Iklan

Iklan

Cerbung: Acara Pembagian warisan ( Bag 3 )

12/02/21, 20:28 WIB Last Updated 2021-12-02T13:28:00Z

 Aku segera mematikan panggilan dan langsung pura-pura terima telpon dari teman dan ngomong sendiri, sambil keluar ruang itu tentunya. 


Selamat! Aku harus merahasiakan semua hal dari mereka, kalau tidak bisa bahaya. 

"Ya gak mungkinlah Dinda yang mau beli! Itu dia terima telpon dari orang lain. Ah, Mas Aris gak benar ini nelponnya!" gerutu Kak Mery sewot.

"Gimana sih, Arya! Kamu kasih yang bener dong nomor telpon orang yang mau beli 2,7 M itu, masa kasih nomor Dinda, sih!" Mas Aris ikutan sewot.

Dari luar aku mendengar pembicaraan mereka, Alhamdulillah Mas Arya bisa mengatasinya dengan baik. Kami jadi membeli rumah dan tanah warisan itu dengan menyembunyikan identitas, yang penting surat-surat sudah bisa ditangan. Bagi keluarga Mas Arya, yang penting deal jumlahnya sesuai, mereka tak peduli siapa pembelinya. Fiuwh! Selamat.

* * *

Setelah kejadian malam itu, Kak Mery benar-benar merasa malu. Ia tetap tak berhasil membujuk Mas Aji suaminya untuk membeli mobil yang ia idam-idamkan.

Sementara Kak Riri sudah mulai pamer persiapan desain rumah barunya. Pun dengan Kak Novi, poto-poto sedang liburan ke Bali ia posting di grup keluarga besar.

Aku dan Kak Reva yang menanggapi mereka dengan sewajarnya. 

"Wah, desainnya bagus Kak Riri. Cakep banget pasti entar rumahnya." komenku di grup.

"Iya nih, bagus, Ri." Timpal Kak Reva.

"Iya bagus sih, tapi masih gedean rumahku deh," kak Novi komen tak mau kalah.

"Alah, baru juga segitu, bangga! B aja kali!" Kak Mery mulai tak suka.

"Dari pada ga kelihatan hasil warisannya, kayak Kak Mery?" sindir Riri tersinggung.

"Apa kamu bilang?! Uang warisan aja bangga. Mending usaha sendiri! Itu mah nempel ma harta laki!" Kak Mery nyerang lagi.

"Sudah ah, aku mau ke Pantai Kuta dulu. Makan seafood mahal, berjemur, terus balik ke hotel bintang lima. Nikmatin lah, suamiku kan gak pelit! Ya gak Kak Riri?" sindir Kak Novi juga.

"Yoi dong!" balas Kak Riri.

"Selamat bersenang-senang yaa Novi. Semoga lancar nanti perjalanan pulangnya sampe sini." ucap Kak Reva mengalihkan topik soal sindir menyindir.

Grup langsung sepi. Aku pun membiarkannya pula, tak ingin nambah-nambah komentar. Bisa panjang kalau sudah berurusan adu mulut sama mereka.

* * * 

Beberapa minggu kemudian, Mama mentransferku uang dua ratus juta. Katanya itu bagi hasil sewa lahan milikku yang disewa oleh  perusahaan batu bara disana. Karena aku dan Mas Arya memutuskan tinggal didaerah berbeda, jadi aset yang aku miliki saat sebelum menikah, kuminta Mama yang bantu mengelola. Mama awalnya keberatan, tapi dari pada sayang tidak jadi uang, akhirnya mama yang kelola dengan sistem bagi hasil. 

Belum lagi usaha lainnya yang digarap Mama dan beberapa orang kepercayaan ku disana. Dari dulu aku memang suka sekali dagang, sampai kuliahpun masih aku tekuni bidang ini. Hingga hasilnya banyak aku jadikan aset tanah dan lain-lain disana.

Hasilnya lumayan. Uang yang selalu mama transfer, semuanya tersimpan dengan baik di bank. Uang dari Mas Arya pun aku tabung juga dengan rekening yang berbeda. 

Mas Arya sendiri gajinya besar. Tapi kami selalu bilang ke saudara-saudaranya Mas Arya, hanya karyawan kecil saja. Bukan bermaksud untuk bohong, tapi karena mereka tergolong orang-orang yang mudah panasan jika saudaranya lebih berpunya. Jadi ya, tidak masalah berbohong demi kebaikan.

Di grup WA keluarga, siang ini kami diundang Mas Tyo, suaminya Kak Riri, untuk makan malam di restoran mewah. Semua dia undang, tanpa terkecuali. Katanya syukuran kecil-kecilan sebelum rumah mereka jadi. 

Mas Arya memintaku untuk datang lebih awal, karena akan mampir dulu ke rumah temannya. 

Sesampai dirumah temannya, ternyata Mas Arya deal-deal an harga mobil. Mobil temannya itu baru seminggu dipakai, tapi masih sangat bagus dan bermerek kisaran harga enam ratusan juta. Tapi karena temannya lagi butuh uang untuk operasi jantung anaknya yang baru sebulan lahir, maka dijuallah kepada Mas Arya. Lumayan bisa bantu teman katanya, bukan lumayan murahnya. 

Inilah yang kusukai dari suamiku itu, menolong orang dengan tidak mengambil kesempatan. Benar-benar tulus, bahkan terkadang ia lebihkan bayarannya.

Setibanya di restoran mewah yang dituju, semua sudah hadir. Dan kami datang sedikit terlambat. 

Semua sudah memesan makanan, tinggal kami yang belum.

Aku memanggil pelayan untuk memesan makanan kesukaan masing-masing anggota keluarga. Tiba-tiba, Kak Mery nyeletuk.

"Jangan banyak-banyak, Dinda! Kasian nanti Tyo gak bisa bayar. Ini kan restoran mahal!"

"Eiiit, jangan gitu dong Kak Mery! Jangan dikira Mas Tyo gak mampu bayar. Kita memang sengaja kok nyiapin uang malam ini khusus menjamu kalian. Sok atuh Dinda, pesen yang banyak." Gaya Kak Riri yang sombong malah tambah bikin Kak Mery kesal. 

"Sudah, pesan saja. Arya juga belum tentu mampu kok ngajakin Dinda dan anak-anaknya makan ditempat ini. Kak Mery juga, emang pernah diajak Mas Aji makan disini? Gak kan! Udah, pesen saja sesuka kalian. Uang mah gampang, kecil!" sambil menjentikkan jari kelingkingnya depan kami semua.

Restoran ini adalah punya rekanan bisnis Mama, tepatnya punya teman Mama waktu SMA. Dan yang kutahu, harga makanan disini sangatlah mahal. 

Setelah selesai makan, tentu juga diselingi dengan ngobrol-ngobrol antar sesama, akhirnya kami semua pamit pulang. Tapi karena Dafa ingin pipis, jadi aku mengantarnya dulu ke toilet. Sementara yang lain sudah bubar. 

Tinggallah Mas Arya, Rafa, Mas Tyo, Kak Riri dan anaknya.

Selesai dari toilet, aku mendengar Kak Riri sedikit menjerit di meja kasir.

"Apa! Gak salah hitung itu? Coba dicek ulang!" pinta Kak Riri pada kasir.

Aku bergegas ke meja tadi, khawatir Kak Riri melihatku yang lewat dekatnya, dia akan malu.

"Riri masa lama sih! Aku susul sebentar ya." Pamit Mas Tyo.

Kuceritakan apa yang kudengar dan kulihat tadi pada mas Arya. Kami jadi ikut khawatir, khawatir Tyo malu. Kalau soal bayar, aku dan Mas Arya bisa saja melunasinya segera. Tapi karena sikapnya yang suka sombong, ya biarin saja dulu. Sampai dia sendiri yang memohon bantuan.

Mas Tyo memanggil Mas Arya. Sudah kutebak, mereka tidak bisa bayar!

"Kurang berapa, Mas?" Tanya suamiku.

"Mana mungkin Aryo ada yang segitu Mas. Warisan kemarin pasti sudah habis dia buat bayar hutang cicilan rumah kali!" kak Riri mulai nyinyir, tapi mukanya tetap khawatir.

"Oh, yasudah kalau gak jadi!" Mas Arya berlalu dengan santai dari hadapan mereka.

"Eh, tunggu!" Mas Tyo mendekat lagi kemeja kami.

"Enam puluh tiga juta. Ada? Ahh, pasti gak punya kalian ini!" serunya lagi.

"Ada. Dinda bawa tuh. Pinjem aja!" tukas Mas Aryo.

"Beneran, Din? Kamu ada segitu! Jangan bohong!" suara Kak Riri pelan ditelingaku.

"Jadi gak nih, dipinjemin? Kalau gak, kami mau pamit pulang," ancamku dengan sengaja, biar mereka memohon dengan benar kalau mau meminta bantuan orang lain.

"Oke-oke, jadi! Walaupun kami tak percaya!" 

Yaelah, nih orang! Bikin gemes mau nyumpalin mulutnya dengan serbet!

Aku sedikit berteriak, pada pelayan tadi. 

"Mas! Sini! Bawa bill nya!"

Mas Tyo dan Kak Riri terlihat panik, antara benaran atau cuma prank. Karena masih tak percaya kalau aku akan membayar makanan yang tadi disuguhkan.

"Silahkan, Bu." Sapa pelayan restoran dengan ramah.

"Silahkan dihitung, ya. Kalau kurang nanti saya tambahkan." ujarku ramah juga.

"Uangnya enam puluh lima juta. Sisanya dua juta. Ini silahkan diambil ya, Bu." balasnya lagi.

"Udah, gak papa. Sisanya kamu bagi-bagikan sama yang lain ya. Anggap saja rezeki." ucapku.

"Baik, terimakasih Bu." ia sedikit membungkuk lalu pergi meninggalkan kami.

"Mas! Salam buat Tante Siska ya! Jangan lupa!" Teriakku pelan kearah pelayan tadi, lalu ia balas dengan anggukan dan senyuman.

"Oke, beres semua! Yuk kita pulang," seruku pada Mas Tyo dan Kak Riri yang masih melongo tak percaya melihat kejadian barusan.

Mas Arya sampai harus menepuk bahu mereka berdua agar bereaksi normal.

Sepanjang  menuju parkiran restoran, Kak Riri tetap diam, tak bersuara. Sementara Mas Tyo berkali-kali mengucapkan terimakasih pada Mas Arya.

"Santai aja Mas, kan begitulah yang namanya keluarga. Nanti ngembaliinnya langsung ke Dinda aja ya. Kan pake uang dia tadi," ucap Mas Arya.

"Nanti kalau sudah ada, uangnya langsung Mas transfer ya Din. Tak kira kisaran sepuluh juta aja makan tadi," balas Mas Tyo sambil menarik napas dalam.

Kami berjalan menuju deretan mobil yang terparkir. 

"Kalian naik mobil? Ah, kan Arya cuma punya motor! Kok jadi ikutan ke parkiran mobil sih? Jangan bilang mau numpang ya! Mobilnya gak muat!" masih dengan nada ejekan, Kak Riri sepertinya belum juga sadar.

Aku dan Mas Arya tersenyum geli lihat tingkah kakak iparku satu ini. 

"Eh, mo ngapain? Kok ngikutin kita sih! Kan dah dibilang Dindaaa ... Aryaaa ... mobilnya gak mu ...!" 

"Mobil kita mah muat Kak, tenang aja! Ayo anak-anak masuk!" ujarku sambil membuka pintu mobil belakang untuk anak-anak.

Mereka masih mematung dengan tatapan masih tak percaya juga. Sampai tak menghiraukan anak-anaknya minta dibukain pintu mobil.

"Kami duluan ya! Dadaaah ...!" Pamit Mas Arya pada kakaknya itu.

Mobil kamipun melaju meninggalkan Mas Tyo dan keluarganya yang masih melongo, lagi-lagi tak percaya!

bersambung.....

Oleh:  Nurtila Kencanaa

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cerbung: Acara Pembagian warisan ( Bag 3 )

Terkini

Iklan

Close x