Iklan

Iklan

Cerbung: Istri Barumu Mengejar Hartaku ( Bag 1)

11/25/21, 20:03 WIB Last Updated 2021-11-25T13:03:43Z

"Silahkan pergi dari rumah ini dan kau kuceraikan! Atau, tetap di rumah ini tapi aku membawa Rara kesini sebagai istri keduaku. Silahkan kau pilih, Diaz!" Kata-katanya begitu menusuk jantung, tak percaya rasanya suami yang kucintai malah memberiku pilihan seperti ini. 

Tak tahan lagi dengan kelakuan Mas Dani, aku memilih keputusan berat. Keputusan yang Mas Dani sendiri berikan padaku. 

"Aku pilih ... mundur!" Walau ragu, tapi kubulatkan tekad untuk memilih jalan ini. 

"Diaz Kencana, mulai detik ini kutalak dirimu. Silahkan pergi dari rumahku, dan kemasi barang-barangmu!" Suara lantang itu terdengar begitu menyakitkan hati. Biarlah, aku memang tidak bisa menjalani hidup seperti yang Mas Dani inginkan. Bukan menolak, tapi aku belum bisa. 

Kukemasi barang-barang miliku, termasuk surat berharga yang memang atas nama diriku, serta tak lupa perhiasan dari orangtuaku, juga aku bawa. 

Syukurlah, Mas Dani tidak mengusiknya. Dia tahu, memang itu adalah hakku. 

Dengan langkah gontai, aku berusaha sekuat mungkin tidak meneteskan air mata kesedihan ini dihadapannya. 

"Aku pamit. Ingat, Mas ... jangan sesekali kau mencariku. Kita sudah bukan apa-apa dan siapa-siapa lagi." Datar kukatakan itu pada Mas Dani, tidak ada amarah sama sekali. 

"Karena aku sudah menceraikanmu, maka haram bagiku untuk menemuimu lagi. Bukankah kau tidak bisa mengikuti keinginanku? Jadi, buat apa aku mencarimu. Rara akan memberiku anak nanti. Jadi ... kurasa aku tidak akan kesepian." Pungkasnya. 

"Aku tidak pula akan mengusikmu, Mas. Namun, perlu kau ketahui, aku sudah telat satu minggu. Dan kau tak sabar untuk itu. Sehingga lebih rela mencari yang lain." Kutekankan padanya, bahwa aku sedang hamil. Biar Mas Dani tahu, aku tidaklah mandul seperti perkiraannya. 

"Baik. Silahkan pergi!" Benar-benar tak ada penyesalan dihatinya. Tak ada kegusaran bahwa istri yang baru saja ia talak, sedang mengandung anaknya yang ia nanti-nantikan. 

Kubawa semua barang-barangku, tanpa menoleh lagi padanya. 


Setibanya di rumahku yang baru, langsung kurebahkan diri ini di kasur. Kutenggelamkan wajah dengan sebuah bantal. Aku ingin terlelap hari ini, agar tak banyak fikiran yang malah membuatku makin frustasi. 

Keesokan hari, selepas solat subuh, langsung kubereskan semua barang-barangku. Ku tata dengan rapi semua pakaian, perhiasan dan lain-lain. 

Rumah ini baru 3 bulan lalu selesai dibangun. Kubangun dengan uang hasil jualanku. Mas Dani tahu aku punya usaha toko bakery, dan modalnya pun murni dari warisan kedua orangtuaku. Dan dia tidak pernah mengusik sedikitpun. Dia mengerti kalau uang yang kumiliki adalah sepenuhnya hakku. 

Mas Dani tidak pernah lalai dalam memberi nafkah, dan aku selalu mengelola uang pemberian Mas Dani dengan baik.

Sebenarnya, Mas Dani adalah laki-laki yang baik. Namun karena akhir-akhir ini dia punya bisnis baru, dan rekan bisnisnya ternyata seorang wanita yang membuatnya kagum hingga jatuh cinta. Wanita yang belakangan kuketahui adalah seorang wanita matrealistis, yang hanya peduli soal harta, dan bukan sebuah ketulusan.

Ya, dia adalah Rara. Yang sebentar lagi akan menjadi istri baru Mas Dani. Makanya, aku lebih memilih mundur. Sudah kutebak bagaimana nanti jika kami bersama. 

Lima tahun pernikahanku dengan Mas Dani, masih belum Tuhan kasih amanah seorang anak. Tidak ada yang salah dari kami berdua, dokter bilang semuanya sehat. Tinggal nunggu waktu saja, jika Tuhan berkehendak, insyaAllah kami akan dikaruniakan seorang anak. 

Namun, Mas Dani sepertinya tidak mau bersabar. Malah dia tidak percaya dengan hasil pemeriksaan dokter. Mas Dani berasumsi, mungkin saja aku, istrinya yang mandul. 

Keinginannya untuk punya anak, juga didukung penuh oleh ibu mertua. Mungkin karena sudah lama aku tak kunjung hamil, Mas Dani terpengaruh sang ibu untuk menikah lagi. 

Sudahlah, yang penting aku sudah nyaman. Tidak ada tekanan sana-sini. Biarlah nanti menjadi takdir Tuhan, bagaimana kehidupanku kedepan.  Semoga Tuhan mendengar semua doa-doaku. Bismillah, aku  kuat dan aku bisa menjalaninya.

*

"Hoek, hoek ..." mual sekali rasanya pagi ini. 

Karena tak tahan, aku segera ke dokter. Kuperiksakan diri ini, agar segera mendapat pertolongan. 

"Ibu Diaz, sepertinya ibu sedang hamil muda. Sudah telat berapa hari?" tanya dokter.

"Hampir sepuluh hari, Dok." Aku baru ingat, sepertinya memang telat datang bulan. Karena sibuk pindahan setelah bercerai dari Mas Dani, aku lupa untuk memeriksakan hal ini. 

Aku dinyatakan hamil empat minggu. Dan dokter memberiku vitamin dan obat penguat rahim. 

Bahagia rasanya dengan kabar ini, namun dari sudut hati, ada perasaan sedih. Anak ini akan lahir tanpa kasih sayang dari seorang ayah. 

Tak apalah, aku memang sudah memilih jalan ini. Jadi aku harus bisa menjalaninya dengan baik dan sabar. 


Tak berapa lama, surat akta ceraiku dengan Mas Dani terkirim kerumah. Cepat juga Mas Dani mengurusnya. Siang ini aku ingin sekali menceritakan keadaanku kepada Bibi. Bibi Santi, dia adalah adik Ayahku. Karena kedua orangtuaku sudah meninggal setahun lalu, jadi Bibi Santi lah yang sekarang kuanggap sebagai pengganti orangtuaku. 

Keesokan hari, setelah mengunjungi toko kue milikku, aku langsung kerumah Bibi Santi. 

Kuceritakan semua yang terjadi pada rumah tanggaku. Terlihat sekali Bibi sedih. Dia seolah tak percaya dengan semua yang terjadi. 

"Diaz ... kamu harus kuat, ya? Mungkin ini sudah takdirmu. Walau Bibi sedikit kecewa dengan Dani. Tak pantas ia memperlakukanmu begini. Yang sabar ya, sayang." Sambil mengusap punggungku, Bibi Santi terlihat menitikkan air mata. Lalu kami berpelukan.

Kami berdua lebih banyak merencanakan masa depan. Bibi support penuh. Dia akan mendukung semua keputusanku dalam mengembangan usaha bakery.

Usahaku semakin maju pesat. Mungkin ini menjadi jalan rezeki buat sikecil lahir nanti. Toko kue ku dari 4 cabang, mulai maju dan nambah menjadi 7 cabang. 

Entahlah, Tuhan memang sangat baik. 7 cabang toko kue, dengan kios yang besar-besar, tanpa sewa. Semua hasil usaha mampu membeli ruko besar bahkan sebuah rumah lagi sebagai aset. 

Menjelang persalinan, Bibi Santi lebih sering menginap di rumahku. Bibi juga mencarikan dua orang asisten rumah tangga untuk bantu-bantu nanti setelah aku melahirkan. 

Hingga hari itu tiba, aku melahirkan seorang bayi laki-laki yang ganteng. Wajahnya mirip sekali dengan Mas Dani. Putih, hidungnya mancung, matanya bulat, dan ganteng sekali. 

Aku dan Bibi sangat bahagia. Kuberi nama, Kendra Kencana Wijaya. Semoga nanti menjadi laki-laki yang tangguh dan memiliki jiwa satria yang bersinar bak keemasan.

Tiba-tiba, mbak asisten datang dengan panik.

"Bu, ada yang datang didepan. Dia marah-marah, Bu. Sa–saya takut, Bu." Mba Arum terlihat sekali katakutan.

"Siapa Mba, yang marah! Dia bilang apa?" Tanyaku.

"Dia mau ketemu sama Bu Diaz. Orangnya teriak-teriak gitu, Bu. Katanya Bu Diaz sudah menguras harta suaminya …." Ujar Mba Arum lagi. 

"Perempuan, Mba?" Lanjut Bibi Santi bertanya.

"I–iya, Bu." Jawabnya gugup.

Siapa wanita itu? Batinku. Atau jangan-jangan, dia itu ....

Bersambung... 


Oleh:  Nurtila Kencanaa

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cerbung: Istri Barumu Mengejar Hartaku ( Bag 1)

Terkini

Iklan

Close x