Iklan

Iklan

Cerbung: KETIKA ISTRI YANG KUBENCI DILIRIK BOSS DI KANTOR (7-8)

10/16/21, 21:56 WIB Last Updated 2021-10-28T14:22:35Z

Terpaksa aku keluar rumah, membawa dua koper besar yang telah disiapkan. Rumah ini memang bukan milikku, melainkan rumah peninggalan orang tua  Susan. Jadi tak ada alasan bagiku untuk tetap tinggal.
"Pergi, silakan lakukan seperti yang kamu mau. Mulai hari ini kamu bebas menentukan pilihan, bebas menggunakan semua harta kekayaan yang kamu punya, tak perlu lagi memberi sepeserpun untukku. Aku tak butuh," ucap Susan pongah.
"Susan, Dek, lupakah kamu bahwa setelah akad kita berjanji di hadapan Allah untuk tetap bersama-sama? Kita akan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin bukan?" Kuingatkan Susan pada peristiwa penting yang sudah berlangsung lebih dari dua tahun yang lalu.
"Bukan aku yang memulai, namun justru kamu yang ingkar janji," balas Susan dengan senyuman.
"Kamu terlalu berlebihan Susan, hanya masalah sepele membuat rumah tangga semakin runyam," jawabku tak mau kalah.
"Masalah sepele? Kamu tak memberi nafkah lahir batin secara baik dianggap sepele? Satu lagi yang perlu kamu tahu, aku sudah mengetahui niat jahatmu. Dasar buaya buntung !" 
"Apa-apaan ini? Kamu jangan sembarangan menuduh tanpa bukti."
"Ohoo, jangan salah. Apa ini?" Susan mengambil ponselnya kemudian menunjukkan sebuah video saat aku merayu Mila di meja resepsionis kemarin. Aku benar-benar heran, darimana Susan bisa mendapatkan video itu, ajaib.
"Bisa aku jelaskan Dek, Susanku sayang."
"Sayang - sayang, pale lu peyang?"
"Dek, kumohon, berilah aku kesempatan."
"Sudahlah pergi, bukankah rumah Ibumu lebih nyaman? Kamu bisa lakukan sesuka hatimu."
"Dek, Susan," panggilku memohon.
"Sorry, hari ini aku akan istirahat untuk menenangkan hatiku. Pergilah, karena dengan melihatmu masih disini bukan tenang yang kudapatkan, melainkan semakin pening."
"Oke, ingat Susan, kamu pasti akan menyesal seumur hidup telah mengusirku."
"Hmmm, EGP." Susan menutup pintu dan terdengar suara 'klek'  dia menguncinya dengan rapat.
"Sial - sial, aaargh..." Kutendang tong sampah hingga isinya menyebar tak karuan, membuat tetanggaku kaget.
"Mas Lana, Mas, ada apa?" teriak Bu Irma yang seperti biasa sedang membersihkan rumah.
"Oh, gak apa-apa Bu," bohongku.
"Mau kemana? Kok bawa koper?" tanyanya kepo sambil memandang dua koper disamping kanan kiri ku.
"Dinas luar Bu Irma, kebetulan saya dikirim ke Luar Negeri mewakili perusahaan ke Singapura." Lagi-lagi aku berbohong, gengsi dong jika ngaku diusir Susan.
"Wah hebat kamu Mas Lana, bisa sekalian shopping dong ya, kemarin habis naik jabatan eh sekarang bisa jalan-jalan, pasti duitnya banyak," puji Bu Irma sambil senyum-senyum menggoda.
"Ya begitulah," terpaksa aku tersenyum, walau sebenarnya hatiku remuk.
"Saya nitip dibelikan tas ya, gak mahal kok palingan cuma 200 dollar, gak apa-apa kan sekali sekali berbagi rezeki pada tetangga."
"Saya di Singapura meeting Bu, bukan belanja." 
"Huh... Dasar lelaki pelit." Bu Irma manyun.
"Hmmm,"
"Oh ya? Mobil Mas Lana yang baru mana? Kok gak dipakai? Masa bawa dua koper besar pakai motor sih?"
"Dibawa sopir pribadi, selalu parkir di garasi  rumah Ibu. Disini gak ada garasi, repot."
"Oh," Bu Irma manggut-manggut tanda mengerti. Untung dia percaya saat kukelabuhi.
Kupesan taksi online untuk mengantarku ke rumah Ibu yang jaraknya lumayan jauh. Tak membutuhkan waktu lama, taksi yang kupesan datang sepuluh menit kemudian.
"Loh, mobilnya kok ava**a ? Bukannya mobil Mas Lana alph*rd ya?" tanya Bu Irma memandang mobil dari kejauhan.
"Saya punya dua mobil Bu, yang satu sedang dipinjam Ibu."
"Oh gitu, ya sudah hati-hati Mas, semoga tidak lupa dengan pesananku."
"Dasar wanita matre, cuma tetangga kok pakai pesan suruh belikan tas, gue siapanya elu," gerutuku sambil memasukkan dua koper besar ke dalam mobil.
"Mas, tolong barangnya dibawa sesuai rute, saya pakai motor," pintaku pada driver.
"Siap Mas," jawabnya sopan.
Mobil melaju dengan pelan keluar komplek, dengan motorku aku mengekor di belakang. 
Jalan raya nampak ramai, para pengendara motor dan mobil memenuhi jalanan, maklum weekend, pasti banyak dari mereka yang menghabiskan malam Minggu dengan jalan-jalan.
Dua puluh menit berlalu, rumah cat warna putih peninggalan almarhum Bapak sudah terlihat. Lampu teras sudah dinyalakan karena memang hari sudah hampir gelap. 
"Ini Mas." Kuberikan uang pas sebagai ongkos taksi online.
"Terimakasih Mas." Driver menurunkan dua koper besar kemudian meninggalkan halaman rumah Ibu.
"Hhh ... " Aku bernafas panjang, masih bingung apa yang harus kujelaskan pada Ibu atas kepulangan ku.
Tombol bel kupencet, tak lama wanita paruh baya yang melahirkan ku muncul dari balik pintu.
"Eh kamu Lan, masuk." Ibu memerintahku yang terpaku.
Kutarik koper besar  ke dalam rumah. Duduk diatas sofa seperti biasa.
"Apa ini? " tanya Ibu ingin tahu, sedikit syock.
"Seperti yang Ibu lihat lah, koper," jawabku sedikit kesal.
"Untuk apa?"
"Aku mau tinggal disini untuk sementara waktu," jawabku datar.
"Maksudmu? Kamu pindahan ke rumah ini? Mana Susan, mana anakmu?"
"Iya, aku mau pindah ke rumah Ibu." 
"Eh Lan, sejak pertama kamu nikah dengan Susan, Ibu gak mau ya lihat wajah perempuan itu, gak level sama keluarga kita. Eh malah sekarang mau pindah kemari, Ibu gak setuju, Ibu gak ngizinin." Ucap Ibu yang memang sejak awal tak merestui hubunganku dengan Susan.
"Aku sendiri, Bu. Susan dan Salma gak ikut."
"Hmmm, pasti kalian sedang berantem, kamu diusir? Berani-beraninya perempuan mengusir anak Ibu yang ganteng kali macam kau."
"Bukan Susan yang mengusirku, tapi memang aku saja yang sudah bosan."
"Woi, baguslah, kalau begitu tinggallah disini sepuasmu, tapi ingat, gak gratis."
"What?" Aku mengerutkan kening.
"Iya dong, kamu harus kasih jatah bulanan lebih dari biasanya, buat makan, biaya kamar dan fasilitas lain di rumah ini."
"Ibu jangan keterlaluan seperti itu dong, sudah tujuh juta yang kuberikan bulan ini, kurang? Aku ini anakmu, masa harus bayar ini itu. Ah ..." Kubaringkan tubuhku pada sofa yang empuk.
"Yah, itu perjanjian awal, itupun kalau kamu mau. Kalau tidak kamu bisa tinggal dimanapun kamu mau, asal jangan di rumah ini."
"Ibu apaan sih? Lana juga berhak atas rumah ini, bukan hanya Tina dan suaminya." Aku protes pada Ibu.
"Tina dan suaminya juga bayar sewa, dia pun penuhi kebutuhan makan Ibu tiap hari."
"Lana juga sudah beri jatah bulanan Ibu kan? bahkan jauh lebih besar dari jatah bulanan untuk Susan."
"Ya itu memang kewajiban kamu, perjanjian yang kamu buat sebelum menikah dengan Susan."
"Ah dasar Ibu, aku capek mau istirahat." Aku bangkit dari sofa, bermaksud berjalan menuju kamar yang biasa kupakai.
"Eits, mau kemana kamu?" Ibu mencegah.
"Istirahat, Lana capek pulang kerja."
"Tuh, jatahmu di kamar itu." Ibu menunjuk sebuah kamar kecil yang dulu digunakan oleh Mbok Nah, pembantu di rumah ini ketika aku dan Tina masih sekolah.
"Kamar pembantu?" Mataku membelalak tak percaya, tega-teganya Ibu menyuruhku untuk tidur di kamar sempit itu.
"Karena kamu tak sanggup bayar sewa."
Terpaksa aku masuk di kamar pembantu, kamar ukuran dua kali tiga meter bekas Mbok Nah. Kasur yang sudah tak layak yang ada disana, satu-satunya alas tempat tidur yang ada.
"Sial, sial," ucapku berkali-kali.
Aku tak habis pikir, Ibu kandungku sendiri tega menempatkan anaknya di kamar yang tak layak. Namun aku tak punya pilihan lain, hanya rumah inilah yang bisa kutempati saat ini.

Suara azan sudah terdengar, aku terbangun setelah semalam tidur di kamar pengap ini. Hajat buang air kecil membuat aku harus berjalan menuju kamar mandi belakang.
Rupanya Tina yang menempati kamar tidur utama juga sudah bangun. Celoteh anaknya terdengar begitu jelas, sesekali suara Aryo, suami Tina menimpali celotehan itu.
"Eh ada Kak Lana, kok kamu datang aku gak tahu?" tanya Tina yang sudah siap dengan pakaian olahraga.
"Eh iya, ketika aku datang kamu gak ada kayaknya."
"Oh, memang aku pulang larut sih, biasa ngemall, mumpung malam Minggu," jawabnya dengan tertawa.
"Emangnya kamu punya duit?"
"Punya dong, suamiku sudah diterima bekerja sejak sebulan lalu, kemarin habis gajian, langsung deh kita ngemall."
"Kerja dimana?"
"Cuma sebagai driver sih, tapi lumayan, gajinya lima juta dan semua setor ke aku."
"Kamu dapat duit dari Aryo semuanya?"
"Ya iya dong, aku bukan perempuan tol*l seperti istri Kakak, masa istri kepala divisi cuma dikasih sejuta per bulan. Malang bener nasibnya." 
Setelah kupikir-pikir, ucapan Tina ada benarnya juga. 
"Udah Kak, aku keluar dulu, aku pengen badanku tetap bugar dan langsing, bye..." Tina keluar rumah walau masih gelap, adik perempuanku itu memang pecinta olahraga sejak dulu.
Aku langsung ke kamar mandi, membersihkan badan yang sudah pekat karena tak mandi sejak kemarin. Aroma wangi sabun menguar memenuhi ruangan. Lumayan, membuat segar.
Biasanya Susan telah menyiapkan baju kantor, namun mulai sekarang aku harus terbiasa mandiri, tak mungkin minta tolong Ibu. 
Setelah kutemukan bajuku dari dalam koper, segera kupakai dan bersiap ke kantor. Kutuju meja makan. Nasi goreng sudah tersedia disana meski baru jam enam lebih sedikit, aku hafal betul ini masakan Ibu.
Segera kuambil piring kosong, mengambil dua centong nasi goreng, sepotong telur dadar dan bersiap untuk makan.
"Eh, kamu Lan? Mau makan?" Ibu muncul dari pintu belakang yang menghubungkan dapur dan ruang makan.
"Iya Bu, masakan Ibu menggoda selera," jawabku penuh dengan pujian.
"Ya iyalah." Ibu duduk di samping mengamati setiap gerakan mulutku.
Tak kupungkiri, masakan Ibu memang lezat, aku langsung menghabiskannya tanpa sisa.
"Gimana, enak?"
"Iya, enak. Kalau begitu Lana pamit pergi dulu."
"Eits sebentar, biaya sarapan kamu dua puluh ribu buat nasi goreng, dan lima ribu biaya cuci piring. Sini uangmu."
"Tapi, Bu?"
"Udah buruan, gak usah bawel, tinggal bayar." Ibu merogoh saku celanaku dan menemukan selembar uang warna biru.
"Itu uang bensin Bu, jangan ambil."
"Enak aja, kamu sudah makan, masa gratisan." Ibu ngeloyor pergi masuk ke dalam kamar.
"Ya Tuhan..."

Cerpen Karangan: Linda Taffee

Blog / Facebook: Linda Taffee

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cerbung: KETIKA ISTRI YANG KUBENCI DILIRIK BOSS DI KANTOR (7-8)

Terkini

Iklan

Close x