Iklan

Iklan

Cerbung: Acara Pembagian warisan ( Bag 8 )

12/08/21, 20:36 WIB Last Updated 2021-12-08T13:36:00Z

 Rasanya tak perlu khawatir mengatakan sebuah kebenaran, apapun nanti reaksi yang akan Kak Mery lontarkan. Toh bukan urusanku untuk menjawab sedetil-detilnya.


"Beneran itu mobil kamu, Din?!" tanya Kak Mery lagi berulang.

"Iya, Kak. Gak sengaja juga mau beli, tapi akhirnya jadi beli. Udah ya, Kak. Dinda udah ditungguin Pak Haris. Dinda permisi," jawabku, segera berlalu dihadapan Kak Mery yang bola matanya masih mencoba  menerka dan mulutnya yang membulat seraya berpikir keras.

Saat tiba di ruangan Haris, ternyata Mas Arya sudah lebih dulu mengobrol.

"Tumben Ma, lama kemarinya?" tanya Mas Arya.

"Biasa, ketemu Kak Mery. Oh iya, Pa. Ini kunci mobilnya, tadi Pak Suryo kemari balikin mobil," kataku sekenanya.

"Lho kok, bisa?" tanya Mas Arya.

Aku menceritakan kejadian tadi di samping aula pabrik, Mas Arya hanya tepuk jidat dan senyum-senyum saja. 

"Maaf Bu Dinda, tamu kita hari ini tidak jadi hadir jam pagi. Katanya mendadak tetangga sebelah rumahnya lagi ada musibah, lalu kembali lagi ketika sudah dalam perjalanan ke pabrik. Tapi nanti siang kemungkinan bisa hadir lagi, setelah acara tetangganya kelar." jelas Haris.

"Oh begitu ... ya sudah Pak Haris, tidak apa-apa. Oh iya, saya sudah kirim beberapa sketsa sepatu ke email pak Haris ya. Nanti coba dilihat-lihat dulu, boleh dikasih saran ya Pak Haris. Mana tau ada yang kurang pas desainnya untuk brand pabrik kita. Sebelum tamu kita datang lagi melihatnya," ujarku pada Haris.

"Baik, Bu. Nanti saya lihat desainnya."

"Oh iya lupa, Pak Haris, jadwal pembagian seragam hari ini atau besok? Tadi saya cek, ada beberapa yang sudah memakai seragam?" tanya Mas Arya.

"Sudah Pak. Tinggal karyawan bagian produksi dan packing yang hari ini dibagikan. Mereka sudah dikumpulkan oleh tim HRD di aula samping," jelas Haris.

"Ooooh, yang rame-rame di aula tadi itu ya? Pantesan saya cuma liat Kak Mery, Kak Reva malah gak ada," kataku.

"Kak Reva tadi Papa sudah ketemu, Ma. Dia kan bagian administrasi kantor, jadi udah duluan pakai seragam," kata suamiku.

Alhamdulillah, hari ini akan dimulai pembekalan untuk semua karyawan. Minggu depan sudah bisa launching pembukaan pabrik, semoga semua berjalan dengan baik dan lancar.

* * *

Setelah beberapa hari pembekalan semua karyawan, semua berjalan dengan baik. Skill masing-masing sudah mulai terlihat dan perlahan mulai cekatan. Karena ada target harian untuk karyawan pembuat sepatu, jadi semaksimal mungkin karyawan mengambil posisi senyaman mungkin dalam memproduksi sepatu. Tidak lain agar mereka selalu nyaman dalam bekerja dan hasilnya maksimal.

Saat makan siang, tak sengaja ketemu dengan Kak Reva.

"Kak Reva!" panggilku.

"Eh, Dinda? Mo kemana?" tanya Kak Reva.

"Makan siang yuk, Kak. Dinda laper nih," 

"Hayulah, ini Kakak memang mau ke kantin juga, kok." 

Akhirnya kami berdua makan di kantin pabrik. 

"Gimana kerjaannya Din, hari ini? Beres desainnya?" tanya Kak Reva.

"Lumayan Kak, hehe. Tinggal matching-in warna sih, lagi konsul sama ahlinya."

"Kakak sendiri gimana?" tanyaku pula pada Kak Reva.

"Aman sih sejauh ini, kan Kakak pernah di administrasi juga dulu di kerjaan lama. Tinggal menyesuaikan aja dengan bidang pabrik. Pak Haris juga enak orangnya, dia mengarahkan kita-kita dengan baik. Kakak yakin, walau ini pabrik baru, besok-besok bakal maju dan terkenal deh!" seru Kak Reva semangat.

Alhamdulillah, aamiin, batinku. Senang rasanya punya karyawan kayak Kak Reva, pikirannya maju.

Tak lama setelah  makan siang di piring hampir habis, tiba-tiba Kak Mery menghampiri kami.

"Pada makan berdua aja sih, aku gak diajakin!"

"Yaudah sini duduk, atuh Mery! Sok atuh, pesen makannya. Tar biar aku yang bayarin," jawab Kak Reva dengan senang.

"Beneran nih, Kak Reva?" kata Kak Mery meyakinkan.

"Bener! Udah sana pesen!" jawab Kak Reva lagi.

Kak Mery akhirnya memesan makanan pada pelayan kantin. Lalu kami mengobrol sambil melanjutkan makan.

"Eh, Dinda! Beneran itu mobil punya kamu? Punya Arya kali! Kan yang dapat warisan si Arya, bukan istrinya," lagi-lagi Kak Mery bahas itu.

"Mobil yang waktu acara syukuran dirumah Riri? Aku mah percaya aja Dinda ma Arya yang punya," dengan santai Kak Reva menanggapi.

"Yang ditanya diem aja! Bener kan Din, itu mobil Arya? Bukan mobil kamu pastinya, kan?" Kak Mery ngulang bertanya.

"Lagian, kalo memang itu mobil Mas Arya kenapa, Kak? Kan sama juga mobil nya Dinda juga," duh, kayaknya aku salah memilih kata-kata.

Kak Mery kan beda sendiri, dia ngerasa uang suami ya uang suami, sementara uang istri ya yang dikasih seadanya oleh suami. Tepuk jidat!

"Pake tepuk jidat segala lagi Dinda! Ya beda lah! Berarti itu mobilnya Arya, kamu mah cuma nebeng aja! uang dari mana coba kalo kamu yang beli itu mobil?" kata-kata itu seolah senjata buatku agar down. Dasar Kak Mery!

"Iyaa deh, iyaaa! Kak Mery bener!" jawabku udah mulai ngasal.

"Lha iya lah? makanya jangan asal nge-klaim punya kamu Dindaaaa! inget punya Arya!" jawab Kak Mery sembari mengejek.

"Eh, Mery. Dengerin ya! Walaupun itu pake uangnya Arya, Dinda tetap bisa memakainya, karena Arya sayang sama keluarganya, agar gak kedinginan, gak kehujanan, tah eta apa lagi dan sebagainya! Jadiiii, suami membeli sesuatu, ya pasti buat anak istrinya lah! Kumaha Mery ihh!" Kak Reva mulai gregetan.

Aku nahan ketawa, pengen dilepas takut Kak Mery tambah jutek.

"Yang jelas bukan pake uangnya Dinda! Karena Dinda gak mungkin punya uang!" dengan tegas ucapan itu Kak Mery lontarkan, tentu sambil menelan makanannya yang cepat sekali habis dalam sekejap.

"Eleh-eleh! Dinda mah cerdas malah kubilang atuh Mer! Uangnya dia bisa aman gak keluar. Udah ah Mer, ngomongin harta mulu. Emang kamunya dikasih berapa warisan kemarin?!" tanya Kak Reva.

"Ngeliatnya aja gak bisa Kak, tuh warisan! Gimana mau dikasih ..." jawab Kak Mery lemes tapi nadanya kesal.

"Nah, sama dong ma aku! Mas Aris gak ngasih apa-apa! Hahahaha!" Kak Reva ketawa lepas.

Tepatnya merasa ada teman yang sama punya suami pelit. Aku jadi nyengir kuda, kasihan sama kedua kakak ipar ku ini.

"Bu Dinda? Kok makan disini?! Kan tadi Pak Haris sudah pesankan makan siang buat Bu Dinda dan Pak Arya? Soalnya tamu kita datangnya juga siang, jadi sekalian dijamu, Bu," tiba-tiba salah satu tim HRD melihatku makan di kantin.

"Oh, gak papa, Pak. Saya lagi pengen makan di kantin aja, hehe," jawabku mulai kikuk.

"Pak HRD, kok Dinda dan Arya saja yang dapat makanan dari kantor? Kok saya dan karyawan lain enggak? Gak adil nih!" Kak Mery mulai sewot.

"Lha, kalo yang punya pabrik kan wajar Bu dapat makan siang gratis dari kantor," jawab Tim HRD keceplosan.

"Hah! Emang Dinda sama Arya yang punya ini pabrik?!" dengan antusias Kak Mery bertanya, dan Kak Reva juga mulai melongo menunggu jawaban.

Aku langsung kasih kode tutup mulut pake jari telunjuk pada karyawan HRD ini, bisa-bisanya dia lupa dengan identitas-ku. Duh, tepuk jidat lagi!

Susah memang menutupi jati diri selaku owner, aku dan Mas Arya yang dipandang sebelah mata oleh ipar dan saudara-saudaranya, jadi sedikit tertutup soal ini. Apa mungkin sudah saatnya diberitahu?

Bersambung ...

Oleh:  Nurtila Kencanaa

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cerbung: Acara Pembagian warisan ( Bag 8 )

Terkini

Iklan

Close x