Iklan

Iklan

Cerbung: Istri Keduaku ( Bag 8 )

1/07/22, 18:39 WIB Last Updated 2022-01-07T11:39:00Z

 Hari Minggu pagi. Aku dan Fidelya akan pergi ke panti. Fidelya masih berkemas, aku menunggunya ditemani secangkir kopi latte yang hangat. Menyesap wangi kopi tersebut lalu menyeruputnya seketika. Nikmat sekali.

Bi Marni lalu menghampiriku, sesaat setelah tadi menghidangkan kopi, aku memintanya segera kembali. Aku kemudian menaruh cangkir kopi di atas meja.

"Bi, kubur ini pada saat menjelang magrib nanti dekat pagar! Saya dan Fidelya kemungkinan akan menginap di panti!" Aku memberikan bungkusan berwarna putih pada Bi Marni.

"I—ni apa, Den?" tanya Bi Marni ingin tahu.

"Sudah, Bibi gak perlu tahu! Pokoknya, saat menjelang magrib nanti, kubur saja itu. Kalau tidak, nanti Anjani bisa pindah tidurnya ke kamar Bibi!" jelasku.

Bi Marni terlonjak. "Ja—jangan, Den! Bibi takut."

"Nggak perlu takut, Bi! Makanya nanti Bibi kubur saja bungkusan itu, biar semua aman!" titahku. Bi Marni hanya mengangguk.

"Bibi juga harus pastikan, Anjani tidak kelaparan, Bi!"

"Iya, Den!"

Aku mengangguk puas dengan jawaban dari Bi Marni. Aku pun sudah berpesan pada penjaga, agar tidak menerima tamu selama aku tidak ada di rumah.

Fidelya keluar dari dalam kamar dengan dua koper di tangannya. Satu koper kecil dan satu koper besar. Fidelya selalu antusias jika akan pergi ke panti seperti sekarang ini.

Aku dan Fidelya lantas keluar dari rumah menuju mobil. Aku memasukkan koper tadi ke dalam bagasi kemudian duduk di kursi kemudi.

"Bi, kami pergi ya," pamit Fidelya pada Bi Marni.

"Iya, Nyonya. Hati-hati!" balas Bi Marni.

Aku melajukan mobil keluar dari halaman rumah. Rumahku berada di kawasan perumahan elite. Rumah yang sudah aku tinggali selama lima tahun bersama Fidelya. Meski hanya satu lantai, tapi rumahku sangat luas begitu pula dengan halaman depan dan sampingnya yang ditumbuhi banyak pohon dan tumbuhan.

Warga sekitar perumahan tempatku tinggal termasuk cuek. Tidak begitu peduli terhadap sesama. Lima tahun aku dan Fidelya tinggal di perumahan elite ini, aku tidak begitu mengenal siapa saja tetangga rumahku.

Jarak rumah menuju panti cukup jauh. Butuh lima jam perjalanan untuk sampai ke panti. Itulah sebabnya saat ke rumahku, Lukman terpaksa kuizinkan menginap karena hari sudah beranjak malam. Tidak mungkin aku membiarkannya pulang malam hari dengan menempuh perjalanan selama lima jam.

Akhirnya aku dan Fidelya sampai di panti. Aku memarkirkan mobil di halaman panti yang luas. Di teras luar, anak-anak tengah bermain.

Aku dan Fidelya lalu turun dari mobil. Aku mengeluarkan dua koper dari bagasi lalu melangkah masuk ke dalam panti.

Fidelya mengucap salam. Ternyata di dalam, Ibu sedang bersama Nabila, istri Lukman. 

Aku bersimpuh di kaki Ibu yang sekarang duduk di kursi roda dan memeluknya begitu juga Fidelya.

Ibu membingkai wajahku. "Nuka? Fidelya? Kalian baik-baik saja, Nak?" tanya Ibu tidak percaya.

Aku mengangguk. "Aku baik, Bu!" ucapku seraya menciumi punggung tangan Ibu.

"Fidelya juga baik, Bu! Maaf kami baru bisa kemari, ya, Bu!" ujar Fidelya.

Ibu mengangguk. Matanya berkaca-kaca. "Ibu senang kalian datang. Ibu rindu sekali dengan kalian."

Aku kembali memeluk Ibu. Meski hanya Ibu panti, tapi kasih sayang Ibu selalu tulus untuk semua anak-anaknya.

***

Aku duduk di teras loteng. Dari sini, aku bisa melihat anak-anak panti tengah bermain di bawah sana. Anak laki-laki dan perempuan, berbaur menjadi satu. Mereka tampak begitu riang. Didampingi dua orang pengawas panti. Fidelya pun ikut bergabung sembari memberikan hadiah yang sudah disiapkannya.

Sementara Ibu, harus beristirahat jika siang hari seperti sekarang. Kesehatannya yang semakin menurun, membuatnya tak bisa lagi leluasa bergerak seperti dulu.

Melihat anak-anak panti, membuat ingatanku ikut terlempar pada saat dulu tumbuh dan besar di panti ini.

Panti yang selalu menerapkan hidup disiplin, membuatku menjadi orang yang menghargai waktu. Membentuk pribadiku, menjadi orang yang selalu bersungguh-sungguh saat mengerjakan sesuatu.

Sampai akhirnya aku bisa seperti sekarang, menjadi owner dari sebuah pabrik. Aku yang tidak pernah main-main dalam meraih sesuatu, membuatku berhasil memiliki pabrik seperti sekarang.

Pabrik yang memproduksi sandal dan sepatu berbahan kulit asli. Mulai dari bagian sol hingga aksesorisnya, aku selalu memakai bahan dengan kualitas terbaik.

Pabrik yang sudah berjalan lima tahun, berhasil aku pertahankan. Meski sekarang, aku menggunakan bantuan Anjani dalam menjalankannya. Itu bukan masalah bagiku. Asalkan pabrik dapat bertahan, apapun pasti aku lakukan.

Setahun ke belakang, pendapatan pabrik merosot tajam. Dua mobil dan satu rumah bahkan rela aku jual agar pabrik tetap bisa beroperasi. Bukan balik modal, barang justru macet dikeluarkan. Jangankan untung, pendapatan pabrik justru semakin tidak jelas.

Ketika itu, aku berada di titik paling putus asa. Sempat terbersit untuk menutup pabrik jika begitu terus. Hardi pun pernah memberi usul, agar pabrik menurunkan standar produksi. Membuat sandal dan sepatu yang dapat dijangkau kaum menengah ke bawah.

Namun tidak aku gubris. Itu bukan target pasarku. Target pasarku adalah kaum elite menengah ke atas yang memiliki standar penampilan yang tinggi.

Hingga akhirnya aku yang ketika itu mencari ketenangan di kafe, tidak sengaja mendengar obrolan orang asing yang duduk di kursi belakangku. Obrolan tentang pernikahan dengan makhluk halus yang dapat memberikan kekayaan dengan cepat.

Obrolan itu menyita perhatianku. Sehingga Hardi kupaksa untuk mencari tahu kebenaran hal tersebut. Akhirnya, Hardi berhasil. Dia membawaku ke kaki gunung yang ada di kampung halaman istrinya di daerah paling timur. Tempat yang jauh dari rumah penduduk lain. Dan terjadilah pernikahanku dengan Anjani, setelah sebelumnya aku melakukan ritual mandi kembang tujuh rupa. Pernikahan yang dilakukan tepat di saat bulan purnama tengah bersinar terang.

Seperti sekarang inilah hasilnya. Pabrik mulai stabil. Orderan masuk kembali banyak. Bahkan mulai dilirik pasar luar. Benar-benar menakjubkan.

Kemungkinan aku menginap dua hari di panti ini. Selama aku tidak di rumah, Anjani pasti akan berubah setiap malam. Maka dari itu, Bi Marni kuperintahkan mengubur bungkusan yang isinya gulungan rambut kusut milik Anjani. Dengan begitu, Anjani tidak dapat keluar dari area rumahku selama aku tidak ada di rumah.

Fidelya tidak pernah tahu Anjani sebenarnya. Fidelya hanya tahu kalau Anjani merupakan anak dari partner bisnisku yang ditinggal pergi oleh tunangannya saat pernikahan sudah mendekati hari-H. Aku diminta menggantikan mempelai pria yang kabur untuk menutupi malu keluarga Anjani. Aku bilang saja, kalau Ayah Anjani sampai meninggal karena pernikahan Anjani yang sampai batal. Sebagai imbalannya, aku diberikan warisan peninggalan Ayah Anjani.

Aku pun mengatakan kalau pabrik memang sedang benar-benar membutuhkan modal yang besar agar tidak sampai gulung tikar. Fidelya percaya, sehingga pernikahan beda alam antara aku dan Anjani pun terlaksana.

Entah bagaimana reaksi Fidelya andai dia tahu siapa Anjani itu sebenarnya. Tapi, aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Fidelya tidak akan pernah mengetahui siapa Anjani sebenarnya. 

Oleh: Sity Mariah

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cerbung: Istri Keduaku ( Bag 8 )

Terkini

Iklan

Close x