Iklan

Iklan

Cerbung: Acara Pembagian warisan ( Bag 2 )

12/01/21, 20:27 WIB Last Updated 2021-12-01T13:27:00Z

 "Uang belanja dari Arya kamu pake buat ngasih anak-anak? Gak usah sok kaya deh, Din!" Kak Riri tiba-tiba nyeletuk.


"Jadi istri jangan suka boros Dinda! gaya-gayaan belanja bulanan!" sahut Kak Mery tanda tak terima anaknya aku kasih uang jajan.

Malas sebenarnya ngeladeni mereka. Tapi kadang-kadang sesekali gak apa-apa aku skak mat mereka! 

"Yaudah sih, Kak. Lagian itu buat Doni sama Zety kok. Tapi kalo mau kakak pake buat belanja bulanan juga ya gak papa juga sih ... nanti Doni Ama Zety aku kasih lagi," jawabku datar. 

Memang kenyataannya begitu, suami Kak Mery itu uangnya banyak, tapi karena istrinya ini boros, jadi Mas Aji suaminya memangkas uang bulanan. Manalagi, Mas Aji orangnya perhitungan. Pas lah mereka. 

"Kamu, ya! Ngatain aku gak belanja bulanan! Awas nanti, kalau uang warisan Arya habis, jangankan minta ke kami, minjam pun takkan kuberi!" sungutnya mulai marah.

"Iya nih, Din. Jangan gitu! Kan Arya dulu pernah pinjam sama Mas Aji. Waktu kamu mau lahiran si Rafa." Kak Novi mengingatkan peristiwa saat itu.

Mas Arya memang pernah meminjam uang sama kakaknya, yaitu Mas Aji. Uang itu mendadak dan terpaksa harus Mas Arya ambil pinjam, karena Mas Aji sendiri yang menawarkan. Saat itu Mas Arya sedang membayar administrasi biaya operasi cesar ku saat mau lahiran Rafa. Mesin pembayaran EDC di klinik bersalin waktu itu lagi eror. Kebetulan Mas Aji lagi menebus obat buat anaknya yang lagi sakit disana. 

Sore itu juga langsung Mas Arya bayar. Jadi bukan karena kami tak punya uang. Mas Aji memang perhitungan dengan uang, tapi dia bisa memanfaatkan kondisi. Mas Aji meminta lebihan uang bayaran atas pinjaman saat itu. Gak masalah bagi Mas Arya sekedar tanda terimakasih. 

Tapi namanya sudah tidak suka, istrinya Mas Aji jadi kemana-mana kalau sudah ngomongin peristiwa itu. 

"Ohh, waktu lahiran Rafa? Iyaa aku inget kok, Kak," jawabku lagi-lagi santai.

"Tuh kan inget! Maka nya jangan sembarangan bilang Kak Mery gak punya uang, Dinda!' celetuk Kak Novi yang tidak tau menahu kejadian sebenarnya.

"Iya sih, siang Mas Aji menawarkan uangnya karena mesin EDC klinik lagi tidak bisa transaksi. Sorenya udah langsung Mas Arya balikin kok! Iyakan Kak Mery?" sambil menyunggingkan senyuman lebar padanya.

"Oh, kirain belum dibalikin ampe sekarang! Gimana sih kamu, Mer?" Kak Reva  menimpali Kak Mery.

Kak Mery yang terlihat malu, mukanya langsung memerah. 

"Tapi tetep aja namanya pernah minjam itu! Kan Arya gajinya kecil," sindirnya lagi tak mau kalah.

"Iya Kak, benar! tepatnya di pinjemin waktu itu. Tapi pas dikembalikan, di lebihin lho sama Mas Arya? Kan memang permintaannya begitu." ucapku tetap santai menanggapi mereka. 

"Ihh, masa sih?" tanya Kak Riri.

"Tanya aja sama orangnya langsung. Yang aku tahu nih ya, Mas Aji itu baik orangnya, aku dan Mas Arya sempat berterimakasih sama Mas Aji." sengaja ku tekankan kalau Mas Aji baik kalau sama kami. 

"Berarti, jangan-jangan ... Mas Aji yang perhitungan sama Kak Mery?" ucap Mbak Novi lagi.

"Berarti benar rumornya kalo Kak Mery jatah bulanannya ditakar Mas Aji, biar ga boros?" sambung Kak Riri dengan tatapan menyelidik. 

Kak Mery baru saja mau ngamuk saat dikatain adik iparnya, tiba-tiba semua saudara Mas Arya datang berbarengan. Kak Riri dan Kak Novi langsung berhamburan keruang depan. Kak Mery jadi lupa mau marah, langsung ikut nyusul mereka.

Semua pada merayu suaminya masing-masing agar kecipratan uang warisan. Mas Arya tampak sedang ikut bermain sama Dafa, Rafa dan ponakannya yang lain. Hanya aku dan Kak Reva yang masih ngobrol berdua.

"Iya, iya! Mobil jadi kok. Besok juga jadi kita belanja bulanan!  Sekalian kita desain bentuk rumah, ya. Tenang aja kamu!" suami Kak Riri tampak menenangkan istrinya yang manyun merajuk ingin beli ini itu.

"Kita jadi kan Mas, ke Bali nya? aku udah bilang lho sama tetangga-tetangga kita?" rengek Kak Novi pula.

"Iya, liat nanti ya Mah!" bujuk suaminya.

"Kamu jangan aneh-aneh! Beli mobil bukan buat gaya-gayaan, liat tuh Dinda, gak ada dia minta sama Arya. Hemat Mah, hemat!" ujar Mas Aji pada istrinya. 

Semua saling pandang, hanya aku yang diam tak mau ikutan. Mereka semua menertawakan Kak Mery.

"Sudah-sudah! ngomongin warisan kayak kita-kita dibagi aja!" sindir Kak Reva sambil ngelirik suaminya, Mas Aris.

Aku tahu, saudara-saudara Mas Arya ini memang tertutup soal uang yang dikatagorikan warisan. Hanya saja terkadang terlihat kurang pas. Namanya suami istri harusnya kan terbuka, jika memang ada kesalahan dari kelakuan sebagai seorang istri, harusnya diberi contoh dan diajari. 

Kak Reva yang tidak mau menuntut lagi atas harta suaminya, ia lebih memilih berkarir. Karena percuma jika harus capek dalam diskusi soal nafkah dari suami yang terkesan pelit. Makan hati lebih tepatnya.

"Riri sama Novi aja dikasih jatah Pah, sama suaminya! Masa Papah gak kasih aku sih! pelit amat, emang mama ini orang lain apa!" Kak Mery tetap kekeh ingin mendapatkan jatah warisan juga dari sang suami.

"Jangan samain dong kak, Tyo dan Riko gak sama ama Mas Aji dan Mas Aris!" balas Tyo suami Riri.

"Ya biarin aja, Tyo ama Riko mau gimana-gimana! kalo Papah kasih kamu uang, pasti bakalan cepat habis, dan besok-besok minta lagi! ogah!" ujar Mas Aji pada Kak Mery.

"Emang dapat berapa sih, warisannya! udah kejual? heboh amat. Liat dong Mas Aris, dikekep sendiri uangnya, aku gak masalah tuh! ya gak, Mas?" kata Kak Reva lagi-lagi nyindir suaminya.

"Kamu kan sudah punya gaji sendiri, Ma. Gak usah manja deh ... Papa ini juga uangnya buat nanti-nanti kalau ada keperluan keluarga kita," balas Mas Aris.

"Memang dapat berapa, Mas? warisannya nanti?" tanya Kak Novi pada Mas Aris, kakak ipar tertua.

"Ah, ngapain mau tau Novi? ini rahasia besar keluarga!" jawab Mas Aji yang kekeh tidak boleh ada yang tahu soal warisan.

"Mas Aji harusnya tahan dulu ke pembeli yang ini, karena kata Arya, ada yang mau beli harganya lebih dari harga pertama. Kan lumayan lebihannya buat ditabung," ujar Mas Riko suami Kak Novi.

"Arya telat kasih tau sih, orang aku sudah nge-deal ama yang pertama! jadi jangan salahin aku dong!" sahut Mas Aji tidak mau disalahkan.

Sebenarnya, pembeli yang dimaksud oleh Mas Riko itu adalah aku. Aku sudah menawarkan pada Mas Arya agar rumah dan tanah warisan keluarga mereka  dibeli sama kami. Tapi tidak jadi karena sudah keduluan oleh pembeli pertama ini. Ya sudahlah, belum rezeki namanya. 

"Kata yang mau beli, belum rezeki dia. Tapi nanti mau ditawar ulang sih sama mereka ke pembeli pertama ini, mana tau pembeli pertama ini mau menjualnya," Mas Arya akhirnya bersuara, karena tadi namanya disebut-sebut oleh kakaknya.

"Berapa memang pembeli kedua ini waktu mau nawar warisan?" tanya Kak Mery lagi pengen tahu.

"Hmmm ..." Mas Arya melirikku. Kubalas dengan kedipan. 

Mas Aris, Mas Aji, Mas Tyo, Mas Riko dan istri-istrinya menatap Mas Arya dengan penasaran, berapa kisarannya. 

"Rumah sama tanah mau di harga 2,7 M, Kak," jawab Mas Arya.

"Apaaa!" ujar semua yang ada di rumah Kak Reva tak percaya.

Akhirnya mereka saling menyalahkan. Aku dan Kak Reva menonton saja ulah mereka yang kelihatan sekali seperti anak kecil berebutan mainan.

Tiba-tiba ponselku yang satu berdering. 

"Halo, Assalamualaikum," jawabku.

Mas Aris dan yang lain menatap tak percaya, apa benar orang kedua yang akan membeli warisan mereka adalah aku?

Dengan begitu cepat mereka  membatalkan penjualan warisan ke pembeli pertama, beralih kepembeli kedua. 

Mereka masih tak percaya jika pembeli kedua yang menawar 2,7M itu adalah aku, suara Mas Aris diseberang telpon yang menghubungi ponselku berada satu ruangan. Aku reflek jadi kikuk sendiri.

"Hah! Dinda!" Teriak mereka semua tak percaya.

Bersambung ...

Oleh:  Nurtila Kencanaa

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cerbung: Acara Pembagian warisan ( Bag 2 )

Terkini

Iklan

Close x