Iklan

Iklan

Cerbung: Acara Pembagian warisan ( Bag 1 )

11/30/21, 09:30 WIB Last Updated 2021-11-30T02:30:00Z

 "Ma, nanti malam Papa drop ke rumah Kak Reva, ya?" ujar suamiku.

"Oh, Boleh. Emang Papa mau kemana?" aku penasaran, karena yang kudengar dari ipar lain, keluarga suamiku habis menjual warisan.

"Biasa, Mas Aris yang minta Papa dan saudara lain kumpul di kedai dekat rumahnya." 

"Okelah, Mama sekalian mau belanja ke minimarket dekat rumah Kak Reva."

"Iya, terserah Mama aja. Tapi jangan nimbrung di kedai itu ya. Kan kamu tau sendiri, sifat sodara-sodara Mas kayak apa?" 

"Yaelah, Pa ... Mau ngapain juga Mama ikutan bagi-bagi warisan. Orang Mama bukan siapa-siapa juga!" 

"Maklum aja ya, Ma? Kalau Papa sebenarnya gak mau pusing. Cuma ini memang Mas Aris mau semua hadir," ujarnya sedikit gelisah.

"Kamu kan tau sendiri, urusan warisan ini, semua sodara-sodara Papa gak mau sampe para istri-istrinya tau," ujarnya lagi.

"Aneh ya, Pa. Padahal kan, itu istrinya sendiri, hehe. Kak Reva juga bilang, Mas Aris aja ngumpet-ngumpet kalau lagi nelpon pembeli rumah dan tanah waris itu, biar gak kedengaran sama istrinya!" sambungku.

"Yaaah ... begitulah keluarga Papa, Ma." Mas Arya sambil narik napas dalam-dalam.

"Tenang Pa! Mama kan orangnya gak baperan kayak yang lain. Lagian, itu memang sudah bener kok, yang hadir ya keluarga inti. Ipar mah apa atuh? Papa juga harus ingat, Mama itu gak sama dengan ipar yang lain," pungkasku.

* * *

Namaku Dinda, ibu rumah tangga dengan dua orang putra. Mas Arya, suamiku, seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta. 

Saat menikah dengan Mas Arya, yang hadir ke acara pernikahanku hanya Ayah dan Ibu mertua, saudara-saudara Mas Arya lagi berhalangan. Entahlah, apakah karena sengaja tak mau hadir atau takut direpotkan uangnya oleh Mas Arya. Padahal Mas Arya tidak seperti yang mereka pikirkan, pegawai kecil biasa yang bisa jadi akan menyusahkan kakak-kakaknya.

Di keluarga Mas Arya, semua dipandang dengan status harta. Sementara kami berdua selalu mengutamakan kesederhanaan dalam hidup. Bukan berarti tidak mampu. Hanya saja, berusaha menjadi pribadi sederhana, sederhana dalam artian tidak membeli banyak barang-barang mewah. 

Sebenarnya aku dan Mas Arya mampu saja membeli semua kemewahan, tapi memang kami tidak begitu ambil pusing dalam bergaya hidup. Jika memang nanti sudah diperlukan, ya pasti akan dibeli.

Kami membeli rumah sederhana dan memilih tinggal di daerah perumahan rakyat yang biasa-biasa. Tetangga pun juga banyak yang hidupnya sederhana, walaupun kulihat, mereka sepertinya termasuk orang yang mampu. Makanya kami senang tinggal disini, tidak perlu merasa iri bila ada tetangga yang belanja barang mewah. Karena semua memiliki frame berpikir sama, yaitu hidup sederhana.

Tibalah malam ini aku kerumah Kak Reva, diantar oleh Mas Arya naik motor. Baru saja tiba depan rumah Kak Reva, kakak ipar ku yang lain sibuk mengomentari kedatangan kami.

"Arya pasti uang warisannya nanti buat makan doang-an! Kalau beli mobil atau bangun rumah kayak kita nanti, pasti besok-besoknya gak bisa makan! Hahaha!" ejek Kak Mery sambil menertawai ku, yang ikut ditimpali ipar yang lain.

"Jangan diambil hati ya, Dek!" bisik Mas Arya pelan ketelingaku.

"Santuy, Mas ..."

"Assalamualaikum! Wah dah rame aja ..." sambil ku salami satu persatu istri-istri  kakak ipar ku itu. 

"Kirain kamu gak datang, Din." Tanya Kak Reva.

"Bagi-bagi warisan mah pasti datang dia, Kak! Ya gak!" ucap Kak Mery lagi mengejek.

"Hahahaha!" semua tertawa menimpali omongan Kak Mery.

Dalam hati, sebenarnya kalau kalian tahu saja siapa aku sebenarnya, bakalan menyesal sudah mengejekku! Batinku bergemuruh, namun tetap kutahan. Sabar, sabar. 

"Husst! Gak boleh gitu!" tegur Kak Reva pada mereka yang menertawaiku.

Kak Reva ini baik padaku, hanya saja sikap suaminya, Mas Aris, yang sedikit sombong. 

Aku orangnya tak peduli! Biarkan saja mereka mengejekku, asal tidak menginjak-injak harga diriku, aku masih akan sabar. Diejek tak berpunya, silahkan saja. Tak masalah, walau kenyataannya aku tidak seperti yang mereka kira.

"Ayo pada masuk, kita ngobrol aja kedalam," Kak Reva mempersilahkan kami masuk kedalam.

"Awas Kak Reva, tar makanannya dihabisin lho!" lagi, Kak Mery berkata ketus seraya mengucapkan kalimat itu disertai cebikkan bibirnya yang mengarah padaku dan anak-anak.

Aku santai saja, tak ku tanggapi. Masih sabar.

"Memang buat dimakan, Mery. Masa ditatapin aja. Ngawur kamu! Suruh anak-anak mu pada makan gih, Mer!" seru Kak Reva padanya.

Kak Mery, Kak Riri, dan Kak Novi bergegas memanggil anak-anak mereka. Semua menyerbu hidangan yang disuguhi Kak Reva. Hanya anak-anakku yang mengambil cemilan ringan. Kami sudah makan sebelum kesini tadi. Jadi masih sangat kenyang.

"Gak makan, Din?" tanya Kak Reva lagi.

"Sudah makan tadi kak, dirumah," ucapku ramah pada Kak Reva.

"Halah, tar kelaperan lagi! Ngadu ke Arya kita yang ngabisin. Sudah sini makan! Tapi kalo memang udah makan, ya jangan deh!" timpal Kak Mery dengan sikap tak sukanya.

Aku balas dengan senyuman saja, malas menanggapinya. 

Kedua anakku, Dafa dan Rafa, asik bermain dengan sepupu-sepupunya. Aku pamit sebentar ke Kak Reva, mau membeli sesuatu di minimarket seberang rumahnya.

"Paling juga beli nasi goreng, si Dinda! Belagu sok-sok an gak mau makan di Kak Reva. Kayak banyak duit aja" kicau Kak Mery lagi.

"Iya nih Dinda! Tar kita mau nimbrung ke kedai samping lho. Kamu gak usah ikutan, Din!" sambung Kak Riri.

Masih kudengar mereka menyindirku lagi saat di pintu depan. Aku hanya geleng-geleng kepala tak menanggapi, berlalu keluar.

Aku membeli berbagai macam kebutuhan bulanan rumah mulai dari sabun-sabunan, pewangi pakaian, bumbu dapur, mie instan untuk persediaan kalau anak-anak lagi malas makan, biskuit, roti tawar dan selainya, serta lain sebagainya yang memang diperlukan. 

Tak lupa, aku membelikan beberapa es krim untuk ponakan nanti yang datang dirumah Kak Reva. Walau saudara-saudara suamiku dan para istri-istri mereka sikapnya kurang suka terhadapku, aku tetap menyayangi ponakan-ponakan ku. Mereka masih bersikap baik pada Dafa dan Rafa, jadi apa salahnya menyenangkan mereka walau cuma es krim.

Dari seberang minimarket, kulihat Kak Mery, Kak Riri dan Kak Novi berjalan menuju kedai. Mereka mengambil posisi belakang saung tempat Mas Arya dan yang lain duduk, sehingga tak terlihat.

[Coba Mas lihat dibelakang saung tempat Mas duduk. Liat aja, jangan banyak tanya! Aku diseberang abis belanja. Mas jangan bilang kalau aku yang kasih tau.] 

Pesan chat itu ku kirim pada suami. Biar semua lihat, yang kepo itu siapa. Hihi, jahilin dikit tak apalah kurasa. Aku hanya mengamati dari sini.

"Ngapain pada kesini! Nguping ya!" teriak Mas Aji marah, terdengar sampai ke seberang.

Mereka bertiga jelas saja terkejut, tidak menyangka aksinya ketahuan. Kak Mery dan dua yang lain langsung ngibrit kabur. Karena para suami mereka hendak memarahi. Aku hanya terkikik melihatnya. Rasain!

Sesampainya dirumah Kak Reva, para kakak ipar ku lagi asik menceritakan keinginan mereka untuk membeli bermacam-macam barang jika warisan sudah dibagi. Kak Mery mau membeli mobil, Kak Riri mau bangun rumah, dan Kak Novi mau plesiran ke Bali.

Sementara Kak Reva, dia tidak mengungkapkan keinginannya membeli apapun. Aku tahu, Mas Aris suaminya termasuk suami yang pelit. Kak Reva diuntungkan karena punya gaji sendiri, sehingga tidak banyak bergantung pada suaminya jika ingin membeli sesuatu. 

"Borong, nih!" celetuk Kak Mery.

"Belanja bulanan, Kak. Biasalah, kebutuhan dapur." jawabku sekenanya.

"Kamu mampir dulu tadi ya ke kedai sebelah?" selidik Kak Riri.

"Gak. Ngapain juga. Males!" jawabku, sedikit kutegaskan kata-kata 'malas'.

"Lah, itu belanjaan? Duit darimana? Pasti mampir dulu kan minta? ihh, ga tau malu!" Sindir Kak Mery.

"Mery! jangan suuzhon sama Dinda, gak baik! Tuh liat, anak-anak kalian pada dijajanin es krim  sama Dinda, masih aja nuduh!" bela Kak Reva.

"Ya mana tau aja, Kak! belanjaan sebanyak ini gak sedikit uangnya. Dapat dari mana kalau bukan tadi ngerayu Arya minta?" balas Kak Mery lagi.

"Yaelah, Kak Mery .... Uang segini mah buat belanja bulanan ngapain kudu pake uang warisan! Emang Kakak gak pernah belanja bulanan apa tiap bulan? Nungguin warisan yaa ..." ledekku ke Kak Mery.

Mukanya Kak Mery merah, ia kepanasan dan tak terima aku sindir begitu. 

Tiba-tiba Doni masuk kedalam, sambil menyerahkan dua lembar uang berwarna merah. 

"Mah, simpenin uang Doni sama Zety, ya!" ujar Doni pada Kak Mery.

"Dikasih Papa ya, Don?" 

"Gak lah! Papa pelit begitu, mana ada cerita mau kasih uang. Itu dari Tante Dinda! Simpenin ya Ma, buat jajan besok sekolah!" ucapnya sambil berlari.

Kak Mery melotot kearahku!

Bersambung ...

Oleh:  Nurtila Kencanaa

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cerbung: Acara Pembagian warisan ( Bag 1 )

Terkini

Iklan

Close x