Iklan

Iklan

Cerbung: Istri Barumu Mengejar Hartaku ( Bag 4)

11/28/21, 08:00 WIB Last Updated 2021-11-28T01:00:00Z

 Setelah siuman, kuberi Ibu segelas teh manis hangat. Kesuapi sedikit demi sedikit teh it uke mulut ibu. Tidak lama, kondisi Ibu Kembali pulih. 


“Maafkan Ibu ya , Diaz? Ibu benar-benar seorang mertua yang tidak berperasaan. Ibu terhasut oleh wanita itu, yang telah percaya kalau kamu itu mandul. Di meyakinkan Ibu dengan surat hasil dokter, bahwa kamu itu mandul. Kejam sekali dia ….” Ibu tergugu nangis kembali. Langsung kutenangkan dirinya.

Lalu aku ceritakan semua tentang Kendra kepada Ibu. Ibu sangat terkejut. Ia tidak menyangka kalau saat aku diceraikan anaknya, aku sedang hamil muda. Dan ternyata Mas Dani pun tidak cerita apa-apa soal ini, walaupun sudah kuberitahu kondisiku sedang hamil padanya. Malah Rara lah yang telah membuatnya berfikir buruk tentangku, memberikan surat dokter yang palsu padanya. 

“Kendra, sini salim dulu sama Nenek, ya?” ajakku padanya sambil melambaikan tangan.

“Nenek Kendra kan di sana, maaa …” balas Kendra sambil tetap mencium tangan Ibu Mas Dani.

Seketika wajah Ibu Mas Dani sedikit berubah setelah perkataan Kendra barusan. Aku suruh Kendra masuk kembali kedalam. 

Ibu menangis sejadi-jadinya. Ia tak menyangka, dan sangat menyesal atas ketidak sabarannya dalam menantikan cucu dari anak kandungnya. Sampai-sampai mempengaruhi anaknya sendiri untuk menikah lagi. 

“Rara, benar-benar gila! Dia mempengaruhi Dani dengan segala cara. Dan parahnya, Dani mudah termakan hasutannya. Ibu tak akan membela Dani, tapi memang Dani sudah kelewatan juga. Setelah  rumahnya dijual untuk buat rumah baru atas nama istrinya itu, kini Dani maksa ingin menjual rumah Ibu juga!” sambung Ibu.

“Sekarang, rumah Ibu lagi ada yang menawar kata Dani. Makanya, Ibu kesini untuk menitipkan surat rumah Ibu padamu, Diaz. Ibu tidak ada pilihan, Ibu lebih percaya sama kamu ketimbang si Dani dan Rara istrinya,” ucap ibu sambil menatapku penuh harap.

“jangan, Bu. Jangan dititip sama Diaz. Dulu, sehabis Diaz melahirkan Kendra, Rara datang kerumah ini. Dia marah-marah karena merasa Diaz membawa harta Mas Dani. Padahal, tidak satupun aku mengambil harta Mas Dani,” ungkapku pada Ibu.

“Ya Allah, benar-benar sudah gila si Rara. Diaz … Ibu percaya sama kamu, kamu itu dari dulu memang mandiri. Usaha kamu dari sebelum menikah dengan Dani, Ibu tahu. Itu memang hak kamu, tidak ada campur tangan Dani, apalagi Rara. Hanya … hati ibu masih nyeri sendiri, ingat saat waktu itu, Ibu ikutan menjauhimu dari Dani. Hanya demi sebuah ego dalam diri Ibu. Padahal, jika Ibu sabar dan mau banyak berkunjung kerumah kalian, Ibu gak akan termakan hasutan Rara yang diam-diam masuk merusak rumah tangga kalian. Maaf kan Ibu, ya Diaz? Ibu telah berbuat tidak adil sama kamu ….” Ibu sesenggukan lagi, terlihat sekali penyesalannya. 

“Sudahlah, Bu …. Diaz sudah maafin Ibu. Doakan Diaz selalu kuat demi cucu Ibu, ya?” pelukku pada Ibu dan dibalas dengan erat sekali. 

Akhirnya, hari itu, aku menemukan sebuah hikmah dalam hidup. Meluaskan hati untuk sebuah goresan luka, mampu melenyapkan rasa sakit lebih banyak. Karena tiap detik napas kita, goresan itu bisa saja terulang kembali jika hati dalam kondisi sempit. Ya, memaafkan.

Setelah kami berdiskusi soal rumah Ibu yang hendak dijual Mas Dani, Ibu memutuskan untuk segera menjual rumah itu tanpa sepengetahuan Mas Dani dan Rara. Bibi Santy membantu mencarikan orang yang hendak membeli rumah Ibu. Alhamdulillah, hitungan tiga hari Bibi dapatkan pembeli yang cocok. 

Aku memutuskan untuk tidak ingin ikut campur dalam jual beli rumah Ibu. Biarlah itu menjadi urusan Ibu dengan si pembeli. Akhirnya, rumah itu sudah laku. Ibu terlihat senang sekali. Ibu punya rencana ingin pulang ke kampung halamannya di Jawa Tengah. 

“Ibu Pamit, ya …. InsyaAllah, jika ada kesempatan, Ibu akan mampir kesini lagi. Nenek pamit ya, Kendra sayang?” ucap ibu.

“Kendra akan tunggu Nenek datang Kembali, yaaa …” kata Kendra dengan nada gembira penuh harap.

“Tentu, cucu nenek yang Ganteng. Nenek pasti datang lagi kemari,” jawab Ibu pada Kendra sambil tersenyum.

“Horeeeeee!” teriak Kendra sambil berlari kesana kemari tanda ia punya harapan besar pada Neneknya. 

“Ibu pamit, ya. Jeng Santy, mohon bantuannya untuk menjaga Diaz dan cucuku, ya? Semoga Tuhan akan membalas semua kebaikan Jeng Santy yang telah merawat dan membesarkan hati Diaz. Saya seperti berhutang jasa sama Jeng Santi. Harusnya, saya yang melindungi manta say aini, tapi kenyataannya …” ibu kembali bersedih.

“Sudahlah, Jeng. Semua sudah berlalu, Jeng Irma harus kuat juga, supaya bisa sama-sama menjaga Diaz dan Kendra. Walau dari jauh, mereka tetap akan merasakan kasih sayang Jeng Irma, InsyaAllah. Sudah, jangan dipikirkan lagi ya, Jeng?” kalimat Bibi Santy begitu menguatkan Ibu, mereka akhirnya berpelukan.

Akhirnya, Ibu Mas Dani berangkat naik taxi menuju Bandara. Semoga hatinya sudah bisa tenang, dan menjadikan pelajaran berharga kejadian masa lalu. 

Malam hari, ketika hendak menyiapkan berkas kerja besok, aku melihat sebuah kertas kuning nyelip dibawah box bindex file. Karena merasa tak pernah punya berkas warna kuning, kuraih segera kertas itu. Ternyata ini sebuah map berwarna kuning. Kubuka perlahan map itu. Isinya dua buah amplop coklat. Amplop pertama ada tulisan “Untuk Diaz”. Langsung kubuka isinya. Ternyata sebuah surat, lalu kubaca perlahan.

Diaz yang baik hatinya.

Semoga kamu bisa tulus memaafkan Ibu ya, Nak?

Malu sekali Ibu dihadapanmu, saat semua tahu, semua terkuak. 

Maafkan Ibu tak bisa mendidik Dani, hingga kau ditinggalkannya.

Maafkan Ibu ya, Nak?

Ibu selalu dihantui rasa bersalah, makanya Ibu lebih memilih menjauh dari kalian.

Jika hati Ibu nanti sudah tenang, dan bisa memaafkan diri Ibu sendiri …

Apakah, kamu mau menerima Ibu kembali? Walau Ibu hanya sekedar mampir untuk melihat Kendra.

Ibu tahu, Diaz pasti telah memafkan Ibu. Semoga Ibupun bisa mempunyai hati setulus kamu Diaz.

Oh Iya, Ibu titip hadiah buat cucu Ibu, Kendra. Tolong kamu simpan ya, Diaz.

Itu bekal suatu saat nanti Kendra butuh untuk Pendidikan dan masa depannya.

Tolong jangan ditolak. Ini bentuk rasa sayang dan cinta Ibu pada kalian berdua.

Terimakasih sudah memaafkan Ibu ya Diaz. Sampaikan salam pada Jeng Santy.

Nanti kapan-kapan Ibu mau masak bareng dia lagi.

Salam sayang dari Ibu.

Irna Ratna Dewi

Ya Tuhan, Ibu…. Aku telah melihat kesungguhan maafmu yang tulus. Mencoba menyelami hati dan perasaanmu saat ini, Bu. Aku tahu, rasa bersalah itu menghantui Ibu tentunya. Semoga Ibu baik-baik disana, aku sudah melupakan yang telah lalu, Bu. Batinku, sambil berlinang air mata. Haru…

Lalu, kubuka amplop coklat satunya lagi. Ternyata, Ibu memberi Kendra sebuah deposito tabungan, lengkap dengan buku tabungan, ATM, serta PIN nya. Ketika kubuka buku tabungan itu, MasyaAllah, nilainya hampir dua Miliar rupiah. Ah, Ibu…. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya doat ulus kupanjatkan untuk keselamatan, kesehatan dan keberkahan hidup dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bersambung ...

Oleh:  Nurtila Kencanaa

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cerbung: Istri Barumu Mengejar Hartaku ( Bag 4)

Terkini

Iklan

Close x