ini, Fai?"

Aku mengangguk cepat. "Tentu. Aku bahagia bisa bersama Kakak."

Kak Bayu mengeratkan pegangan di pundakku dan menyenderkan kepalanya di kepalaku.

°°°°°°°°°

Aku pulang malam hari. Seperti biasa, Kak Bayu menurunkanku di tepi jalan raya, jauh dari gapura perumahan tempatku tinggal.

Aku masuk ke dalam rumah. Ghifari sedang duduk di sofa ruang tamu. Ia menatapku tetapi aku tidak peduli dengan keberadaannya.

"Dari mana saja, Dik?" Aku yang tengah berjalan menuju kamar, berhenti sebentar mendengar pertanyaan darinya.

"Bukan urusanmu!" jawabku singkat dan kembali melangkah.

"Dik …." Panggilnya lagi tanpa kupedulikan.

Sesampainya di dalam kamar, aku langsung mandi, berganti pakaian dan merebahkan tubuh di atas tempat tidur.

Pikiranku kembali mengingat saat tadi bersama Kak Bayu dan membuatku senyum-senyum sendiri.

Ah mimpi indah untuk malam ini.

Oleh: Sity Mariah

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cerbung: Istri Keduaku ( Bag 5 )

Terkini

Iklan

Close x