Iklan

Iklan

Cerbung: Istri Barumu Mengejar Hartaku ( Bag 3)

11/27/21, 08:00 WIB Last Updated 2021-11-27T01:00:00Z

 Sampai di alamat tujuan, kusuruh Ari, karyawanku yang turun kesana. Kuperintahkan dia agar melihat situasi disana. Tapi, setelah melihat Ari masuk kesana, tampak sekali alamat yang dimaksud bukanlah sebuah rumah. Melainkan sebuah toko. Tepatnya toko bakery. 

Terpampang jelas, “Rara bakery”. Rasa penasaranku makin menjadi. Kutunggu sejenak hingga Ari Kembali masuk mobil. Setelah didalam mobil, barulah ari cerita.

“Sepertinya mereka membeli produk dari kita, Bu. Dan dijual Kembali di toko mereka.” Papar Ari.

“Apa kamu melihat wanita ini, Ri?” tanyaku lagi sambil menunjukkan poto Rara. 

“oh, iya Bu. Tadi ada wanita di poto ini, disana.” Tegas Ari lagi.

Ah, begitu rupanya. Tak mengapa, yang penting tidak ada hutang saat ia membeli dariku. Aku harus berhati-hati. Karena sedikit aneh, mengapa dia harus mengambil produk dari toko ku? Aku harus cari tahu. Supaya tidak penasaran, aku meminta Rini menemaniku untuk turun pura-pura membeli kue disana. 

 “Dessert box coklat dan sambosa size besar masing-masing 2 box ya, Mba.” Pinta seorang ibu yang mengantri didepanku.

“Bu, itu bukannya Bu Darmawan? Tetangga ibu dulu yang sering order snack di toko cabang lama?” bisik Rini padaku.

“Sepertinya, iya Rin. Cepat pesan beberapa. Aku keluar nyusul Bu Darmawan, ya.” Kupelankan suara pada Rini, sambil keluar dari toko. 

Setelah keluar dari area toko Rara, aku memanggil Bu Darmawan. Ia begitu terkejut dengan keehadiranku yang tiba-tiba. 

Karena sudah lama tidak berjumpa, kutanya kabarnya dengan baik. Bu Darmawanpun menyambut kehadiranku yang mendadak ini dengan syok bercampur bahagia. Kuceritakan apa yang terjadi disini, sampai ketemu dengannya.

“Jadi, Rara bakery ini bukan punya nak Diaz tho?!  Saya kira ini salah satu tokonya Nak Diaz. Karena semua menu sama persis rasanya dengan yang dulu nak Diaz jual di cabang lama.” Jelas Bu Darmawan penuh keingintahuan.

“Iya bu, Rara Bakery ini bukan punya saya. Tapi produk-produknya owner Rara bakery ambil dari saya. Sayapun juga baru tahu belakangan ini. Makanya saya mau lihat langsung. Ternyata benar. Memangnya Bu Darmawan bisa tahu Rara Bakery ini punya siapa, tahu darimana?” tanyaku balik.

“Semenjak  Nak Diaz pisah dari Nak Dani, cabang lama kan tidak beroperasi lagi. Gak lama setelah itu, saya main kerumah Dani. Saya tanyain, Diaz bakery masih buka apa enggak?”

“terus, Bu?” tanyaku penasaran.

“Nak Dani bilang, masih. Tapi mau ganti nama toko. Saya bilang, kalau rasa dan kualitas apa tetap sama? Dia jawab, sama. Saya diminta jangan khawatir soal itu, jelas Nak Dani. Tiba-tiba, istri nya yang baru itu bilang, masih enakkan buatan dia daripada buatan nak Diaz.” Paparnya lagi.

“Oh, begitu. Terus, Bu ….” Aku makin penasaran.

“Nak Diaz tahu sendiri, kan? Pelanggan-pelanggan lama Diaz Bakery itu banyakan dari kalangan menengah keatas, walau menengah kebawah juga ada. Bu Ajeng dan Bu Titi juga bingung nyari ‘taste’ yang sama dengan nak Diaz buat. Akhirnya, mau ga mau kita coba deh rasa kue Rara bakery.” 

“Lalu?”

“Rasanya aneh! Beda jauh dengan buatan Nak Diaz. Bu Titi ngomel-ngomel, sampe minta ngembaliin semua kue pesanannya. Besok harinya, Nak Dani mengganti semua kue yang dibeli Bu Titi. Pas dicobain, kok rasanya mirip banget dengan toko Diaz Bakery. Baru deh dari sana kita balik lagi langganan ke Rara Bakery.” 

Panjang lebar Bu Darmawan menceritakan semuanya. Aku jadi mengerti, motif yang dia lakukan adalah untuk menarik konsumenku dulu. Tapi, tidak seharusnya Mas Dani ngeklaim Rara Bakery tetap sama kualitasnya dengan Diaz Bakery. 

Bu Darmawan juga cerita, ternyata Mas Dani benar-benar bangkrut. Akhirnya ambil jalan pintas buka usaha yang sama denganku. Liciknya, produkku dia beli dan diklaim sebagai produk mereka. Mereka tinggal mengganti kemasan dari Diaz Bakery menjadi Rara Bakery. Dasar tidak professional. 

Akhirnya aku pamit pada Bu Darmawan, tak lupa kuberi kartu namaku lengkap dengan kartu nama 7 cabang Diaz Bakery. Lihat saja nanti, akan kukerjai mereka.

***

Makin hari, jumlah pesanan Rara Bakery makin menurun. Dari informasi yang kudapat, pelanggan Rara Bakery yang kebanyakan adalah pelangganku dulu, semua beralih pindah belanja ke Diaz Bakery. Ternyata, Bu Darmawan, Bu Ajeng dan Bu Titi lah yang telah memberitahukan yang sebenarnya. Karena harga di Diaz Bakery tentu lebih murah dibandingkan disana, maka banyak yang pindah ketempatku. Rasa sama, harga jauh lebih masuk akal. Begitu kata mereka.

Rini pun memberitahuku, bahwa penjualan bulan ini meningkat pesat. Naik 400 persen dari biasa. Selain memang karyawan bidang promosi mampu menjalankan tugasnya, mungkin faktor keberuntungan karena campur tangan Bu Darmawan dan teman-temannya. 

Hingga suatu hari, karyawannya Rara Bakery datang Kembali ke toko.

“Mba, saya pesan beberapa kue, ya.  Tolong disiapkan, ini catatannya.” Sambil menyerahkan daftar kue yang akan dibeli kepada karyawanku.

“Tumben, Mas … hanya sedikit, biasanya banyak.” Tanya salah satu karyawanku yang biasa menyiapkan pesanannya.

“Iya, Mba. Saya Cuma disuruh aja. Itu Bu Bos yang perintahkan.” Jawabnya balik.

“Ini Mas, sudah siap. Totalnya tiga juta lima ratus ribu rupiah, ya.” Sambil menyebutkan nominal belanjaannya.

Setelah membayar, aku samperin karyawanku. Kata mereka, biasanya rata-rata sehari belanja sepuluh sampai dua belas juta. Tapi sekarang, hanya tiga jutaan saja. Ingin rasanya menyelidiki kembali perbuatan mereka. Tapi ya sudahlah. Nanti malah bikin hati jadi tidak tenang.

Hingga suatu hari, karyawan Rara bakery tidak pernah belanja lagi di toko. Menurut informasi dari Bu Darmawan, toko mereka tutup karena tidak ada pelanggan. Mereka sempat membeli dari toko lain yang lebih terjangkau, namun hanya bertahan beberapa minggu. Setelahnya sepi kembali. 

Hari ini aku tidak datang ke cabang pusat, karena ingin menemani putraku yang sudah mulai tumbuh menggemaskan. Diusianya hampir ke tiga tahun, Kendra sudah bisa berbicara dengan lancar dan beraktifitas dengan baik. Bibi Santy selalu memberikan kasih sayang dan pendidikan terbaik dirumah buat Kendra. Beruntung sekali Bibi sangat menyayangi kami berdua. 

Lagi asik bermain sama Kendra, tiba-tiba pintu diketuk.

“Ibu?!” Aku terkejut melihat kedatangan ibunya Mas Dani yang tiba-tiba begini.

“Diaz … iya, ini Ibu …” jawabnya sedikit canggung.

“Silahkan duduk, Bu. Ibu sehat? Ada apa, Bu? Tumben ….” Kugantung kalimatku, karena memang aneh sekali ia tiba-tiba berkunjung. 

“Ibu … mau minta maaf sama kamu. Ibu … menyesal sudah membuat Dani menceraikanmu …. Maukah kamu memaafkan Ibu, Diaz?” pintanya, yang entah aku tidak tahu apa maksud Ibu kali ini.

“Diaz, sudah lama memaafkan Ibu. Hanya saja, mungkin Diaz belum bisa melupakan kejadian saat itu, Bu. Mas Dani begitu tega.” Lanjutku.

“Ibu benar-benar minta maaf ya, Diaz? Ibu sungguh menyesal ….” Sambil meneteskan air mata dan menunduk dihadapanku.

“Diaz sudah maafkan Ibu, kok. Sudah … jangan menangis ya, Bu?” ucapku sambil memegang tangan ibu yang begitu dingin.

“Mamaaaa … nanti Kendra mau diajak Nenek beli mainan, lhoo Maa …” tiba-tiba anakku teriak dan datang keruang depan menghampiriku. 

Ibu yang lantas kaget, memandang Kendra dengan seksama. Lalu bergantian menatapku, seolah ingin bertanya.

“Dia anakmu … dari yang … ?” tanya Ibu terlihat menelisik.

“Dia, cucumu, Bu.” Sambil kusematkan seulas senyum pada Ibu.

Tiba-tiba Ibu jatuh, dengan sigap kutangkap tubuh Ibu sebisa mungkin. Ibu pingsan.

Bersambung...

Oleh:  Nurtila Kencanaa

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cerbung: Istri Barumu Mengejar Hartaku ( Bag 3)

Terkini

Iklan

Close x