Iklan

Iklan

Cerbung: Acara Pembagian warisan ( Bag 5 )

12/05/21, 20:32 WIB Last Updated 2021-12-05T13:32:00Z

 Kupesankan kepada Haris, ketiga nama tersebut untuk benar-benar diperhatikan seleksinya. Jika memang kompeten, bolehlah untuk diterima. Tapi jika tidak memenuhi persyaratan, jangan diterima. Karena aku tau persis, Kak Mery dan Mas Aji bisa melakukan berbagai cara untuk memuluskan tujuannya. Haris memahami apa yang aku sampaikan.


Semua persiapan pembukaan pabrik bulan depan telah rampung. Tinggal menunggu hasil pengumuman seleksi pelamar. Pelamar yang lulus masuk akan diberikan training untuk menunjang kemampuan mereka serta menambah kapasitas diri sebagai seorang karyawan pabrik. 

Semua diurus oleh Haris. Mas Arya lebih sering diskusi sama Mama perihal pengambilan bahan baku yang berkualitas dan managemen keuangan pabrik.

Mamaku dan Mas Arya seiring sejalan dalam masalah ini. Makanya dikeluargaku, menantu yang cocok dengan mama yang sosoknya tegas, teliti dan memiliki kemampuan analisa yang bagus, ditemuinya pada sosok Mas Arya. 

Tak heran, Mas Arya di perusahaan tempatnya bekerja sangat diandalkan. Perusahaan sampai memberikan perlakuan khusus untuknya, seperti jam kerja aktif serta salary. 

Jika Mas Arya tidak bisa hadir kerja, pimpinan perusahaannya mengijinkan Mas Arya bekerja tidak dikantor. Cukup dengan jalur telpon atau videocall untuk menganalisa data tertentu yang diperlukan perusahaan. 

Tentu hal ini lah yang membuat saudara kandung Mas Arya serta kakak-kakak ipar nya berpikiran bahwa, Mas Arya hanya karyawan rendahan atau freelance biasa, yang akan digaji jika diminta masuk kerja saja. Sementara mereka kebanyakan melihat adik nya itu jarang masuk kantor. Makanya Kak Mery dan ipar lainnya selalu bilang 'Arya gajinya kecil'.

Kami berdua malah sering senyum jika ingat hal ini.

* * *

[Besok malam pada datang ya semua, acara syukuran rumah baru kami. Habis magrib, jam 18.15 - 19.00. alamat sesuai share loc yang dikirim]

Pesan masuk chat Mas Tyo di grup WA keluarga.

[Oke, insyaAllah kami datang.] Balas suamiku.

[Oke] balas Mas Aris.

[Siap] balas Mas Riko.

[Iya deh!] balas Kak Mery.

[Kurang apa saja, Tyo? Biar dibantu dibelanjakan!] Chat Mas Aji masuk.

[Apa aja boleh Mas. Asal gak ngerepotin.] chat balasan dari Kak Riri.

[Masa sih, Pa? Tyo yang hajatan kok kamu yang repot, sih! Iya kan Ri, gak mesti nyuruh Mas Aji belanja kan?! Gak perlu bawa-bawaan segala!] Chat Kak Mery menimpali chat suaminya.

[Kan dah dibilang Kak, gak dipaksa! Tinggal datang aja, gak usah repot-repot.] Balas Mas Tyo.

Akhirnya grup keluarga sepi, tidak ada yang nyahut. 

Ah, aku bawakan oleh-oleh saja lah buat tuan rumah, Mas Arya sepakat. Biar kakaknya itu senang. 

Kami datang duluan ke rumah baru Kak Riri dan Mas Tyo. Supaya bisa sholat magrib disana, karena lokasinya cukup jauh. Alhamdulillah kami sampai juga.

Halamannya luas, jadi kami bisa parkir disebelah motor milik Kak Riri. Tamannya juga bagus dan asri. Ada kolam ikan kecil disana. Dafa dan Rafa bermain sama anak-anaknya Mas Tyo. 

Selepas sholat magrib berjamaah, kakak ipar yang lain datang bersamaan. Mereka langsung berwudhu dan sholat diruang musholah rumah baru ini. 

Kulihat, Kak Mery kebanyakan mencebik setiap pujian yang keluar dari saudara-saudara ipar yang lain. Termasuk Kak Novi, ia merasa tersaingi rumahnya dengan rumah Kak Riri. 

Hanya aku dan Kak Reva yang  senyum-senyum saja melihat tingkah mereka. 

Para tamu tetangga pun berdatangan, lalu acara segera dimulai oleh pak Ustadz yang sudah Mas Tyo undang. 

Acara berjalan khidmat, para tamu dipersilahkan menyicipi snack yang disediakan tuan Rumah.

"Kok snack doang sih, Ri? Masa gak ada makan malam atau prasmanan gitu?" celetuk Kak Mery.

"Huss!" Kak Reva memberikan kode pada Kak Mery agar diam saja.

Kulihat Kak Riri memutar bola matanya tanda malas menjawab pertanyaan Kak Mery barusan.

Kak Riri mencebikkan bibirnya kesuatu kamar sambil membuka pintu kamar itu tanpa berkata-kata. Didalamnya  sudah ada bungkusan makanan yang sudah rapi, dan siap diberikan kepada para tamu selepas acara. 

"Makanya jangan sok tau, Mer!" Bisik Kak Reva pelan pada Kak Mery.

Aku, Kak Reva dan Kak Riri membantu mengeluarkan bungkusan tersebut untuk dibagikan kepada para tamu. 

Para tamu satu persatu pamit pulang. Akhirnya saatnya giliran kami yang menyantap makan malam bersama di rumah  baru ini.

"Makasih ya kakak-kakak ipar semua dan juga adik iparku yang baik, Dinda ... sudah mau datang kemari." ucap Kak Riri.

"Iya, Ri. Selamat ya atas rumah barunya, semoga pada betah ..." ucap Kak Reva dengan senyum.

"Iya Kak, selamat yah. Doakan kami segera punya rumah baru juga," ujarku pada Kak Riri.

"Aamiin ..." jawab Kak Reva dan Kak Riri.

"Selamat yah, Kak Riri. Akhirnya gak ngontrak lagi!" ujar Kak Novi menimpali.

"Kau mau beli rumah, Din? Emang duit dari mana? Warisan kemaren aja pasti Arya gak bakal kasih ke kamu, apalagi buat rumah baru!" Kak Mery mulai kepo tak jelas, padahal dia masih penasaran sama uang warisan Mas Arya dibagi ke aku atau tidak? Hahaha, lucu sekali. 

"Iya Din, uang dari mana? Tar gak bisa makan, lho! Udah udah! saranku mending kamu daftar lamaran kerja di pabrik baru itu! Lumayan gajinya, entar bisa nabung beli rumah!" timpal Kak Novi.

"Eh, kalian ini .... Ya suka-suka Dinda lah mau beli rumah kek, mau beli mobil lagi kek! gak usah kepo! Urusan duit dari mana, ngapain juga pengen tau banget! Yang penting dia gak minta ma kalian! Kan senang kalo sodara kita mampu beli rumah!" sahut Kak Riri.

Kak Riri kelihatan berubah sikapnya, biasanya turut menimpali ledekan ipar yang lain padaku. Ini malah bisa menetralkan suasana. Ah, pasti karena kejadian di restoran tempo lalu. Syukur deh!

"Beli mobil lagi? Emang Arya sudah beli mobil? Mana coba? Didepan kan ada lima mobil dan  satu motor kok? Yang dua, mobilnya Mas Tyo dan Kak Riri kan? Yang tiga lagi mobil punya ku, mobil Mas Aji dan mobil  Mas Aris kan?! Nah yang motor baru punya Arya!" Antusias sekali Kak Novi menjelaskan, berharap benar adanya kami tak membeli mobil seperti yang Kak Riri bilang.

"Ma!" panggil suamiku dari ruang depan.

"Ya, Pa?" jawabku.

"Hayuk pulang. Tar kemaleman lagi!" ujarnya.

"Tau nih Dinda, mana pake motor, kan jauh! Kasian tuh Dafa sama Rafa, masuk angin tar malah!" ucap Kak Novi lagi.

"Aku juga mau pulang ah. Din, naik mobil Mas Aris aja ya? Biar anak-anak ga masuk angin." tawar Kak Reva terlihat khawatir pada ponakannya.

"Iya, sono gih, Din! Mumpung gratis gak bayar! Jadi hemat kamunya!" timpal Kak Mery.

Aku hanya tersenyum melihat kelakuan iparku ini. Kak Riri bingung mau menjelaskan yang sebenarnya, karena melihat aku yang dari tadi diejek malah diam saja tak membalas.

"Pamit ya, Kakak-kakak semua!" ujarku.

Akhirnya kami berpamitan, lalu keluar menuju halaman depan rumah baru ini.

Saat anak-anakku bersiap masuk mobil, tiba-tiba Kak Novi teriak.

"Eh, ngapain Dafa Rafa naik mobil nya Mas Tyo? Emang boleh dipinjemin?" teriak Kak Novi menyelidik.

Tak ada yang menyahuti perkataan Kak Novi, termasuk suaminya Mas Riko, yang tengah asik ngobrol sama Mas Aris.

Kami masuk kedalam mobil, tapi aku teringat sama hadiah yang sudah kubeli kemarin untuk Kak Riri dan Mas Tyo.

Kubuka bagasi mobil belakang, lalu kuambil bingkisan itu, dan kuserahkan pada Kak Riri.

"Buat aku Din? Ya ampun ... Makasih ya Dinda ..." Kak Riri memelukku dengan erat.

Kak Mery, Kak Novi dan Kak Reva bingung dengan apa yang mereka lihat. 

Kami pamit duluan, karena anak-anak sudah mengantuk berat dalam mobil. Saat di dalam mobil, kami masih mendengar pembicaraan mereka.

"Itu mobil Arya?" tanya Kak Novi lagi.

"Iyaaa ..." jawab Kak Riri serentak sama Mas Tyo suaminya.

"Hadiah dispenser canggih tadi, juga dari Dinda?" tanya Kak Mery penasaran pula.

"Iyaaa ..." jawab Kak Riri lagi serentak sama suaminya.

"Papaaaaa! Masa kita gak beli kayak Dinda sih!" rengek Kak Mery.

"Itu mobil Arya boleh minjam! Kamu jangan aneh-aneh, Ma!" Mas Aji langsung masuk ke dalam mobil seraya menutup pintu dengan kencang, malas meladeni permintaan istrinya.

Bersambung ...

Oleh:  Nurtila Kencanaa

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cerbung: Acara Pembagian warisan ( Bag 5 )

Terkini

Iklan

Close x