Iklan

Iklan

Terjerat Wanita Sholehah

9/03/21, 19:19 WIB Last Updated 2021-09-03T12:22:00Z

 Terjerat Wanita Sholehah

"Sayang! Bangun yuk! Waktunya sholat magrib sekarang," ucap Arka menepuk-nepuk pipi Faiza yang masih setia tidur di dada Arka.

Faiza mengerjapkan matanya, lalu Faiza menatap wajah Arka yang sangat dekat dengan wajahnya.

"Kenapa Sayang?" tanya Arka tersenyum.

"Terima kasih sudah menyayangiku Mas," ujar Faiza setelah menc*um pipi kanan Arka. Arka hanya tersenyum mendapatkan c*uman dari istrinya.

"Katanya udah adzan magrib, sekarang kita sholat dulu!" ajak Faiza. Mereka berdua pun mengambil wudhu lalu melaksanakan shalat magrib berjamaah.

Arka dan Faiza membaca Al-Qur'an setelah shalat, mereka menunggu adzan isya agar mereka tidak wudhu lagi.

Setelah menunjukkan waktu isya, Arka dan Faiza langsung sholat berjamaah kembali. Selesai melaksanakan sholat, mereka duduk di sofa yang ada di sana sambil melihat layar televisi yang sudah disediakan.

"Gak nyangka ya, pernikahan Bella dan juga Zain tinggal 2 hari lagi," ujar Faiza melirik ke arah samping.

"Benar Sayang, gak nyangka juga ternyata mereka berjodoh," sahut Arka memeluk pinggang Faiza.

"Kayaknya seru deh, kalau disini ada dedek bayinya," ucap Faiza tiba-tiba mengusap-ngusap perut rata nya.

"Semoga aja Allah ngasih kita kepercayaan ya, Mas?" sambungan lagi sambil menatap Arka dengan tersenyum.

"I-iya Sayang," jawab Arka gugup.

'Aku mengingkari janjiku, aku baru mengingatnya. Aku pernah melakukan hubungan int*m dengan Faiza, bagaimana kalau dia hamil,' ucap Arka gelisah di dalam hati.

"Mas kenapa?" tanya Faiza.

"Udah malem, kita tidur!" ajak Arka langsung mematikan layar tv.

'Ada yang aneh,' gumam Faiza dalam hati.

Keesokan harinya Arka sudah siap dengan baju kantornya.

"Mas! Aku boleh minta tolong gak?" tanya Faiza sambil merapikan Jas Arka.

"Boleh. Memangnya minta tolong apa?" tanya balik Arka merapikan kerudung Faiza.

"Tolong belikan aku Siomay, sepulang Mas dari kantor!" ucapnya sambil cengengesan.

"Baiklah, nanti sepulang dari kantor Mas akan membelikannya," ujar Arka tersenyum manis.

"Terima kasih," sahut Faiza.

"Iya Sayang," ucapnya setelah menyambar b*b*r Faiza sekilas. Faiza hanya menunduk malu dengan pipi merah.

"Mas berangkat sekarang ya, assalamualaikum ," ucap Arka, Faiza mengangguk lalu menyalimi tangan Arka.

"Waalaikumsalam," balas Faiza.

Arka sempat menc*um kening Faiza sekilas, lalu dirinya pergi ke kantor bersama Rendi yang sudah standby di mobil.

"Akhir-akhir ini aku selalu merasakan lelah, walaupun tak mengerjakan pekerjaan berat," ucap Faiza lalu keluar dari kamar.

Faiza menuruni anak tangga, lalu dirinya menghampiri Ayu yang sedang memasak.

"Mbak!" panggil Faiza.

"Eh! Faiza, silangkan duduk disini," ucap Ayu sopan lalu mempersilahkan kursi meja makan.

"Gak usah Mbak! Aku kesini mau bantu Mbak," ucap Faiza mengambil alih spatula yang dipegang oleh Ayu.

"Gak usah! Biar saya aja!" titah Ayu.

"Aku ngiris bawang aja." Tanpa persetujuan dari Ayu, Faiza langsung mengiris bawang.

'Baru kali ini aku bisa se akrab dengan majikan ku,' gumam Ayu didalam hati sambil tersenyum menatap Faiza.

Huek! huek!

Faiza langsung berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Ayu yang melihat Faiza muntah, dirinya langsung berlari menghampiri Faiza.

"Kamu baik-baik saja, Faiza?" tanya Ayu khawatir ketika melihat Faiza keluar dari kamar mandi.

Faiza tersenyum lalu menggeleng.

"Aku tidak apa-apa Mbak, hanya saja aku merasa mual pas Mbak motong-motong daging ayam," ujar Faiza.

"Yasudah kamu sekarang duduk di ruang sana aja!" ajak Ayu membawa Faiza ke ruang keluarga.

Faiza langsung duduk begitupun dengan Ayu.

"Udah baikan?" tanya Ayu.

"Aku merasa sangat mual pas nyium aroma daging ayam Mbak," ucap Faiza lusu.

"Bentar ya! Mbak ambil air hangat dulu, Mbak juga mau buang dulu daging ayamnya," ucap Ayu.

"Tapi Mbak, kan mubazir kalau dibuang," sahut Faiza menahan tangan Ayu.

"Akan Mbak kasih ke orang, tenang aja!" Faiza hanya mengangguk.

Ayu pun permisi kepada Faiza untuk pergi dari sana.

"Biasanya aku paling suka banget sama daging ayam. Tapi kenapa sekarang nyium aromanya saja, aku ingin muntah?" ucap Faiza pelan.

Tak berselang lama Ayu datang dengan membawa gelas dengan isi air putih hangat untuk Faiza.

"Diminum! Biar badannya terasa hangat," titah Ayu memberikan gelasnya untuk Faiza minum.

"Makasih Mbak." Ayu hanya mengangguk dan tersenyum. Faiza langsung meminumnya hingga tidak tersisa.

"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit? Kita periksa keadaan kamu! Bisa saja kamu seperti ini, kamu sedang mengandung," ujar Ayu yang membuat Faiza tersentak.

"Hamil?" ulang Faiza dan dibalas anggukan oleh Ayu.

"Setahu Mbak, kalau orang hamil suka aneh-aneh," ujar Ayu.

'Kalau aku beneran hamil, aku sangat bahagia. Tapi, aku gak boleh terlalu berharap, nanti semuanya tidak sesuai ekspektasi,' ucap Faiza dalam hati.

"Tapi Mbak, aku takut," cicit Faiza. Ayu tersenyum lalu memegang tangan Faiza.

"Jangan takut! Apapun hasilnya nanti, kita harus menerimanya dengan lapang dada. Lagian kalau kita tidak kerumah sakit, gimana kita tahu kan?" ucap Ayu menenangkan Faiza.

"Baiklah Mbak. Terima kasih sudah menasehati ku," ucap Faiza tersenyum. Ayu hanya mengangguk.

"Kita berangkat ke rumah sakit sekarang, ya?" tanya Ayu.

"Sepertinya aku harus menghubungi Mas Arka dulu, nanti dia takut mencari ku," tutur Faiza. Ayu mengangguk, Faiza pun langsung mengeluarkan handphone nya, lalu menghubungi Arka.

Drrtttt ... drrtttt ... drrtttt ...

Arka yang sedang melihat-lihat dokumen langsung mengalihkan pandangannya ke arah handphone yang bergetar di depannya. Karena penasaran dia langsung melihat siapa yang menelponnya, bibirnya langsung membentuk senyuman mendapat telpon dari Faiza. Arka langsung mengangkat telponnya.

"Assalamualaikum, Sayang," ucap Arka.

[ Waalaikumsalam. Maaf Mas aku mengganggu, ] ucap Faiza tak enak hati.

"Tidak apa Sayang, malahan Mas sangat senang mendapat telpon dari kamu," ujar Arka yang membuat bibir Faiza melengkung.

[ Aku mau minta ijin untuk keluar dengan Mbak Ayu, apakah boleh? ] tanya Faiza dengan hati-hati takut Arka akan marah.

'Jika aku memperbolehkan Faiza untuk keluar, aku sangat takut kejadian dulu terulang kembali. Jika tidak, dia pasti akan sangat kecewa. Aku perbolehkan saja lah, lagian ada Ayu juga,' ucap Arka dalam hati.

[ Mas! Apakah boleh aku pergi keluar? ] tanya Faiza kembali.

"Boleh kok Sayang. Tapi harus di antar sama supir yang ada di sana! Hati-hati juga dijalan nya!" titah Arka yang membuat Faiza tersenyum terus.

[ Baiklah Mas. Aku tutup ya? Terima kasih waktunya, assalamualaikum, ] ucap Faiza.

"Waalaikumsalam," balas Arka mematikan teleponnya.

"Aku lupa tidak menanyakan Faiza akan kemana, tak apalah. Dia juga pergi bersama Ayu,"ucap Arka pelan.


"Bagaimana? Apa diperbolehkan?" tanya Ayu kepada Faiza yang baru saja menelpon Arka.

Faiza tersenyum lalu mengangguk.

"Alhamdulillah. Bagaimana kalau sekarang kita berangkat di antar Mang Ajis?" tanya Ayu.

"Boleh," jawab Faiza tersenyum.

Mereka berdua pun langsung pergi ke RS di antar oleh mang Ajis.

 Selama diperjalanan mereka bertiga selalu bercerita hingga tergelak tawa.

'Pantas saja Tuan Arka takut kehilanganmu Faiza, ternyata kamu orang yang baik. Dengan adanya kamu, pelayan di Mansion jadi jarang dimarahi,' ucap Ayu di dalam hati sambil tersenyum melihat Faiza tersenyum. 

Sesampainya di RS Faiza dan Ayu langsung masuk keruangan ibu hamil, sedangkan Mang Ajis menunggu di parkiran.

"Tenang! Rileks! Jangan takut! Ada Mbak disini," ucap Ayu yang melihat kegelisahan diwajah Faiza. Faiza pun mencoba untuk bersikap biasa saja.

'Bagaimana kalau hasilnya tidak sesuai ekspektasi ku,' gumam Faiza dalam hati.

"Silahkan Ibu tidur di atas brankar!" titah Dokter tersebut. Ayu pun membantu Faiza untuk berbaring di brankar.

"Gejala apa yang Ibu alami belakangan ini?" tanya Dokter tersebut dengan ramah sambil memeriksa Faiza.

"Akhir-akhir ini saya sering mual dok, badan juga suka gampang lemes. Apalagi tiba-tiba saya menjadi tidak suka makanan yang sebelumnya saya menyukainya," ucap Faiza. Dokter tersebut langsung tersenyum setelah mendengar ucapan Faiza.

"Ibu bisa melihat layar itu!" titah Dokter tersebut.

Faizavdan Ayu pun melihat nya, disana mereka melihat seperti biji kacang yang sangat kecil.

"Itu apa Dok?" tanya Faiza penasaran.

"Ibu sedang hamil. Kandungan Ibu baru saja memasuki 1 Minggu 2 hari, kandungan Ibu juga masih rentan. Jadi, selama ibu mengandung jangan melakukan yang berat-berat!" titah Dokter wanita tersebut sambil tersenyum.

"Hamil?" ulang Faiza yang dibalas anggukan. Faiza meneteskan air matanya saking bahagianya. Ayu langsung memeluk Faiza, dia juga merasakan bahagia setelah mendengar majikannya akan segera mempunyai anak.

"Selamat Ibu Faiza. Sebelumnya kenapa Ibu tidak bersama suaminya?" tanya Dokter tersebut.

"Suami saya lagi bekerja Dok, jadi saya ke sini bersama Mbak Ayu," jawab Faiza tersenyum.

"Nanti Minggu depan Ibu harus cek lagi, dan ajaklah suaminya!" titahnya dan dibalas anggukan dan senyuman.

'Aku sangat khawatir dengan kandungan Ibu Faiza dan juga dirinya, semoga aja mereka selamat, walaupun hanya 1%  jaminannya,' ucap Dokter tersebut dalam hati.

Dokter itu adalah Dokter yang waktu itu menangani Faiza. Jadi, dirinya tahu kalau Faiza pernah mengalami keguguran.

Setelah selesai Faiza dan Ayu pun keluar dengan wajah berseri. Faiza terus saja tersenyum menatap amplop yang berisi tentang kehamilan Faiza.

'Mas Arka pasti seneng,' gumam Faiza dalam hati sambil tersenyum.

"Selamat ya Faiza, semoga kandung dan juga kamu nya baik-baik saja," ucap Ayu.

"Aamiin, makasih doa'nya Mbak."


Hari sudah mulai sore, Arka baru saja pulang dari kantor dengan membawa pesanan Faiza.

"Dimana istriku?" tanya Arka kepada Ayu.

"Ada di atas Tuan." Arka pun langsung berjalan ke arah kamarnya.

Ceklek!

"Sayang!" panggil Arka.

"Mas," ucap Faiza girang langsung bangun dari duduknya lalu menghampiri Arka dan memeluknya.

"Sepertinya istriku ini sedang bahagia," ujar Arka mengusap pipi Faiza. Faiza hanya tersenyum menanggapinya.

'Aku akan merahasiakannya dulu dari Mas Arka, pasti Mas Arka sangat senang,' ucap Faiza dalam hati sambil selalu tersenyum.

"Kau kenapa Sayang?" tanya Arka menuntun Faiza untuk duduk di sofa.

"Aku tidak apa-apa. Aku sedang menunggu pesanan ku, apa Mas membelinya?" tanya Faiza.

"Mas tidak lupa, Sayang. Mas ambil mangkuknya dulu," ujar Arka langsung berdiri.

"Tidak usah Mas! Biar aku aja, kan Mas pulang kerja dari kantor. Jadi istirahat aja!" titah Faiza menarik kembali Arka untuk duduk.

Cup!

"Baiklah," pasrah Arka setelah mencium kening Faiza.

Faiza pun keluar dari kamar untuk mengambil mangkuk, tak berapa lama Faiza radang kembali.

"Sini kantongnya!" titah Faiza. Arka pun menyodorkan kantong kresek yang berisi Siomay.

Faiza pun membuka kantong Siomay lalu di masukkan ke mangkuk.

"Mas mau?" tawar Faiza.

"Buat kamu aja, Sayang," jawab Arka tersenyum.

"Terima kasih Mas," ucap Faiza dan dibalas anggukan oleh Arka.

Faiza langsung memakannya dengan lahap, Arka tersenyum melihat istrinya begitu lahap. Arka mengusap tepi bibir Faiza yang kotor.

"Makannya pelan-pelan Sayang!" titah Arka.

"Hehe, iya Mas," ujar Faiza cengengesan.


Cerpen Karangan: Ftma

Blog / Facebook: Ftma


Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Terjerat Wanita Sholehah

Terkini

Iklan