Iklan

Iklan

Cerbung: Istri Barumu Mengejar Hartaku ( Bag 5)

11/29/21, 09:00 WIB Last Updated 2021-11-29T02:00:00Z

 Sebulan berlalu setelah Ibu Mas Dani pulang, Mas Dani dan Rara datang kerumah. Anehnya, Mas Dani seperti tidak ingin menemuiku karena terkesan seperti dipaksa. Sementara Rara, ia terlihat angkuh sekali. Bahkan sampai menarik-narik tangan Mas Dani agar tetap bersamanya menemuiku.


“Diaz, kedatangan kami kemari adalah untuk meminta dengan baik-baik atas harta gono gini yang tertunda. Tepatnya, Mas Dani ingin dibagi haknya sekarang. Bukan begitu, Mas?” liriknya pada Mas Dani yang terlihat banyak menunduk. Aku ikut melirik kearah Mas Dani, menunggu jawabannya.

“Mas!” sikut Rara ke lengan Mas Dani yang terlihat kikuk. 

“Mm-Mas, i-itu … itu, i-iya. Kamu apa kabarnya, Dek?” sontak kata-kata Mas Dani membuat Rara berang.

“Kamu apaan sih, Mas?! Kita kesini bukan untuk nanyain kabarnya! Tapi minta harta milik kamu yang dia makan sendiri!” ucapan Rara barusan bikin aku kesal.

“Stop! Aku sudah katakana padamu ya, tidak ada serupiahpun duit suamimu ini dalam usaha yang aku bangun. Paham! Silahkan kalian angkat kaki dari sini, atau saya panggilkan satpam sekomplek untuk menggeret kalian keluar!” kuancam mereka, karena tidak sopan padaku.

“Dengan ya, Diaz! Kami akan menuntutmu di pengadilan!” sambil berdiri, Rara menunjuk mukaku dengan telunjuknya.

“Silahkan! Akan aku hadapi kalian! Dan ingat, jangan sampai kau menyesal nantinya!” kutunjuk balik mukanya Rara, dia pikir dia saja yang berani.

“Dan kau, Mas Dani … aku juga akan menuntutmu di pengadilan karena kau tidak pernah memberi nafkah buat anakmu sendiri!” lanjutku pada Mas Dani.

“Heh! Jangan ngaku-ngaku punya anak dari suamiku, ya. Kau itu wanita mandul! Ingat, mandul!” sahut Rara mengejek.

Kutahan emosiku, karena rasanya ingin sekali kutampar mulutnya yang terdengar seperti sampah itu.

“Sekali lagi kau sebut aku mandul, aku tidak akan main-main untuk menghajarmu!” kutatap tajam mata wanita itu sambil menunjuk bahu kirinya. Ia  sedikit kaget atas tindakanku tadi.

Tiba-tiba tiga orang satpam komplek datang kerumahku, dan membawa keluar secara paksa wanita itu dan Mas Dani. Rara yang tampak melawan, tapi kalah kuat dengan para satpam. Sementara Mas Dani tidak melawan sedikitpun. Syukurlah, ternyata Bibi Santy sudah lebih sigap dan segera melapor ke bagian keamanan komplek.

Malam harinya, ada pesan chat masuk dari Mas Dani. 

[Dek, benarkah aku punya anak darimu? Tolong jawab!] tanyanya.

[Kau masih peduli? Bukankah saat menalakku dulu sudah kuberi tahu padamu, bahwa aku sedang hamil?] balasku.

[Berarti benar, aku punya anak?] Mas Dani minta kepastian lagi.

[Aku sudah menganggap anakku tidak punya Ayah! Karena Ayahnya dulu tak memilih anaknya! Malah memilih perempuan lain!] kusindir dia agar bisa intropeksi diri.

[Maafkan aku, Diaz. Aku khilaf …. Aku tak sabar untuk memiliki seorang anak. Keputusanku malam itu adalah sebuah kefatalan. Maafkan aku …] balas Mas Dani lagi.

[Aku masih merekam jelas kata-katamu dulu, Mas!] kukirim sebuah rekaman ucapan Mas Dani dulu saat menalakku. 

“Aku pamit. Ingat, Mas ... jangan sesekali kau mencariku. Kita sudah bukan apa-apa dan siapa-siapa lagi." 

"Karena aku sudah menceraikanmu, maka haram bagiku untuk menemuimu lagi. Bukankah kau tidak bisa mengikuti keinginanku? Jadi, buat apa aku mencarimu. Rara akan memberiku anak nanti. Jadi ... kurasa aku tidak akan kesepian." 

"Aku tidak pula akan mengusikmu, Mas. Namun, perlu kau ketahui, aku sudah telat satu minggu. Dan kau tak sabar untuk itu. Sehingga lebih rela mencari yang lain." 

"Baik. Silahkan pergi!" 

Ya, keputusan yang diambil malam itu, sudah kupersiapkan dengan baik. Walau memang hati serasa hancur sejadi-jadinya. Aku tahu konsekuensinya, jika suatu hari nanti ayah biologis  anakku pasti akan datang mencari tahu. Dan aku mempersiapan rekaman ucapan Mas Dani malam itu, untuk memberinya pelajaran. Bahwa penyesalan itu selalu datang belakangan, maka dari itu pikirkan kembali kata-kata yang akan keluar dari mulut. Apalagi sampai menyakiti.

Tak dibalas chat terakhirku oleh Mas Dani. Aku tahu, dia pasti menyesal. Karma itu berlaku bagi yang berbuat dzalim. Kau fitnah aku mandul, ternyata Tuhan masih sayang padaku. Malah selingkuhanmu itu yang mandul. Dengan sombong kau ucapkan bahwa ia akan memberimu anak, namun kenyataannya? 

Banyak cara Tuhan untuk menunjukkan mana yang benar dan salah. Ibu mertua cerita banyak saat ia menyadari kesalahannya mendukungmu menikahi wanita itu. Istrimu itu hanya butuh uangmu, Mas. Dan tidak ada niat untuk memiliki anak darimu. Hingga mungkin Tuhan benar-benar membuatnya tidak bisa memiliki keturunan.

Rara kali ini benar-benar membuktikan ucapannya. Dan aku siap mengahdapinya. Kupenuhi semua panggilan dari pihak pengadilan, kusiapkan juga pengacara. Sayang, nasib baik tak berpihak pada mereka. Hakim malah memutuskan, Mas Dani wajib memberi nafkah bulanan untuk Kendra. Dan Rara tidak mendapat apa-apa dari usahanya itu. 

Singkat cerita, informasi yang kudapat bahwa, Rara meninggalkan Mas Dani. Ia lebih memilih mencari suami baru yang lebih berharta. Mas Dani sangat terpukul. Tapi itu adalah ulahnya sendiri. Terakhir yang kuketahui, harta Mas Dani habis dijual Rara. 

Mas Dani melaporkan Rara kepihak berwajib, karena dianggap melakukan tindak pidana penipuan atas penjualan harta milik Mas Dani secara diam-diam. Rara sempat ditangkap oleh polisi, namun dia bisa keluar karena ada yang menjaminnya. Dan naasnya, harta Mas Dani tidak balik secuil pun dari yang Rara jual. Hanya tersisa ruko usaha Rara Bakery. Karena surat menyurat ruko tersebut belum jelas. Entah darimana Rara membeli ruko itu dengan tanpa surat yang jelas. 

Suatu hari, tiba-tiba Mba Arum, asisten rumahku tergopoh-gopoh menghampiriku ke kamar.

“Bu, Bu! Hayo cepat keluar, Bu! Ada yang nempel  kertas ancaman dipagar depan.” Kata Mba Arum dengan panik.

Aku langsung keluar menuju pagar depan rumah. Ternyata benar, ada kertas yang ditempel di pagar. Isinya, “Tunggu pembalasanku, Diaz!” ditulis dengan cat warna merah.

Siapa yang menulis ancaman itu? Aku emnebak-nebak. Apa mungkin Mas Dani? Jangan-jangan …. Aku menjadi khawatir dengan lepasnya Rara begitu saja, pasti yang menjamin bebasnya Rara bukanlah orang biasa. Aku harus terus waspada, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 

Tak lama, aku langsung mengecek CCTV yang terpasang di area depan rumah. Kuperiksa dengan seksama, belum ada yang mencurigakan dari jam selepas magrib hingga jam sepuluh malam. Tiba di jam ke dua dini hari, terlihat ada seseorang yang mengendap-endap depan rumah. Perawakannya seperti seorang laki-laki, Cuma karena pakaiannya serba tertutup, hanya mata yang terlihat. Jadi aku tidak mengenal sosok tersebut. 

Kejadian ini kulaporka pada pihak keamanan komplek. Mereka syok, karena tidak ada yang melihat sosok tersebut lewat dari pintu depan komplek. Namun untuk berjaga-jaga, pihak pengembang perumahan komplek ini menambah personil keamanan dari gerbang depan hingga gerbang belakang komplek. 

Aku sedikit bernafas lega. Karena dalam tiga hari setelah kejadian terir itu, tidak ada peristiwa apapun yang terjadi terhadapku maupun keluargaku. Hingga suatu hari, ada pesan masuk di notifikasi gawaiku.

“Diaz, segera cari rumah baru di kabupaten sebelah. Lalu, pindahlah segera! Kondisi kalian sedang di incar. Nanti akan Ibu ceritakan jika kalian semua sudah pindah.” 

Apa? Pesan ini dari Ibu Mas Dani?! Ada apa ini, kenapa semua terjadi berbarengan? Akankah aku mengikuti perintah Ibu Mas Dani, atau tetap bertahan disini?

Bersambung ...

Oleh:  Nurtila Kencanaa

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cerbung: Istri Barumu Mengejar Hartaku ( Bag 5)

Terkini

Iklan

Close x