Iklan

Iklan

Cerbung: Acara Pembagian warisan ( Bag 9 )

12/09/21, 20:37 WIB Last Updated 2021-12-09T13:37:00Z

 Karena orang tim HRD ini jadi bingung dan kagok, akhirnya dia menyuruhku untuk segera ke ruangannya Haris.


"Oh, iya, Bu Dinda, segera diminta Pak Haris kedalam ya, Bu. Kalau bisa sekarang," ujarnya secepat mungkin mengalihkan pembicaraan soal pertanyaan Kak Mery tadi.

"Ok, baik. Saya segera ke ruang Pak Haris," ujarku pura-pura sibuk.

"Kak, Dinda duluan ya? Makasih lho Kak Reva udah traktir Dinda. Duluan ya!" pamitku pada mereka yang masih melongo dan penasaran.

Ku tinggalkan segera kantin pabrik ini, dan bergegas menuju ruangan Haris.

Sesampainya disana, ku sampaikan pada semua tim HRD, agar menyembunyikan identitas-ku dan Mas Arya sebagai pemilik pabrik. Tapi mengenalkan kami pada karyawan lain sebagai tenaga kontrak bidang desain. 

"Tolong ya, semuanya. Jangan sampai keceplosan kalau saya adalah pemilik pabrik ini. Bukannya apa-apa, disini ada saudara dari suami saya yang bekerja, khawatir mereka nanti tidak profesional. Dan ada beberapa alasan lain yang tidak bisa saya sampaikan pada kalian. Faham, ya?!" ujarku pada semua staf penting diruangan ini. 

"Baik, Bu Dinda. Kami paham!" sahut mereka serentak.

Setelah urusan ini selesai, aku dan Haris menemui tamu yang kedatangannya tertunda dari pagi tadi.

Kami membahas produk-produk unggulan dari pabrik ini yang akan dikeluarkan saat launching pekan depan. 

Tamu khusus ini menyukai desain sepatu buatanku, mereka juga menawarkan desain yang telah kubuat agar ditambah ornamen dan warnanya menjadi lebih bagus, lux dan elegan. 

Alhamdulillah semua berjalan lancar, dan tinggal dieksekusi sama tim pabrik.

* * * 

Sepulang dari pabrik, aku membagikan file gambar sepatu yang tadi kami rancang kepada Mas Arya. Karena Mas Arya sebelum jam makan siang tadi sudah berangkat menuju kantor tempat ia bekerja. Mas Arya sungguh terpesona dengan desain yang aku perlihatkan.

Lagi asik melihat desain sepatu, tiba-tiba gawai Mas Arya bunyi, ada panggilan masuk.

[Assalamualaikum, Mas] 

[Waalaikumsalam. Kamu dimana? Dirumah?]

[Dirumah, Mas. Ada pa ya?]

[Tadi Mery cerita, katanya sudah punya mobil baru? Bener emang?]

[Oh, itu. Iya Mas Aji, soalnya perlu buat keluarga,]

[Abis dong, uang warisan kalo beli mobil bagus begitu?]

[Hmm ... emangnya kenapa Mas Aji tanya ya? Arya bingung jadinya, Mas?]

[Ya gak, sih. Mas tadinya mau pinjem uang sama kamu. Eh, udah abis itu pasti uangnya!]

[Minjem uang, buat apa, Mas? Bukannya Mas Aji uangnya udah banyak? Hehe]

[Ini, si Mery minta mobil juga. Ya kalau bisa pinjem uang kamu, ya pakek dulu maksudnya. Uang Mas Aji ada, tapi buat perlu yang lain. Kamu ada gak simpenan? Sini Mas pinjem dulu! Mery rewel minta mobil juga!]

[Oh kalo itu, Arya ga punya Mas. Maaf ya?]

[Ya sudah, gak papa. Tapi jangan bilang-bilang sodara yang lain ya, Mas telpon kamu!]

[Sip, beres Mas. Tenang aja]

Panggilan dari Mas Aji akhirnya berakhir. Mas Arya terlihat narik napas dalam lagi, seolah bingung dengan ulah kakak-kakaknya itu.

Aku kadang tidak habis pikir dengan pemikiran ipar-iparku itu. Sudah memandang kami sebelah mata, tapi seenaknya juga mau pinjam uang.

Padahal uang ada katanya? Atau minimal minjam sama sodara Mas Arya yang lain yang dia anggap berada.

Haduh, tidak habis-habis kalau dipikirkan terus. 

* * * 

Keesokan harinya, Mas Tyo dan Kak Riri datang kerumah. Biasanya mereka enggan sekedar mampir sebentar, tapi kali ini mereka berlama-lama dirumah kami.

"Mas pikir, rumah kecil ini pasti gak nyaman gitu, Din. Eeeh, pas masuk, apik juga tatanan didalamnya. Adem, nyaman, lumayan lah!" ujar Mas Tyo.

Aku menanggapinya dengan senyuman saja, biarlah mereka berkomentar.

"Iya sih, Pa. Lumayan nyaman ternyata. Perlengkapan dapurnya Dinda bagus kok. Lengkap, walau minimalis. Kamu rajin masak ya, Din?" tanya Kak Riri menimpali.

"Oh, gak juga Kak. Kalau lagi weekend sih iya, Dinda  masak sendiri," jawabku biasa saja.

"Trus, kalo gak weekend, gak masak?" tanya Kak Riri lagi.

"Jarang, Kak. Kalo lagi gak sibuk Dinda masak. Tapi kalo lagi ada kerjaan, yang masak Mbak Asisten. Soalnya, anak-anak kurang suka jajan, lebih milih makan dirumah," jawabku lagi.

"Mbak Asisten? Kamu punya ART juga? Hebat dong!" kata Kak Riri.

"Ya gitu deh, Kak," aku masih aja kikuk kalo Kak Riri sudah nanya hal-hal yang diluar dugaannya.

"Oh iya, ngomong-ngomong Arya mana Din?" tanya Mas Tyo.

"Masih dikantor, Mas. Bentar lagi juga pulang. Mas Tyo libur ya hari ini?" jawabku.

"Gak, Mas ambil cuti tiga hari. Sayang aja jatah cuti gak diambil. Oh iya, kedatangan Mas sama Riri kemari, mau mengembalikan uang yang tempo hari kita pinjem," ujar Mas Tyo.

"Iya Din, ini uangnya. Coba dihitung dulu ya? Makasih lho, udah bantuin waktu itu!" Kak Riri menimpali.

"Ya Allah, MasyaAllah ... makasih ya Kak, Mas. Jadi repot sampai dianterin segala. Padahal bisa hubungi kita kok, tar Mas Arya yang kesana," aku sedikit kaget, ternyata mereka masih ingat dengan hutangnya. 

Kak Riri menyerahkan bungkusan warna coklat kepadaku, aku menerimanya dengan senang hati.

Tak lama, Mbak Asisten datang memberikan minuman ke meja tamu.

Aku mempersilahkan mereka untuk minum.

Tak lama, tiba-tiba datang pula Mas Aris dan Mas Aji kerumah.

Ada apa ini? Tiba-tiba pada datang semua kerumah. Semoga Mas Arya segera pulang.

"Lha? Kok Tyo disini juga?" tanya Mas Aris kaget ketika masuk sudah ada adiknya, Mas Tyo.

"Dari tadi Tyo, Mas," ucap Mas Tyo seraya mencium tangan kedua kakaknya itu. Aku dan Kak Riri ikut menyalami pula mereka berdua.

"Silahkan duduk, Mas Aris, Mas Aji," ucapku sambil mempersilahkan mereka duduk.

"Tumben pada kerumah Arya, ada apa nih!" tanya Mas Tyo cengengesan.

"Lha, kamu sendiri ngapain ke rumah Arya?" kata Mas Aji.

"Silaturahim dong, Mas ..." jawab Kak Riri terlihat malas.

"Arya belum pulang ya, Din?" tanya Mas Aris padaku.

"Belum Mas, bentar lagi kayaknya sampai," jawabku.

Mbak Asisten kedepan lagi mengantarkan minuman baru untuk saudaranya Mas Arya yang baru datang, akupun langsung mempersilahkan mereka untuk minum.

Aku sebenarnya bingung mau bicara apa dengan mereka ini, takut salah omongan juga. Apalagi sepertinya, saudara Mas Arya kemari pasti ada tujuan penting atau apalah aku masih belum bisa menerka.

"Begini, Dinda ...." Akhirnya Mas Aris memulai pembicaraan juga.

"Reva bilang, kamu dan Arya dapat posisi bagus di pabrik sepatu yang baru itu, ya? Kalau memang benar, coba deh, tolong di nego ya sama manejer pabriknya? Mas mau ikut investasi di pabrik itu," sontak saja aku kaget, karena ini hal yang tidak biasa mereka katakan.

"Nah, kalo Mas Aji sih, Din, mau pinjam mobil nya Arya. Bisa gak?" lanjut Mas Aji tanpa rasa malu ataupun segan.

"Lho lho lho! Ada apa ini? Kok pada minta tolong semua sih?" Mas Tyo tiba-tiba bereaksi tak suka pada kedua kakak nya itu.

"Ini kan urusan kita sama Dinda dan Arya, Yo! Jadi gak usah ikutan," jawab Mas Aji tak suka pula.

"Ya bukan begitu, kalo urusan Mas Aris sebaiknya datang aja langsung ke pimpinan pabrik, beres kan! Kalo Mas Aji, ngapain pinjem mobil Arya segala? Kan sudah punya mobil? Duit warisan kan masih ada, beli atau tukar tambah sono gih, ngapain jadi minjam mobil orang!" Mas Tyo mulai sewot.

"Ya terserah aku dong, soalnya Mery sibuk minta mobil. Dari pada beli baru, mending dia pake mobilku yang lama, trus aku pake mobil Arya dulu," dengan santai Mas Aji menjawab.

"Ya ampuuuun, mau gaya kok make mobil adiknya sih, Mas Aji .... Beli baru dong, kan kasian Arya sama Dinda gak pake mobil sendiri, malah dipake Mas Aji. Duh! Terlalu!" jawab Kak Riri sambil geleng-geleng kepala dan tepuk jidat.

"Lha itu apa? Uang ya Din? Sini Mas pake aja dulu!" sambil tangannya mengambil amplop coklat berisi uang pemberian Mas Tyo tadi untuk bayar hutang padaku.

"Eehh, jangan!" amplop itu diambil lagi oleh Mas Tyo.

"Kok kamu yang ngelarang sih, Yo? Itu Dinda nya aja gak masalah! Kamu mau minjem juga ya? Ngaku? Katanya berduit, malah kemari minjem uang juga!" seru Mas Aji nyindir.

"Enak aja! Itu uang kita tau, Mas! Buat bayar hutang sama Dinda! Sembarangan aja, ini Din, simpen. Jangan sampe ada yang minjem!" ujar Kak Riri sambil mengambul amplop itu dari suaminya dan langsung menyerahkannya padaku.

"Jadi, kalian pernah minjam uang sama Dinda?! Berarti benar, kalau Dinda sama Arya sebenarnya punya uang banyak?!" tanya Mas Aji kaget dan penuh dengan rasa penasaran.

Bersambung ...

Oleh:  Nurtila Kencanaa

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cerbung: Acara Pembagian warisan ( Bag 9 )

Terkini

Iklan

Close x