Iklan

Iklan

Cerbung: Acara Pembagian warisan ( Bag 4 )

12/04/21, 20:30 WIB Last Updated 2021-12-04T13:30:00Z

 Hari ini aku sibuk sekali, pun begitu dengan Mas Arya. Pekerjaan rumah sudah selesai semua dan rapi. Tinggal mengurus perizinan pendirian pabrik sepatu. Ya, aku dan Mas Aryo sepakat membuat usaha baru. Sayang kalau uang tabungan kami hanya tersimpan saja di bank. Lokasi pabrik  berada dipinggiran kota ini, kota ini memang terkenal sebagai kota industri. Walaupun pabrik sepatu ini masih tergolong kecil, tapi kami akan berupaya terus agar optimal dan berkelanjutan. Tujuannya juga adalah untuk membuka lapangan pekerjaan bagi anak muda atau siapa saja yang ingin punya pekerjaan. 


Persiapan pendirian pabrik memang memakan waktu yang cukup lama. Mulai dari pembangunan gedung pabriknya walau masih sederhana, sarana prasarana, bahan baku dan lain-lain, termasuk perizinan dan administrasi penting lainnya.

Mama menyarankan ku untuk mencari asisten rumah tangga, karena kasihan jika anak-anak sampai tak terurus, belum lagi tenaga kami yang sudah kelelahan mengurus pendirian pabrik kecil ini. Mas Arya setuju, dan kami mencari asisten rumah tangga.

Mas Arya memintaku mencari asisten manager pabrik, agar memudahkan koordinasi dalam menjalankan usaha ini. Jadi aku dan Mas Arya tak perlu repot mengurus semuanya. Asisten manager lah yang akan menjadi perpanjangan tangan kami selaku pemilik usaha. 

* * * 

[Ada lowongan kerja tuh, di Pabrik sepatu kecamatan sebelah. Mungkin aja ada yang perlu info ini, bisa disebarluaskan.]

Info grup WA keluarga masuk dari Mas Aris.

Aku dan Mas Arya yang sudah mengetahui hal ini tidak begitu menanggapi. Biarlah menjadi urusan Haris, selaku asisten manager yang kami tunjuk. 

[Kak Mery, tuh. Mana tau cocok, lumayan Kak kalo aku lihat gajinya sebulan tiga juta enam ratus ribu.] chat dari Kak Novi.

[Gak deh! Gaji segitu mah gak sebanding dengan kerjaannya. Gak tertarik tuh!] balas Kak Mery.

[Wah, aku mau daftar ah! Mana tau diterima. Itu gaji kan untuk enam bulan pertama. Kalau dinilai bagus, bulan berikutnya naik jadi empat juta tiga ratus ribu. Lumayan deh, dari pada lumanyun kaga pegang duit!] Kak Reva tiba-tiba nimbrung di grup.

[Kerjaan Kakak yang lama gimana Kak? Resign?] Tanyaku penasaran membalas chat Kak Reva.

[Kamu ikut daftar juga Din, biar bisa bantu-bantu Arya cari duit. Jangan bisanya ngandelin dan ngabisin gaji kecil suami deh!] chat dari Kak Novi masuk.

Iparku satu ini memang super sekali mulutnya. Ah sudahlah, takkan kuhiraukan.

[Iya Din, Kakak mau resign aja deh dari kerjaan lama. Gak berkembang! Mana tau beruntung dibidang ini.] chat balasan Kak Reva pada pesanku di grup.

[Hehehe, aku kerjaannya dari rumah aja Kak Novi. Biar anak-anak tetap kepantau.] chat balasanku pada Kak Novi.

[Halah! bisa aja kamu Dinda! Diem dirumah begitu mana ada ngasilin uang.] Kak Mary membalas chatku.

[Kayak bisa ngasilin uang sendiri aja kamu Ma! Pake ngajarin Dinda!] Mas Aji tiba-tiba nimbrung balasin chat istrinya. 

[Huh, Papa. Belagu nih! Sok-sok belain Dinda! Istri sendiri aja jarang dikasih duit, malah nyuruh kerja!] balas Kak Mery.

[Dari pada kamu ngabisin duit, Papa? Ya kan? Tuh, Kak Reva aja ikut daftar, jadi gak ngandelin duit suami mulu!] chat Mas Aji lagi membalas istrinya.

[Eh, kamu nyindir aku ya Ji? Reva itu memang mandiri, jadi gak perlu aku kasih uang tiap bulan. Jadi kan hemat!]  chat dari Mas Aris suami Kak Reva tiba-tiba.

Mereka saling balas-balasan. Aku hanya menjawab seperlunya saja. Malas menanggapi mereka yang suka sok tahu urusan orang lain, khawatir akupun khilaf ikutan nyindir.

Grup sudah mulai sepi komen, Mas Tyo dan Kak Riri yang dari tadi diam saja belum berkomentar, tiba-tiba nimbrung.

[Kerja apa saja lah, yang penting ngasilin uang. Jadi gak perlu nyusahin orang lain kalau lagi kesusahan, yang lagi ada rezeki, wajib bantuin yang kesusahan.] chat Mas Tyo masuk.

[Tumben! Biasanya gak gitu ngomongnya. Kesambet apaan Tyo?!] jawab Kak Mery.

[Riri mana, nih? Tumbenan gak berkicau di grup? Biasanya paling rame.] chat Kak Mery lagi masuk.

[Kangen ya Kak Mery sama aku? Sini main, rumahku dah mo jadi lho!] chat  Kak Riri masuk juga.

[Kapan acara syukuran rumah barunya?] Mas Aji ikut komen.

[Minggu depan ya. Acara syukuran sederhana saja, nanti Tyo info di grup ya, Mas!] jawab Mas Tyo

[Di restoran mahal itu lagi aja Mas Tyo, enak-enak tuh makanan yang kemarin. Top pokoknya!] chat Mas Riko, suaminya Kak Novi tiba-tiba muncul.

[Keabisan duit kali, Tyo ma Riri! Hahahaha! Warisan tinggal berapa, Ri?] chat Kak Mery  mulai kepo dan nyinyir.

[Heleh! Kak Mery sendirinya aja gak dibagi duit warisan sama Mas Aji, kan? pake nanyain uangnya kita dah abis berapa? Namanya uang, dibuat aset atuh Kak, bukan disimpen doang! Ya kali, takutnya ada orang lain yang nikmatin uang Mas Aji!] chat Kak Riri balas nyinyiran Kak Mery.

Langsung kumatikan ponsel, malas rasanya kalau sudah senggol-senggol urusan pribadi masing-masing keluarga. 

Yang kudengar dari Mas Arya, uang warisan Mas Aris akan dipakainya untuk main saham. Entahlah, aku kurang faham dengan jalan pikiran kakak pertama suamiku itu. Makanya, Kak Reva sudah sangat paham tabiat suaminya, susah dicegah. Kalau sudah ketipu, baru deh cerita. Untungnya Kak Reva cepat ambil keputusan untuk bekerja, jadi punya penghasilan sendiri.

Kalau Mas Tyo, sudah jelas ia memakai uang warisan itu untuk membangun sebuah rumah mewah, karena mereka masih mengontrak sebelumnya. Mas Tyo ini lumayan baik orangnya, tapi sedikit sombong. Karena menganggap orang lain itu dari tampilan luarnya saja. sementara Kak Riri istrinya, lebih sombong lagi. Tepatnya suka pamer. Mas Tyo kerjaannya bagus, jadi sering dapat bonus dari bosnya. Uangnya keseringan dipakai untuk senang-senang dan pamer oleh istrinya. Pas dapat warisan baru mereka bisa bangun rumah, karena keseringan pamer, jadi uang gak ngumpul-ngumpul.

Mas Riko, kakak keempat, dia lebih memilih menikmati hidup dengan jalan-jalan, shopping, dan lain-lain yang menunjang gaya hidup mewahnya. Mas Rico sudah punya rumah sendiri, jadi tidak begitu pusing dalam pengeluaran bulanan. Ditambah lagi, Mas Rico juga bekerja di sebuah perusahaan BUMD, gajinya lumayan besar. Istrinya, Kak Novi jualan online bidang fashion. Jadi kelihatannya, mereka memang sudah terlihat berduit.

Sementara Mas Aji? Nah ini yang suamiku khawatirkan. Mas Aji sering tidak jelas dan tidak terbuka dalam keuangan. Istrinya saja, Kak Mery, dijatahin uang bulanannya. Yang aku tahu, info dari ipar lain, Kak Mery hanya dikasih satu juta setengah per-bulannya. Hanya untuk biaya makan! Listrik, WiFi, dan keperluan bulanan semua dihandle suaminya. Makanya Kak Mery suka iri ketika ipar lainnya lebih dimanja suami, sementara dia keseringan dapat ceramah soal berhemat oleh suaminya.

Aku kadang kasihan sama Kak Mery, tapi mau gimana lagi, dia nya saja bersikap sinis dan tidak suka padaku. Aku juga tak tahu apa sebabnya ia tak menyukaiku? Biarlah.

Setelah seminggu berlalu, Haris melaporkan hasil open rekrutmen karyawan sudah banyak. Hampir dua ratusan pelamar. Aku syok bukan main. Sebanyak inikan manusia yang butuh pekerjaan?

Dari analisa dan paparan Haris, ia menyampaikan bahwa pabrik kecil ini nanti membutuhkan sekitar lima puluh karyawan, diantaranya bagian administrasi, logistik, marketing, keamanan, dan lain sebagainya termasuk tenaga kerja pabrik bagian pembuat sepatu itu sendiri.

Syarat yang Haris ajukan sangat kompeten dibidang posisi lamaran masing-masing.

Besok adalah jadwal seleksi  berkas, selanjutnya wawancara pertama dan tes kemampuan bidang masing-masing posisi, dan wawancara akhir. Lalau penentuan kelulusan. 

Haris dan tim HRD nya bekerja sesuai kapasitas, mereka profesional. Jadi kami tidak rugi menggaji mereka dengan nilai yang tinggi.

Keesokan harinya, aku dikirimi Haris data peserta pelamar. Yang lulus seleksi administrasi sekitar seratus dua puluhan pelamar. 

Kuprint data tersebut, lalu kuperhatikan satu persatu deretan nama peserta. 

Reva Diah Kumala, Susmery, dan Patriaji Kesuma. Ketiga nama itu tak asing dimataku. Ternyata oh ternyata...

Bersambung ...

Oleh:  Nurtila Kencanaa

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cerbung: Acara Pembagian warisan ( Bag 4 )

Terkini

Iklan

Close x