Iklan

Iklan

Cerbung: Malaikat Itu Bernama Ayah

10/21/21, 21:56 WIB Last Updated 2021-10-28T14:22:16Z



Jika orang lain lebih memuja para ibunya, menganggap bahwa sosok Ibu adalah malaikat, dan penerang dunianya, namun bagiku, hanyalah Ayah. Ia pujaan hatiku, malaikatku, penerang duniaku. Dan aku baru menyadari hal itu setelah beranjak dewasa.

Ayahku adalah sosok pria yang sangat penyabar. Ia santun dan baik hati, serta jarang sekali mengeluh meski pun Ibuku sudah berulang kali menyakiti hatinya. 

Sejak aku kecil, aku sering melihat Ibuku uring-uringan kepada ayah. Ibu bilang, ayah mengesalkan, kerap kali menyelundupkan uang dari Ibu 'tuk diberikan kepada nenekku, yaitu ibu dari ayahku yang tinggal di kampung Slindri, Sukoharjo. 

Ayahku memang lahir di desa itu, yaitu sebuah desa yang menurutku sangat nyaman sekali untuk ditinggali, berarus tenang, dan banyak pepohonan rindang yang memenuhi jalan, serta sikap warga desa Slindri yang hampir selalu ramah dan hangat. Semua itu membuat aku merasa betah ketika satu kali bertandang ke sana. 

Akan tetapi menurut Ibu, desa Slindri hanyalah sebuah tempat kecil biasa, di mana kebanyakan orang-orangnya hanya berasal dari kalangan 'tak punya. 

Entah lah kenapa Ibu memukul rata semua orang dengan anggapan itu. Mungkin karena ayahku bukan berasal dari keluarga kaya sehingga ibu kerap kali meremehkan orang Jawa. Tetapi Ibu lupa bahwa orang-orang Jawa merupakan orang yang ulet, setia dan penyabar, sama seperti Ayah. Namun di mata Ibu, Ayah tetap tak pernah berjasa. Hatiku amat terluka ketika setelah dewasa begini aku baru benar-benar mengerti dengan apa yang terjadi. 

Sejak kecil aku terus saja dicekoki skenario oleh Ibu bahwa Ayah adalah sosok yang tidak pernah jujur kepada istrinya, sosok yang tidak pernah mengerti istrinya, dan pandangan negatif lainnya sehingga ucapan-ucapan itu menjadi sebuah kebenaran yang buta. 

"Hei, Nengsih, jangan dekat-dekat sama Ayahmu! Kalau kamu dekat-dekat sama Ayahmu, itu artinya kamu gak sayang sama Ibu."

Alisku berkerenyit, "Loh, kenapa, Bu?"

"Kok, tanya kenapa? Itu Ayahmu selalu saja nipu Ibu. Masa uang gaji gak diberikan semua ke Ibu? Aku kan istrinya, seharusnya aku yang lebih berhak daripada si nenek tua itu."

Mendengar penuturan Ibu, aku termangu. Sebenarnya, saat itu, untuk anak-anak ukuran usia sepuluh tahun sepertiku, aku belum mengerti betul tentang fungsi uang gaji; berapakah jumlah uang gaji, harus kemanakah masuknya uang gaji dan kepada siapakah yang lebih berhak menikmati uang gaji. 

Pikiran kanak-kanakku hanyalah dipenuhi dengam acara kartun di televisi, bermain, belajar, dan jajan. Tetapi karena sikap Ibu yang sering kali meledak-ledak memerangi Ayah, akhirnya pertengkaran suami istri itu pun harus juga dibebankan kepadaku. Sehingga, secara tak langsung, aku jadi ikut terlibat dan terpaksa harus memilih kepada siapa aku memihak. Kepada Ibu atau kepada Ayah? 

Bila aku memilih Ibu artinya aku akan diurus, sementara bila aku memihak Ayah, Ibu akan mengancam tak akan mau mengurusku.

"Kamu mau nurut sama Ibu atau enggak?"

Sebenarnya aku bingung, tetapi karena sehari-hari lebih banyak menghabiskan waktu dengan Ibu, mau tak mau aku mengangguk dengan patuh.

"Iya, Bu."

"Kamu sayang sama Ibu atau enggak?"

"Sayang, Bu."

"Ya. Kamu memang harus lebih sayang Ibu daripada sayang ke Ayahmu. Sebab Ibu lah yang melahirkanmu."

Kata-kata itu terus terngiang hingga akhirnya aku jadi kurang menyukai Ayahku. Tiap kali Ayah meminta pertolongan, aku sampai berani menolaknya.

"Neng, ambilin Ayah asbak, Neng."

"Gak ah. Kata Ibu, orang yang suka ngerokok itu bau. Jangan deket-deket," kataku seraya acuh tak acuh. Aku lebih memilih bermain bersama bonekaku.

"Loh, kok gitu kalo disuruh Ayah? Ambilin asbak di dekatmu, itu loh, Nak. Sebentar aja, Neng geulis. Neng, 'kan, putri Ayah yang paling cantik sedunia."

Aku mendengus, senang disebut cantik tetapi enggan saat disuruh.

"Ya udah deh, aku ambilin," kataku ketus. 

Kuraih sebuah asbak beling di dekatku, lalu kuberjalan perlahan menghampiri Ayah yang sedang tersenyum kepadaku.

"Duh, pinternya anak Ayah."

Ayah memujiku, dan aku pun tersanjung. Kubalas senyuman Ayah dengan buru-buru menghambur kepadanya. Tetapi mainan piring plastik yang tergeletak sembarangan malah tak sengaja aku injak. Kakiku licin kehilangan keseimbangan, tubuhku berguncang hingga asbak beling pun melayang.

PRAAANG!!

"Huwaaaa!"

Aku menangis. Kemudian, Ibu melongkok dari dapur.

"Laailahailallah! Ya ampun, Mas?! Apa-apaan, sih?!"

Catata kaki: Kisah ini dibambil dari kisah nyata. Semoga dapat menjadi pembelajaran bagi semua orang. Kupersembahkan untuk para ayah yang rela berkorban bagi keluarga di sepanjang hidupnya.

cerbung Karangan: Intan Permata

Blog / Facebook: Intan Permata

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cerbung: Malaikat Itu Bernama Ayah

Terkini

Iklan

Close x