Iklan

Iklan

Cerbung: Acara Pembagian warisan ( Bag 6 )

12/06/21, 20:33 WIB Last Updated 2021-12-06T13:33:00Z

 Setelah sampai rumah, Mbak asisten langsung menggendong anak-anak masuk ke kamar. Sepertinya mereka kelelahan. Aku dan Mas Arya pun bersih-bersih dan mandi, lalu berangkat tidur.


Keesokan paginya, saat hendak sarapan pagi bersama, tiba-tiba bunyi notifikasi chat di grup keluarga berbunyi berkali-kali.

Ting! Ting! 

Penasaran, langsung kubuka saja.

[Makasih ya Dinda dan Arya, hadiahnya bagus banget! Canggih pula!]

Kak Riri mengirim sebuah poto, tak lain adalah hadiah dari kami semalam untuknya. 

[B aja itu Kak Riri!] balas Kak Novi.

[Yang penting ada yang kasih hadiah. Kan seneng deh, walau kata Novi B aja!] dibalas lagi sama Kak Riri.

[Yaudah, besok aku kirim hadiah juga deh buat Kak Riri, pasti lebih bagus dari hadiah Dinda.] sahut Kak Novi lagi.

[Ngapain repot sih, Nov? Kayak bakal bisa ngeluarin duit aja. Emang Riko masih pegang uang warisan? Kan dah abis buat ke Bali kemaren!] Kak Mery tiba-tiba nyaut.

[Masih banyak dong Kak uangnya! Kak Mery mau aku kasih hadiah juga? Kan Mas Aji gak ngasih apa-apa? Dinda sama Kak Reva sekalian aku kirim hadiah juga ya!] Kak Novi sepertinya gak mau kalah soal harta.

[Beneran Nov, mo kasih aku hadiah?!] Kak Mery nanya ulang agar tak salah baca chat dari Kak Novi.

[Iya dong! Hadiah Dinda mah, kecil itu. Kak Mery, Kak Reva sama Dinda mau hadiah apa? Sebutin aja!] chat Kak Novi sambil menyematkan icon smile berkaca mata hitam.

[Awas ya Nov, jangan boong! Kualat tar! Aku tunggu lho hadiahnya.] lanjut Kak Mery.

[Alhamdulillah, makasih ya Novi udah mau kasih kita hadiah. Moga rezekinya makin banyak.] chat masuk dari Kak Reva yang dari tadi belum komentar apa-apa.

[Makasih, Kak Novi yang baik.] balasku sekenanya.

Lalu grup aplikasi warna hijau itu sepi kembali. Mas Arya yang selesai sarapan, langsung bertanya.

"Ada baiknya juga semalem kita bawa hadiah ya, Ma."

"Hehe, iya kali, Pa. Semoga aja beneran itu Kak Novi. Aku jadi gak enak sama yang lainnya deh, Pa?" 

"Kenapa? Karena gak bawain hadiah buat yang lain juga?" 

Aku mengangguk pada Mas Arya.

"Kan Mas Tyo dan Kak Riri memang ngundang kita Ma, memberinya hadiah rasanya tidak berlebihan kok. Kalo pun yang lain tidak kebagian, itu juga bukan salah kita. Nanti, kalau Kakak-kakak ipar lain pada ngundang acara, kita bawain kado juga insyaAllah."

"Iya, Mas ..."

Aku mungkin ya yang terlalu lebay, setelah membaca chat grup keluarga tadi pagi jadi berasa gak enak sendiri.

* * * 

Beberapa minggu kemudian, Haris datang menemui kami dirumah. Ia memberikan data-data nama peserta pelamar yang lulus tahapan tes. Nama-nama tersebut tinggal mengikuti tes akhir, yaitu wawancara tahap akhir. 

Ketiga nama iparku ternyata ada dalam daftar itu. Menurut Haris secara nilai keseluruhan dari ketiga iparaku itu, Kak Reva lah yang bagus nilainya. 

Kak Reva cocok dibagian tenaga administrasi umum. Sementara Kak Mery  cocok dibagian tenaga packing produk. Mas Aji cocok di bagian gudang. 

Semua itu sudah mutlak dan sesuai dengan hasil kompetensi masing-masing. Walau kulihat, bidang yang dilamar Kak Mery adalah bagian keuangan, tapi karena tidak memenuhi syarat, hanya bisa ditempatkan dibagian  packing produk.

Menurut Haris, di wawancara akhir nanti lah yang akan menentukan. Jika peserta tidak bersedia memenuhi pos yang sudah ditetapkan HRD, peserta boleh mengundurkan diri. 

"Kapan wawancara akhir nya, Pak Haris?" Tanya Mas Arya.

"Dua hari lagi, Pak Arya. Saya berharap, Bu Dinda dan Pak Arya hadir melihat seleksi tahap akhir ini." jawab Haris.

"Baiklah, nanti kita berdua usahakan hadir, ya." lanjut Mas Arya.

"Tapi, Pak Haris ...." Aku jeda sesaat.

"Iya, Bu? Bagaimana?" Tanya Haris.

"Nanti, saat wawancara akhir, Pak Haris tidak perlu memperkenalkan saya dan Mas Aryo kepada para peserta sebagai owner pabrik ini. Ya? Bisa?" tanyaku padanya, yang ikut disetujui oleh Mas Arya pula.

"Oh, baik Bu. Bisa." jawabnya.

Bukannya apa-apa, rasanya tak perlu semua karyawan tahu siapa kami. Cukup diwakili Haris saja, atau nanti hanya nama kami saja yang mereka ketahui. 

Untuk usaha baru seperti ini, sepertinya lebih perlu monitoring dan evaluasi kerja agar tujuan bisa tercapai. Jika pabrik ini berkembang dengan baik, maka imbas yang baik pula buat seluruh karyawan.

* * *

Hari ini saatnya wawancara akhir peserta pelamar karyawan pabrik. 

Aku dan Mas Arya sudah memberitahukan Haris soal nama pabrik yang akan dilaunching pas pembukaan nanti. Dan nama ini juga akan di sosialisasikan kepada peserta wawancara akhir pada hari ini, agar mereka selalu bersemangat membangun kinerja kedepan. Karena pada dasarnya kata Haris, mereka yang wawancara akhir ini sudah lulus sebagai karyawan pabrik. Hanya saja tetap harus ada pernyataan setuju dari pihak pelamar. 

Aku dan Mas Arya ke pabrik dengan naik motor, karena mobil lagi dipinjam tetangga yang sedang ada acara keluar kota. Dan memang kebetulan juga, kami tidak ingin menonjolkan diri nanti nya di tempat wawancara peserta.

Sesampainya disana, semua peserta pelamar sudah berada dalam satu ruangan. Mereka tengah melakukan wawancara akhir dengan tim HRD bentukan Haris. 

Aku dan Mas Arya masuk kedalam ruangan lain, yaitu tempat yang nanti akan menjadi ruang kerja Haris. Haris sudah menunggu kami disana.

"Bagaimana, Pak Haris? Lancar seleksi tahap akhir ini?" Kata Mas Arya.

"Lancar, Pak. Rata-rata semua peserta ini sudah setuju dengan peraturan kerja pabrik serta nominal gaji yang mereka dapatkan. Hanya saja ..." kalimat Haris terputus.

"Hanya saja, kenapa Pak Haris?" tanyaku penasaran.

"Ada satu nama yang tidak setuju dengan peraturan kinerja karyawan yang tadi tim HRD sampaikan," lanjut Haris.

"Soal apa?" tanya Mas Arya juga penasaran.

"Soal gaji, Pak, Bu. Peserta ini tidak berkenan dengan salary yang kita tawarkan enam bulan pertama. Katanya, kerjaan bagian gudang lebih banyak dan rumit, harusnya dibedakan gajinya. Jadi, kita butuh satu orang lagi karyawan untuk menambah kekurangan yang satu ini," jelas Haris.

Aku dan Mas Arya mengangguk menyetujui, untuk mencari satu orang karyawan lagi. 

"Kalau boleh tau, siapa Pak yang keberatan dengan salary yang ditawarkan tadi?" tanyaku lagi.

"Sebentar, saya cek dulu," kata Haris.

Ia membuka data pelamar wawancara, lalu mencari nama itu dari atas hingga kebawah. 

"Patriaji Kesuma."

Haduh! Sudah kuduga, Kakaknya Mas Arya satu ini memang susah diajak kompromi dengan baik. Kalau tidak setuju, ya dia akan tetap kekeh pada pendiriannya. Kerja saja belum, sudah banyak nuntut. 

Mas Arya dan aku geleng-geleng kepala, terutama Mas Arya, ia narik napas dalam karena kelakuan kakak kandungnya itu.

"Ya sudah, Pak Haris sebaiknya cari lagi penggantinya, ya? Masih ada yang butuh pekerjaan ini, inayaAllah." Mas Arya meyakinkan keputusan Haris agar nanti mencari pengganti Mas Aji.

Setelah selesai koordinasi dengan Haris, kami bertiga keluar ruangan untuk melihat-lihat kondisi gedung, sarana prasarana dan lain-lain untuk persiapan operasional perdana saat setelah launching pabrik nanti.

"Dinda? Arya? Ngapain kesini?!" 

Suara tak asing itu terdengar ditelinga kami.

"Kak Mery, Mas Aji!" seruku tak kalah kagetnya.

"Ohhh, aku tau! Kemaren bilangnya mau kerja saja dirumah sambil jaga anak! Eehh ternyata, ngelamar juga disini! Malu ya ngakuin?!" kata Kak Mery mengejek.

"Bertiga lagi disini, Arya ikut-ikutan ngelamar juga? Percuma, mending cari tempat lain aja Arya! Gajinya disini gak sebanding dengan kerjaannya yang banyak! Bilang tuh sama temannya, mending cari tempat lain aja!" Mas Aji mulai sok mengajari, sambil menunjuk ke arah Haris yang ia kira pelamar baru juga. 

Tiba-tiba salah seorang tim HRD nya Haris datang menegur.

"Maaf Pak Patriaji, Bu Mery, Bapak ini adalah manager di pabrik ini, jadi tolong bersikap dengan baik! Dan bapak serta ibu ini adalah ...!" ujarnya pada Mas Aji dan Kak Mery memperkenalkan Haris.

Tapi karena Haris memberi kode padanya untuk tidak membuka identitas kami berdua, ia jadi bingung melanjutkan kata-katanya tadi.

"Ooohh maafkan saya, Pak Manejer. Saya tidak tau kalau anda adalah pimpinan saya nanti. Maaf ..." ucap Kak Mery jadi malu sendiri. 

"Dan kalau berdua ini, pasti mau main belakang sama Pak Manejer ya, biar bisa diterima! Huh dasar! Jangan diterima Pak Manejer! mereka berdua ini mulut manis, tapi gak bisa apa-apa!" lanjut Kak Mery sambil mencebikkan bibirnya.

Haris yang mendengar ocehan Kak Mery hanya bisa melongo, karena tidak terbiasa menerima ujaran seperti yang Kak Mary barusan ucapkan didepannya langsung.

Aku dan Mas Arya hanya bisa tepuk jidat!

Bersambung ...

Oleh:  Nurtila Kencanaa

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cerbung: Acara Pembagian warisan ( Bag 6 )

Terkini

Iklan

Close x