Iklan

Iklan

Cerbung: Acara Pembagian warisan ( Bag 7 )

12/07/21, 20:35 WIB Last Updated 2021-12-07T13:35:00Z

 "Ibu Susmery! Mohon silahkan tinggalkan tempat ini, dan kembali lagi besok temui saya di ruangan HRD," ujar salah satu tim HRD nya Haris, ia begitu geregetan dengan sikap Kak Mery yang ceplas-ceplos tanpa liat situasi.


"Ta–tapi, Pak. Kan saya hanya mengingatkan Pak Manejer supaya jang ..." lanjut Kak Mery bela diri.

"Stop! Gak ada tapi, silahkan! Pak Patriaji juga, silahkan!" tim HRD yang geram langsung meminta Kak Mery dan Mas Aji keluar dari sini.

"Huh! Curang!" gerutu Kak Mery padaku.

Setelah mereka berdua keluar, Haris dan Tim HRD nya meminta maaf padaku dan Mas Arya. 

Aku sampaikan pada mereka, tolong dikaji ulang untuk menerima Kak Mery jadi karyawan disini. Bukannya apa-apa, satu pabrik bisa kacau balau nanti, apalagi jika tau aku dan Mas Arya adalah pemilik pabrik sepatu ini. 

Aku menyarankan agar di kasih peringatan saja dulu, jika masih bersikap kurang baik, maka cukupkan saja statusnya sebagai karyawan pabrik. Alhamdulillah Haris mengerti. 

* * * 

Setelah selesai semua kerjaan di pabrik, aku diantar pulang sama Mas Arya, dan Mas Arya sendiri langsung ke kantor tempatnya bekerja karena ada berkas yang harus diambil. Baru setelahnya ia pulang kerumah.

Saat dirumah, aku luangkan waktu untuk mencoba membuat desain sepatu sendiri. Mana tau cocok dan bisa dipakai nantinya untuk produk pabrik sendiri. 

Lagi asik mendesain, tiba-tiba grup aplikasi warna hijau keluarga berbunyi tak henti-henti. Aku yang penasaran langsung membukanya.

[Alhamdulillah keterima jadi tim bagian administrasi di kantor pabrik sepatu 'ARDI', semoga bisa ikut mengembangkan pabrik ini nantinya. Makasih Mas Aris suamiku atas dukungannya, jadi dapat kerjaan lebih bagus deh!] pesan Kak Reva terkirim ke grup.

Aku tahu maksud Kak Reva mengirim pesan itu, tidak lain adalah menyindir Mas Aris suaminya. Suaminya yang terkenal pelit pada istri. 

[Semoga aja betah Kak Reva. Aku sih gak ambil tadi, tepatnya ku tolak!] sambung Mas Aji, sombong tepatnya.

[Syukur deh, Ma, kamu keterima. Jadi Papa gak perlu kasih uang bulanan lagi.] balas Mas Aris pada chat Kak Reva.

[Hahahaha! Kayak dari dulu pernah ngasih aja sih Mas Aris, bukannya gak pernah ngasih memang?! Hahahaha!] Ledek Kak Mery menimpali chat Mas Aris.

[Aku dong! Keterima juga di Pabrik Sepatu 'ARDI'. Papa gimana nih, kerjaan lama gak jelas, dapat kerjaan baru di tolak!] sambung Kak Mery lagi di grup.

[Kerjaannya banyak gitu, gaji cuma tiga jutaan! Gak sebanding!] balas Mas Aji.

[Tapi tetep ya, Pa! Tiap bulan jangan stop jatah Mama! Mama gak mau tau.] lanjut Kak Mery membalas chat suaminya.

[Iya! Ini kan Papa lagi diluar sama temen, mau ada proyek besar. Tenang aja, Ma! Gaji kamu di pabrik itu mah kecil ...] balas Mas Aji lagi.

[Ya ampun ... para pekerja pabrik sepatu lagi pada rame nih!] sahut Kak Novi tiba-tiba di grup keluarga.

[Eehh, jangan gitu atuh Nov! Dukung kali sodaranya pada dapat kerja,] balas Kak Reva.

[Songong nih Novi! Mentang-mentang Riko kerjaan nya udah enak!] balas Kak Mery.

[Sory-sory! Novi gak maksud begitu kakak-kakak pekerja pabrik ... hehehe. Selamat ya pada keterima!] masih saja Kak Novi dengan nada mengejek di grup.

[Itu pabrik baru, kayaknya punya orang kaya deh, soalnya bisa nampung banyak karyawan baru. Salut!] Mas Riko ikut komentar di grup.

[Masih keren-an Papa, dong Pa .... Kan Papa di BUMN, gajinya lebih gede,] balas Kak Novi, menyombongkan diri.

[Tapi tetap aja kerja sama orang, alias sama-sama karyawan kita, Riko! wkwkwkwk] ledek Kak Mery.

[Beda dong, Kak Mery. Ih, gimana sih, gak ngerti banget deh. Pabrik ya di pabrik, BUMN ya di kantoran lah!] Kak Novi jadi sewot.

[Sama kali! Sama-sama di gaji, Riko kan gak bisa gaji karyawan. Jadi sama lah itu, pekerja!] Mas Aris nimpalin. Diikuti emoticon tertawa oleh yang lainnya.

[Selamat ya, Kak Reva dan Kak Mery,] Mas Arya tiba-tiba nimbrung di grup.

[Arya nih, yang parah! Dinda juga! Main belakang sama manejer pabrik!] Kak Mery mulai nyinyir.

[Maksudnya?] Kak Reva bingung.

[Tadi kepergok aku sama Mas Aji di pabrik, lagi ngobrol sama Pak Manejer, mau main belakang itu pasti biar keterima tanpa tes! Huh, curang!] balas Kak Mery, bikin aku kesal jadinya. 

[Kamu daftar juga, Din?] Kak Riri tiba-tiba nongol di grup.

[Gak, Kak. Hanya ketemu teman lama aja, Manejer pabrik itu teman Dinda dulu sama Mas Arya juga. Ini dia minta desain sepatu ke kita, jadi ya ... ketemu deh di pabrik] jawabku berbohong.

[Heleh! Mana ada!] Kak Mery kekeh.

[Wah, bisa berangkat kerja bareng dong kita nanti, Din!] balas Kak Reva antusias.

[Iya kak, bisa, hehe] balasku kikuk.

[Hmmm ...] Kak Riri seperti memikirkan sesuatu.

[Hmm, kenapa, Ri! Gak percaya juga kan sama Dinda?] lanjut Kak Mery tetap dengan pendiriannya bahwa aku main belakang sama HRD masuk kerja di pabrik.

[Iya sih Kak Mery, aku gak percaya juga. Tapi ...] balasan Kak Riri menggantung.

[Tuh, kan! Riri juga percaya Dinda ma Arya curang!] balas Kak Mery lagi.

[Tapi? Tapi apa, Ri?] tanya Kak Reva.

[Jangan-jangan, Dinda yang punya pabrik itu!] balas Kak Riri.

Balasan Kak Riri bikin aku terkejut, Kak Riri mengapa bisa cepat menyimpulkannya dengan benar? 

[Mana ada! Ngaco! Rumah masih kecil begitu, ke pabrik pake motor, ehh ngehalu nih Riri, nyangka pabrik baru itu punya Dinda! Haduh, kalian ini ya pada gak bisa mikir beres!] balas Kak Mery.

[Kita liat aja nanti, Kak Mery. Who knows? Dinda beli mobil baru aja kalian gak ada yang percaya kan? Tau nya boleh minjem! Hadeh!] Kak Riri sudah mulai mencurigai.

[Hahaha, bener nih kata Kak Mery. Kak Riri ngehalu gak jelas! Hahaha] Kak Novi menimpali juga, tak percaya.

Mas Arya japri aku, katanya sudah tidak usah dilanjutin pembahasan di grup. Nanti makin melebar. Aku tutup aplikasi hijau itu segera. Biarkan saja mereka mau ngomong apa.

* * * 

Keesokan harinya, aku bersiap ke pabrik. Tentu dengan identitas sebagai desainer sepatu. Haris menertawakan kejadian kemarin saat aku ceritakan kondisinya memang begitu, via telpon agar ketika di pabrik, Haris sudah punya jawaban status kami disana.

Ya sudahlah, yang penting sudah aman dulu status aku dan Mas Arya saat ini. 

Sesampainya di pabrik, kulihat semua karyawan baru lagi berbaris di aula besar samping pabrik. 

Aku tidak ikut tentunya, karena sudah janjian sama Haris untuk ketemu tamu pagi ini di ruangannya.

Tiba-tiba Kak Mery datang menarik tanganku.

"Mo kemana, ayo ikut baris! Tar dipecat loh, kamu kan karyawan juga disini statusnya, walau jalur belakang masuknya! Cepat!" Kak Mery maksa menarikku ke dalam barisan karywan. 

"Bu, Dinda!" tiba-tiba suara seseorang terdengar dari sisi kiri aula ini.

Kami menoleh kearah suara, Kak Mery pun reflek melepas tanganku.

"Bu Dinda!" orang itu mendekat.

"Ya ampun, Pak Suryo? Ada apa, Pak?" tanyaku.

"Saya kebetulan tadi liat Bu Dinda dan Pak Arya lewat sini, saya ikutin aja deh," katanya bikin aku penasaran.

"Oh begitu, ada perlu apa ya, Pak Suryo mencari saya?" tanyaku dengan ramah.

"Ini Bu, saya mau mengembalikan mobil ibu yang kemarin saya pinjam. Kebetulan tadi mau mampir kerumah, Ibu udah jalan duluan pake motor. Saya jadi gak enak, Bu Dinda mau kemana-mana jadi gak make mobilnya. Makanya saya antar kesini aja. Ini kuncinya Bu, saya kembalikan. Makasih ya Bu Dinda atas pinjaman mobilnya," kata Pak Suryo lagi.

"Heh, Pak! Gak salah kasih nih? Dinda mah gak punya mobil," Kak Mery tiba-tiba nyautin Pak Suryo. 

"Memang ini mobil Bu Dinda, Bu. Orang saya tetangganya kok, yang datang sendiri kerumahnya minjam. Mari Bu Dinda, saya pamit dulu!" ujarnya sambil berlalu.

"Jadi mobil mewah yang kemaren diacara syukuran rumah Riri, itu beneran punya kamu?!" tanya Kak Mery sambil melotot seperti biasanya.

Bersambung ...

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cerbung: Acara Pembagian warisan ( Bag 7 )

Terkini

Iklan

Close x