Iklan

Iklan

Cerbung: Acara Pembagian warisan ( Bag 10 )

12/10/21, 20:39 WIB Last Updated 2021-12-10T13:39:00Z

 Assalamualaikum. Wah, rame banget! Ada apa ini?" tiba-tiba Mas Arya datang, sambil mencium tangan kakak-kakak nya itu satu persatu.


"Akhirnya datang juga ..." ujar Mas Aris.

"Tumben, Mas Aris, Mas Aji, Mas Tyo, Kak Riri .... Ada apa nih? Maaf ya, Arya baru sampe dari kantor," kata Mas Arya lagi.

"Minum dulu, Mas," ujarku sambil menuangkan air minum ke gelas.

"Gini, Arya .... Mas mau ikut investasi di pabrik baru itu. Kamu bisa tolong gak, cari info tentang pabrik itu?" lanjut Mas Arya to the point.

"Hmmm, Mas Aris beneran mau investasi? Kalo Arya boleh tau, kira-kira kenapa Mas? Soalnya tiba-tiba banget ini," jawab Mas Arya sambil nyengir, antara percaya dan tidak.

"Beneran dong! Sayang uangnya diem aja, biar berkembang kan lumayan jadi nambah duitnya!" jawab Mas Aris dengan santai.

"Ohh begitu, nanti Arya tanyakan dulu ya sama pihak pabriknya. Hmm, lalu, Mas Aji juga mau investasi?!" 

"Oh, anu! Mmm, bukan! Itu ... Mas, mau ..." Mas Aji gelagapan.

"Mas Aji mau ambil mobil kamu, Arya! Mobil lamanya mau diminta Kak Mery, disuruh beli sendiri yang baru gak mau! Masa mau minjam alias ngambil mobil adiknya sih!" gerutu Mas Tyo tiba-tiba.

"Hah!? Becanda nih, Mas Aji! Masa iya begitu? Lha terus Arya ma Dinda gimana dong? Ngasih doang gitu mobilnya ke Mas Aji?" ucap suamiku yang merasa aneh dan bingung dengan kedatangan dan maksud saudara-saudaranya ini.

Apalagi aku, pusing! Gregetan juga jadinya, sama tingkah Mas Aji terutama.

Mas Aji hanya nyengir kuda tidak jelas, tapi jelas sekali dia jadi malu sendiri. Lagian, tidak pakai dipikirin dulu omongnya. Main ceplos aja, kayak yang pasti bakal dikabulkan saja permintaannya. 

Mana ada orang yang mau dengan sistem begitu, hatta itu saudara kandungnya sendiri!

"Tau nih, Mas Aji, ada-ada aja!" lanjut Kak Riri ikut geram.

"Makanya, Ji, Mery diajarin mandiri. Kamu juga jangan turutin semua kemauan istri. Kan susah sendiri kamunya kalau dia sudah minta ini-itu! Ya mending kalau kamunya mau ngeluarin duit. Jangan malah minjem! Orang semua butuh," ujar Mas Aris sok bijak.

"Mas Aris sendiri juga sama, memangnya Kak Reva dikasih uang? Mendingan Aji, tiap bulan ngasih satu setengah juta sebulan!" Mas Aji gerutuan sendiri karena merasa dipojoikin.

Aku sama Kak Riri saling pandang saja, malas untuk lebih banyak menanggapi. Apalagi sudah paham tabiat keluarga ini, yang paling muda jangan coba-coba kasih nasehat, apalagi cuma ipar. Bisa dibantai sama mereka yang ngerasa benar sendiri. Duh pusing jadinya!

"Reva nerima kok gak aku kasih bulanan. Aku bukannya pelit, semua kebutuhan rumah aku yang handle, jadi Reva hanya tinggal masak. Trus, Reva kerja sendiri ya itu uang dia sendiri. Dipinjem dia kadang gak masalah kok! Aman kan?" papar Mas Aris bikin kami semua tercengang.

Mereka saling berpendapat bahwa sikap mereka terhadap istri-istrinya sudahlah yang paling benar. Aku tak mau menanggapi, tapi kalau Kak Riri dengan geram ikut menanggapinya.

"Ya kali, Mas, Kak Reva nya ridho uang keringat sendiri dipake buat suami yang gak kasih uang bulanan! Semoga aja Kak Reva betah!" ujar Kak Riri yang mulai panas dengar omongan Mas Aris.

"Eh, jangan salah, Ri! Reva itu nurut sama Mas Aris. Emangnya kamu yang minta doang sama Tyo? Mandiri dong coba kayak Reva!" ledek Mas Aris.

"Sudah-sudah! Kok jadi ngomongin ginian sih. Urusan uang bulanan itu silahkan atur masing-masing ya Mas-Mas ku sekalian. Arya gak mau ikut campur. Selagi gak dzolim sama pasangan, ya Monggo wae!" ujar Mas Arya tiba-tiba menengahi.

Akhirnya, mereka semua pulang. Yang merasa menang hanya Mas Tyo dan Kak Riri. Sementara Mas Aris dan Mas Aji kekeh dengan pendirian masing-masing.

* * *

Pekan berikutnya, adalah saat acara launching pembukaan pabrik. PT. ARDI KARYA resmi menjadi salah satu perusahaan bidang fashion sepatu lokal karya anak bangsa. 

Acara berlangsung dengan lancar, tertib dan meriah. Beberapa sepatu yang menjadi brand unggulan, banyak diminati dan dipesan oleh beberapa rekanan pelaku usaha yang hadir saat launching.

Semua karyawan menyambut euforia ini dengan antusias dan semangat, semoga membawa keberhasilan bagi mereka nantinya. Karena hari pertama pembukaan saja orderan sepatu sudah banjir. Aamiin, semoga makin maju kedepannya, batinku. 

Setelah acara selesai, aku, Mas Arya, dan Haris istirahat diruang utama pabrik. Tak sengaja, aku melihat Kak Reva sedang duduk termenung dari kaca ruangannya yang kebetulan bersebelahan dengan aula utama ini.

Aku pamit pada Mas Arya dan Haris, untuk menemui Kak Reva sebentar.

"Halo, Kak? Kok disini aja? Udah makan?" tanyaku pada Kak Reva.

"Eh, Dinda ... Kakak lagi ga selera makan nih. Jadi ya ... disini aja, deh," jawab Kak Reva sedikit murung.

"Ada apa sih, Kak? Dari tadi Dinda perhatikan, Kakak sepertinya lagi ada masalah, ya?" tanyaku dengan hati-hati.

Kak Reva akhirnya menceritakan permasalahan yang sedang ia hadapi, bahkan diawal saat bercerita pun, ia sudah mulai menitikkan air mata.

Akupun ikut terkejut dengan apa yang disampaikan Kak Reva.

Ternyata, Mas Aris suaminya, telah berbohong pada Kak Reva. Mas Aris telah berbohong bahwa ia telah menginvestasikan uangnya ke pabrik ini. Kak Reva yang awalnya senang, akhirnya mencari tahu informasi sebenarnya kepada Haris. Dan Haris bilang, tidak ada suaminya itu investasi ke pabrik ini. 

Masalahnya adalah, uang yang Mas Aris gunakan untuk investasi itu adalah uangnya Kak Reva. Mas Aris berdalih meminjam uang tabungan Kak Reva agar bisa berkembang dan menghasilkan.

Kak Reva awalnya ragu, tapi Mas Aris meyakinkan padanya kalau ia sudah bertemu dengan petinggi pabrik. Termasuk meminta bantuan Mas Arya untuk berinvestasi di pabrik ini.

Aku jadi speechless, jadi ikut merasa bersalah. Karena memang benar adanya, Mas Aris meminta bantuan kami untuk ikut berinvestasi.

Walau Mas Aris tak tahu bahwa kamilah pemilik pabrik ini, tetapi caranya jelas salah. Ia dengan terang-terangan menjual nama Mas Arya dalam memuluskan aksinya agar Kak Reva istrinya, mau meminjamkan uang itu.

Ya ampun, mengapa jadi begini? Mas Aris benar-benar kelewatan. Memanfaatkan situasi dan kondisi untuk kepentingannya sendiri. Bahkan mengorbankan tabungan istrinya.

"Kak Reva tenang, ya? Nanti kita coba carikan solusinya. Mas Aris harus diselidiki, untuk apa uang sebanyak itu ia pakai? Dan dipakai kemana saja?" kataku pada Kak Reva.

"Bantu Kakak ya, Dinda? Uang itu adalah tabungan Kakak selama bekerja di tempat yang lama. Itu untuk keperluan anak-anak nantinya. Tau sendiri kan, Mas Aris jarang sekali memberi uang sekolah anak-anak. Tapi koar-koar paling sok bener jadi kepala keluarga. Semua Kakak yang mengusahakan. Kakak jadi bertanya-tanya? Jadi uang Mas Aris selama ini kemana saja? Mengapa harus mengorbankan uang istrinya juga? Padahal Kakak tidak pernah mengusik sedikitpun uangnya Mas Aris," lanjut Kak Reva sambil menangis sedih.

Aku juga ikut sedih dan menangis mendengarkan cerita Kak Reva. Sungguh malang nasib Kak Reva.

Aku langsung menanyakan hal ini pada Haris, dan menceritakan apa yang tadi Kak Reva sampaikan.

Haris malah bingung, katanya tidak ada seorang pun yang datang menemuinya menanyakan perihal investasi. Kalaupun ada, pasti akan Haris sampaikan segera kepada kami.

Mas Arya juga kaget, kami berdua sebaiknya mencari tahu apa yang dilakukan oleh Mas Aris dengan uang yang ia ambil dari Kak Reva, istrinya sendiri.

* * * 

Aku dan Mas Arya membuntuti kakak pertamanya itu diam-diam.

Menurut Kak Reva, Mas Aris hari libur ini pamit mau ketempat temannya pemilik saham disebuah perusahaan. 

Kak Reva hanya memantau dari rumah, karena anaknya ada yang lagi sakit jadi tidak mungkin ikut kami.

Mas Aris berhenti disebuah show room mobil. Ia terlihat sangat antusias, karena seorang wanita sudah menunggunya pula disana.

Kami tidak mungkin masuk kedalam show room itu, pasti bisa ketahuan. Akhirnya kami hanya diluar gedung menunggu Mas Aris keluar lagi dari sana.

Setelah beberapa lama, mobil Mas Aris terlihat keluar dari gedung show room itu. Kami melanjutkan untuk mengikutinya. 

Mobil Mas Aris berhenti disebuah kedai kopi, dan tepat disebelah mobilnya itu telah ada mobil Mas Aji.

Ada apa mereka berdua bertemu disini?

Tak lama, mereka mengambil tempat duduk persis dekat pintu luar kedai. Jadi masih bisa terlihat oleh kami dari sini.

Mas Aji tampak mengeluarkan sebuah amplop coklat kepada Mas Aris. Aku menerka-nerka apakah isi amplop coklat itu? Uang atau dokumen penting? Atau jangan-jangan ...

Bersambung ...

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cerbung: Acara Pembagian warisan ( Bag 10 )

Terkini

Iklan

Close x