Iklan

Iklan

Cerbung: Istri Barumu Mengejar Hartaku ( Bag 2)

11/26/21, 07:30 WIB Last Updated 2021-11-26T00:30:00Z

 "Biar Bibi yang temui dia. Kamu disini saja, Diaz. Biar Bibi yang atasi." Bibi terlihat sekali mulai kesal.

"Iya, Bi. Jangan lupa, Mba Arum bilangin pak satpam diluar untuk jaga-jaga, ya! Mana tahu, wanita itu makin ngamuk." Untuk berjaga-jaga saja, supaya tidak ada hal yang tidak diinginkan terjadi. 

Akhirnya Bibi dan Mba Arum keluar rumah, alhamdulillahnya, rumah bagian depan sudah kupasang CCTV, karena rumah ini besar sekali. Dan barang-barang kebutuhan toko sering di drop disini. Jadi untuk jaga-jaga agar lebih aman. 

"Maaf, anda siapa? Kenapa tiba-tiba teriak depan rumah orang?" Aku menguping dari ruang tamu.

"Mana si Diaz! Suruh keluar! Jangan seenaknya saja mengambil harta suami saya. Kalau sudah diceraikan, jangan bawa-bawa harta Mas Dani! Kembalikan!" Teriaknya kencang sekali. 

"Oh, kamu si Rara?! Istri barunya Dani? Kok kayak gak pernah sekolah gitu. Gak punya sopan santun. Memalukan!" Bibi makin kesal sepertinya pada Rara. 

"Diaz yang gak tahu malu! Apa gak diajari, kalo mencuri itu perbuatan lebih tidak sopan! Kriminal!" Rara terlihat emosi. 

"Heh, jalang! Kamu itu ngaca! Sudah tahu Dani punya istri, malah kamu ajak selingkuh! Itu lebih dari kejahatan, paham! Dan perlu kamu ketahui, Diaz tidak pernah mengambil secuilpun harta Dani. Kalaupun Diaz sukses sekarang, itu murni uang dia sendiri! Dani tidak pernah ikut campur. Tolong pergi dari sini, atau saya panggil satpam komplek untuk mengusir anda!" Ancam Bibi Santi dengan tidak kalah emosi.

Ramai sudah depan rumah oleh tetangga, beberapa orang berbisik-bisik. 

"Oh, wanita ini pelakor ternyata!"

"Iya, bangkrut kali suaminya. Nuntutnya kesini. Emang gak waras!”

“suaminya hasil ngerebut, dah gak punya duit, kok nagih ke rumah istri sah. Dasar gila!"

Dan, akhirnya beberapa tetangga yang peduli akhirnya memanggil satpam komplek untuk mengusir Rara. 

"Awas kamu ya! Berani-berani usir saya, itu rumah Diaz adalah rumah saya! Paham kalian!" Umpat Rara penuh benci dan amarah pada tetangga.

"Huuuuuu, sana pergi. Dasar gila!" Sontak ibu2 tetangga menyoraki Rara. 

Aku hanya tertawa dari dalam menyaksikan kegilaan Rara. 

"Ada-ada saja, pagi-pagi bikin ribut." Sahut Bibi sambil masuk kedalam rumah. 

"Dani beneran bangkrut kali, ya? Kenapa itu istrinya jadi kesini. Pasti ada sesuatu yang terjadi." Kataku pada Bibi. 

"Sudahlah, biarkan saja. Jangan diladeni orang macam itu. Nanti Bibi bilangin sama satpam komplek bagian jaga depan, kalau ada Rara datang lagi, suruh usir. Enak saja minta harta kesini." Lanjut Bibi.

Keesokannya, aku mendapat pesan dari Mas Dani. Ia menyampaikan bahwa, dirinya telah bangkrut. Sementara, Rara terus merongrong untuk memberinya uang. Bahkan mengancam, akan menggugurkan kandungannya jika tidak diberi. 

Singkat cerita, Rara ternyata punya niat buruk padaku. Ia menikahi Mas Dani hanya karena uang. Padahal, mungkin Mas Dani berniat tulus menikahinya. 

Rara mencari tahu semua tentangku, dan menyangka apa yang telah aku raih saat ini adalah campur tangan Mas Dani dalam memberiku modal. Mas Dani sendiri cerita ke Rara, aku tidak pernah mengusik  harta miliknya. Dan apa yang dibawaku saat dicerai Mas Dani, memang kepunyaanku sendiri. 

Rara tetap ngotot, dia tidak bisa hidup dalam kekurangan. Padahal Mas Dani serius menjalankan pernikahan keduanya dengan niat tulus. 

Ah, Rara ... Jangan bermain-main denganku. Kau akan menyesal. Dan Mas Dani, apa peduliku? Menanyakan tentang anakmu saja tidak pernah. Lantas sekarang, kau panjang lebar menceritakan kondisi rumah tanggamu padaku? Aku tidak peduli. 

Pesan-pesan chat dari Mas Dani hanya kubaca saja. Tidak berniat membalasnya. Biarkan saja dia menikmati kehidupannya itu.

*

Karena sudah bisa beraktifitas kembali pasca persalinan, aku mulai aktif dengan kegiatan rutinku. Sebagai owner sebuah brand bakery ternama di kota ini, aku cukup sibuk. Mulai dari pengawasan 7 cabang, kontrol bahan baku, kualitas orisinal rasa, karyawan, dan lain-lain termasuk keuangan.

Dua tahun berlalu, usahaku semakin maju. Tak lupa, syukurku pada sang pencipta selalu kupanjatkan. 

Anakku, Kendra, juga semakin menggemaskan. Alhamdulillah Bibi Santi sekarang ikut bersamaku. Aku yang memintanya, agar aku dan Kendra tidak merasa kesepian. Dan memang Bibi Santi adalah keluargaku satu-satunya. Bibi pun tak keberatan, karena ia pun jg sendiri, suaminya sudah lama meninggal dan tidak dikarunia seorangpun anak. Jadilah kami keluarga kecil yang saling melengkapi.

Tiba di toko "Diaz Bakery" pusat, aku mengecek semua hal termasuk keuangan. Ada hal yang menarik setahun terakhir ini. 

"Rini, kemari deh." Panggilku pada seorang karyawan kepercayaan. 

"Ada yang bisa saya bantu, Bu Diaz?" Sambil mendekat ke meja kerjaku. 

"Ini, setahun terakhir, saya lihat ada customer yang membeli dari kita lumayan cukup besar nilainya. Kamu tahu, siapa dia?" Tanyaku.

"Oh, yang itu. Saya sudah lama ingin membicarakan hal ini pada Bu Diaz. Cuma memang Ibu baru bisa aktif, mungkin saatnya kita bicarakan." Ada sesuatu yang tidak kuketahui sepertinya. 

"Lanjutkan." Titahku pada Rini.

"Customer ini, awalnya membeli produk kita diangka kecil, sekitar lima juta rupiah. Katanya, mau buat acara. Besoknya dia membeli lagi dengan angka dua belas juta, Bu. Saya tidak tanyakan alasannya buat apa saja. Sampai sekarang, dia selalu membeli produk kita rata-rata per bulan senilai 240 juta rupiah." Panjang lebar Rini memceritakannya padaku. 

"Tidak masalah bagi kita, cuma saya penasaran saja, mengapa dia mengambil dari kita? Padahal toko-toko lain banyak. Kamu tahu, kira-kira kenapa?" Selidikku lagi.

"Saya kurang tahu, Bu." Jawab Rini.

"Baiklah, besok jika dia datang membeli lagi ke sini, kamu kabari saya ya." 

"Baik, Bu." 

*

Seperti biasa, pagi-pagi aku sudah berangkat ke cabang utama Diaz Bakery. Dan ternyata, custumer itu tidak datang. 

Aku masuk ke toko penjualan cabang utama untuk mengecek langsung. Kukenakan seragam yang sama dengan dipakai para karyawan. 

Rini sudah kuberi kode, agar tidak membuka suara soal kegiatanku pagi ini pada karyawan lain. 

Akhirnya ada satu pengunjung yang sepertinya hendak memborong. Kutanya padanya. 

"Silahkan, ada yang bisa kami bantu? Butuh produk apa saja, Mas?" Seorang anak muda mendekatiku dan memberikan catatan pesanannya. 

"Baik, ditunggu ya. Akan kami siapkan." Kuserahkan daftar itu pada bagian kasir agar segera dihitung bill nya. 

"Total enam juta rupiah ya, Mas." Jawab kasirku padanya.

"Ini, Mba, uangnya. Tolong dihitung." Perintahnya pada kasir.

"Mas nya, lagi ada acara ya? Banyak sekali pesanannya." Tanyaku basa basi. 

"Oh, i–iya Mba, saya hanya disuruh saja sama majikan saya." Jawabnya sedikit ragu.

"Uangnya pas, dan ini pesanannya. Ari! Bantu Mas ini bawakan pesanannya keluar, ya!" Seruku pada salah satu karyawan laki-laki.

"Makasih ya, Mba ..." sapanya sambil pamit.

Tidak ada yang aneh. Cuma aku masih penasaran saja. Apa ini hanya kebetulan saja orangnya berbeda dengan yang diceritakan Rini kemarin, atau memang yang biasa datang lagi berhalangan sehingga mengutus orang lain kesini. 

Ah, sudahlah. Yang penting dagangan ku laris. Begitu batinku.

*

Siang ini aku dapat laporan dari bagian produksi, bahwa bahan baku semua naik. Jadi, aku harus menghitung ulang harga jual agar tidak rugi.

Setelah rapat dengan Rini dan bebrapa karyawan, aku putuskan harga jual naik. Kuminta bagian promosi untuk mencetak ulang brosur dan lain-lainnya berkenaan dengan naiknya harga produk.

Keesokan harinya, ada pesanan masuk via telepon. Jumlahnya lumayan banyak, namun setelah dijelaskan bahwa ada kenaikan harga, si custumer sedikit terkejut.

"Kok, mendadak naiknya, Mba?" Tanya balik si custumer dengan nada terkejut.

"Seperti yang telah kami jelaskan tadi, Mas. Semua harga bahan baku meningkat. Dan toko bakery kami juga menyesuaikan harga. Bagaimana, Mas? Jadi pesasanannya?" Jawab salah satu karyawanku yang menerima telepon.

"Oke. Saya jadi pesan. Tapi separuhnya saja dari total pemesanan. Dan saya minta diantarkan ke alamat ya. Karena kita sedang sibuk, jadi belum bisa kesana." Ungkapnya.

"Baik, Mas. Barangnya akan kami siapkan setelah pembayaran dilakukan via transfer. Total sepuluh juta dua ratus ribu rupiah." 

Akhirnya, karyawanku menyebutkan nomor rekening toko yang dijadikan sebagai pembayaran non–cash. 

Setelah sejumlah nominal yang disebutkan masuk ke rekening, karyawan mempersiapkan barang yang diminta custumer.

Beberapa jenis kue dengan pesanan yang banyak jumlahnya tiap jenis, sedikit membuatku tertarik. Kira-kira untuk apa dia selalu membeli sebanyak ini. 

Kuputuskan untuk ikut mengantarkan ke alamat yang dimaksud.

Bersambung ...

Oleh:  Nurtila Kencanaa

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cerbung: Istri Barumu Mengejar Hartaku ( Bag 2)

Terkini

Iklan

Close x