Iklan

Iklan

Suamiku Gangster Sekolah

9/03/21, 19:21 WIB Last Updated 2021-09-03T12:22:00Z

Suamiku Gangster Sekolah

Setelah mendengar pengakuan Noka yang sempat menyukai dirinya sebagai perempuan, perasaan Nefa jadi lebih tenang, setidaknya perasaan itu sudah hilang sekarang.

Dan ia berharap, semoga hubungan keduanya tetap membaik dan akan terus begitu, tanpa tau jika besok akan ada kejadian besar yang mungkin membuat hubungan persahabatan mereka hancur.

"Nih minum susunya," ujar Marvel sambil menyodorkan segelas susu ibu hamil kepada Nefa.

"Lu budek apa gimana sih?! Dibilang gue gak suka susu, masih aja ngasih gue itu!" kesal Nefa sambil mengerucutkan bibirnya.

"Gue juga gak mau maksa lo, Nefa. Tapi kata Mama Razia lo harus minum ini, demi kesehatan Baby Vavel," jelas Marvel seraya menunjuk perut Nefa dengan dagunya.

Nefa menghembuskan nafas berat, ia pun mengambil susu di tangan Marvel dengan berat hati.

"Gak usah dihabisin kalok gak bisa," kata Marvel pengertian.

Nefa menurut, ia hanya minum sedikit susu itu dan memberikannya kembali pada Marvel.

Marvel meletakkan susu yang belum habis itu di atas nakas, ia pun naik ke atas kasur dan memeluk perut Nefa.

"Lo bikin sendiri susunya?" tanya Nefa sambil memakan cookies buatan Razia yang khusus dibuat untuk Nefa.

"Iya, gue belajar dari youtube," jawab Marvel dengan jujur.

Nefa hanya menganggukkan kepalanya, Marvel memang suami siaga, jika Marvel memang tidak tau membuat susu, ia bisa saja meminta bantuan pada pembantunya, tapi lelaki itu lebih memilih membuat sendiri meski harus belajar dulu lewat youtube.

Tangan Marvel masuk ke dalam kaos Nefa, dan mengelus perut istrinya itu yang sudah mulai agak membuncit.

"Dingin!" komentar Nefa saat merasakan telapak tangan Marvel menyentuh perutnya.

"Nef, nanti kalok Baby Vavel ini lahir, lo mau cowok atau cewek?" tanya Marvel tiba-tiba.

"Eeem cowok!" jawab Nefa dengan cepat.

"Berarti nanti namanya, Vavelio Lexo Alexander," kata Marvel yang mengundang atensi Nefa.


"Kalok cewek siapa namanya?" tanya Nefa dengan tangan yang sudah mengelus kepala Marvel.

"Kalok cewek namanya, Vavelia Lexa Alexander, bagus 'kan?" tanya balik Marvel sambil membalikkan badannya menjadi menghadap kepala Nefa.

Nefa mengangguk, nama yang sangat bagus pikirnya.

"Lo kapan bikin nama itu?" tanya Nefa dengan atensi yang sudah mengarah ke Marvel sepenuhnya.

TV yang sebelumnya ia tonton, kini terbengkalai karena sebuah perbincangan singkat tentang anak mereka.

"Pas lo pertama kali di vonis hamil, gue bener-bener seneng banget, sampek gue gak tidur waktu itu dan malah kepikiran nama Baby Vavel," ujar Marvel dengan senyuman lebar.

Nefa terkekeh, ia tau se-excited apa Marvel dengan kehamilannya, jadi tak ayal jika Marvel sudah menyiapkan nama untuk calon anaknya.

Tapi dibalik rasa senang yang dirasakan Nefa, tersirat rasa takut juga yang sangat besar dalam diri gadis galak itu.

Di umurnya yang masih menginjak 18 tahun, ia sudah hamil dan akan melahirkan, ketakutan Nefa nyata, ia takut jika terjadi apa-apa pada dirinya saat melahirkan atau saat ia sudah melahirkan ia tidak bisa lagi bersekolah.

Meski Nefa tidak lupa siapa Ayahnya dan siapa mertuanya yang bisa melakukan apa saja dengan kuasa mereka, tapi gadis itu tidak suka saat harus melanggar aturan lagi.

Tangan Nefa meremas kuat baju Marvel, jantungnya berdetak lebih cepat jika mengingat hal itu.

Marvel yang menyadari kelakuan aneh Nefa, langsung memegang kedua tangan istrinya itu.

"Hey! Kenapa?" tanya Marvel sambil berdiri dari tidurannya.

Nefa menatap Marvel sendu, ia pun memeluk suaminya itu dengan erat dan menangis.

"Loh kenapa? Kok tiba-tiba nangis gini sih? Ada yang sakit kah?" tanya Marvel sambil mengelus punggung Nefa.

"Gue takut, Vel!" kata Nefa di pelukan Marvel.

"Takut? Takut apa sayang?" tanya Marvel dengan suara lembut.

"Gue takut saat gue udah ngelahirin gue gak bisa sekolah lagi dan ketemu sama My Generation," jawab Nefa dengan suara lirih.

'Dan gue takut juga gak selamat saat melahirkan' batin Nefa yang tentu saja tidak bisa ia ucapkan langsung pada Marvel.

"Lo gak usah khawatir soal itu, Papa gue bisa ngela-" 

"Gue gak mau langgar aturan lagi!" potong Nefa dengan cepat.

Marvel melepas pelukan itu dan menatap Nefa, tangannya terangkat untuk mengusap air mata yang ada di pipi Nefa.

"Gak usah khawatir soal itu, Nefa. Kalok emang lo gak mau langgar aturan lagi, lo bisa homeschooling. Dan untuk My Generation, gue bisa ajak mereka untuk kesini, siapapun yang mau lo temuin gue bakal datengin kerumah ini," jelas Marvel dengan mantap.

Nefa mengerjapkan matanya beberapa kali, bodoh! Kenapa ia tidak kepikiran ke arah situ? Belajar? bisa homeschooling, kangen anak MG? Bisa suruh mereka untuk datang kerumahnya.

Kenapa ia berpikiran jika sudah melahirkan hidupnya akan kacau? Tapi meskipun begitu, tetap saja ia masih takut jika saat dirinya melahirkan, dia tidak akan selamat.

Marvel mendesah pelan saat melihat raut wajah Nefa yang belum berubah, masih saja terlihat khawatir.

"Melahirkan tidak seburuk apa yang lo mikirin, Nefa. Gak semoga orang saat melahirkan akan meninggal," kata Marvel yang membuat Nefa kaget.

"Loh kok?"

"Iya gue tau, lo takut meninggal pas mau ngelahirin 'kan? Jangan berfikiran kayak gitu Nefa, melahirkan gak seburuk itu." Marvel menangkup kedua pipi Nefa dan mengelusnya.

"Tapi 'kan gue liat di-"

"Google 'kan? Lo tuh kalok nyari informasi melahirkan jangan yang kek gitu, Nefa! Cari yang positif jangan yang negatif!" kesal Marvel sambil menoyor kepala Nefa gemas.

Bagaimana tidak kesal, pas Marvel bermain handphone Nefa, lelaki itu tak sengaja melihat riwayat pencarian Nefa di google, dan tau apa yang dicari istri galaknya itu? Berita tentang melahirkan yang langsung meninggal.

Pantas saja Nefa selalu panas dingin saat Razia dan Kinara membahas tentang melahirkan, rupanya Nefa sudah lebih dulu takut karena melihat berita sialan itu.

Nefa hanya terkekeh, entah kenapa moodnya yang tadinya buruk jadi lebih baik mendengar kekesalan Marvel.

"Malah ketawa!" ketus Marvel dengan wajah datar.

Nefa terus tertawa, bahkan sekarang gadis galak itu memegang pipinya yang terasa sakit.

"Dih serius! Jangan cari kayak gitu lagi, kalok mau cari informasi melahirkan, cari yang positif," ujar Marvel.

Nefa menganggukkan kepalanya, ia jadi merasa lebih baik mendengar ucapan Marvel.

Marvel pun memeluk Nefa erat, ia menelungkupkan kepalanya di sela-sela leher Nefa, dan menciumnya.

"Gue bakal jagain lo terus, Nef. Gue gak akan biarin lo terluka, bahkan sekecil apapun," bisik Marvel yang membuat Nefa tersenyum manis.

Marvel melepas pelukan itu, ia memberikan senyuman terbaiknya untuk Nefa.

"Vel, pengen itu!" kata Nefa sambil menunjuk Marvel.

"Pengen apa?" tanya Marvel sambil melihat dirinya sendiri, siapa tau ia memakai aksesoris yang membuat Nefa pengen.

"Ituu!" tunjuk Nefa pada leher Marvel.

Marvel pun meraba lehernya, ia tak sengaja menyentuh jakunnya dan melihat Nefa yang langsung tersenyum.

Marvel terkekeh, sepertinya ia tau apa yang diinginkan oleh istirnya itu.

"Mau ini?" tunjuk Marvel pada jakunnya.

Nefa mengangguk dengan cepat, jakun Marvel adalah spot favorit Nefa dari segala hal.

"Nih ambil!" ujar Marvel sambil mengadahkan kepalanya, membuat jakunnya benar-benar terlihat.

Dengan cepat, Nefa langsung menubruk badan Marvel, membuat tubuh suaminya itu langsung terlentang.

Ia pun mencium jakun Marvel dengan ganas, entah kenapa ia sangat suka dengan itu.

Marvel mendesis saat Nefa memberikan tanda kepemilikan pas di jakunnya, tangannya terulur untuk meremas pantat Nefa.

"Ahhh lo bikin gue tegang gue Nef!" teriak Marvel sambil membalikkan badannya, membuat tubuh Nefa langsung berada di bawahnya.

Apa yang terjadi selanjutnya? Hanya tuhan dan mereka yang tau!

"Waduh! Kenapa tuh leher? Kok merah gitu?!" tanya Hito dengan iseng saat melihat Marvel dan Nefa yang baru saja datang dan melihat tanda merah di leher Marvel.

"Pas pula, dijakun!" timpal Reyhan.

"Ulah buk bos kalian tuh!" tunjuk Marvel pada Nefa yang sedang membenarkan rambutnya.

"Ganas juga si Nefa!" celetuk Arga yang langsung mendapat tatapan horor dari Nefa.

"Biasa aja matanya, tar copot!" tegur Bara dengan nada bercanda.

Nefa mencibir kesal, ia pun memandang semua teman Marvel itu dengan malas.

"Enak-enak tadi malem?" tanya Arsya dengan jahil.

"Arsyaa!" pekik Nefa yang membuat semua inti Archelon tertawa.

"Tau ah!" ngambek Nefa seraya bersedekap dada.

"Eh eh jangan ngambek dong, Nef! Gak tau apa kita udah dipolototin tajam sama pak bos!" kata Hito dengan panik.

"Bodo amat! Vel! Mereka nakal tuh!" adunya pada Marvel.

"Nakal? Mau diapain sayang? Bunuh? Patah tulang? Atau koma?" tanya Marvel dengan senyuman miring.

"Anying si Nefa!" maki Reyhan dengan kesal.

Nefa tertawa, ngerjain anak Archelon memang sangat menyenangkan itu.

Ia pun melirik ke arah Leo, sedari tadi lelaki itu hanya bermain handphone, tak ikut berbicara sama sekali.

Nefa menelan ludah, saat melihat Leo dari atas sampai bawah, Leo itu tampan dan matanya sangat tajam, membuat siapa saja bisa langsung jatuh cinta pada putra seorang Mafia itu.

Perlahan Nefa mendekati Leo, entah kenapa ia ingin sekali mencium aroma lelaki itu.

"Eh eh eh kenapa ini?" tanya Leo saat merasakan tubuh Nefa menyentuh tubuhnya.

Inti Archelon langsung melihat ke arah Nefa dan Leo, disana memang terlihat Nefa yang sedang mepet-mepet dengan Leo.

"Kenapa Nef?" tanya Marvel dengan alis terangkat sebelah.

Nefa mengigit bibir, ia pun memandang ke arah Leo dan tersenyum lebar.

"Gue pengen cium bau lo," ujar Nefa dengan kikuk.

"Ohh, buk bos ngidam bau lo, Leo! Gitu aja gak paham lo!" kata Hito sambil terkekeh.

"Oh ya? Beneran Nef?" tanya Leo seraya melihat ke arah Nefa.

Nefa menganggukkan kepalanya, dan itu mampu membuat Leo terkekeh dibuatnya.

"Mau peluk?" tanya Leo seraya merentangkan kedua tangannya.

Nefa mengulum senyum dan langsung memeluk Leo, ia menghirup aroma Leo dalam-dalam.

"Dasar bumil! Ngidamnya aneh-aneh!" kata Marvel sambil terkekeh.

Setelah selesai Nefa melepas pelukan itu dan menatap Leo dengan senyuman lebar.

"Makasih," ujar Nefa dengan tulus.

"Sama-sama, Bumil," jawab Leo seraya mengelus kepala Nefa sayang.

"Ya udah gue duluan, mau ke kelas, bye semua!" pamit Nefa buru-buru karena di tatap aneh oleh semua inti Archelon.

"Kelakuannya aneh, tapi kenapa tetep gemesin sih?" menolog Marvel seraya memperhatikan punggung Nefa yang berjalan menjauh.


Lo kenapa pelukan sama Leo tadi?" tanya Keysa sambil duduk di hadapan Nefa.

"Gak usah cemburu! Gue tadi cuman pengen cium aromanya," jelas Nefa tanpa melihat ke arah Keysa.

"Siapa yang cemburu, gue cuman nanya, QUEEN NEFA MAHENDRA!" kesal Keysa dengan wajah malas.

Nefa terkekeh geli mendengarnya, Keysa itu memang paling tidak suka dikaitkan dengan Leo, padahal mah aslinya suka, cuman gengsi.

"Iyain biar fast!" ujar Nefa yang membuat Keysa terkekeh.

"Ah lu mah begok!" teriak Valerie sambil menoyor kepala Laurine gemas.

"Dih, terserah gue lah! Gue 'kan yang dikasih, kenapa jadi lo yang ribet?" sambar Laurine sambil memasang wajah kesal.

"Ya tapi 'kan-" 

"Etdah! Ini kenapa rame banget sih?!" potong Viktoria merasa terganggu dengan celotehan Valerie dan Laurine.

"Laurine goblok! Orang dia di kasih barang mahal sama anak SMA Biru malah ditolak, mana yang ngasih ganteng lagi!" cetus Valerie seenak jidat.

"Itu bukan goblok, tapi jual mahal!" sanggah Laurine.

"Halah, sama aja!" 

"Ya-"

Ucapan Nefa terpotong kala handphone yang berada di tangannya bergetar.

085334234xxx

[Apa kamu sadar! Jika salah satu sahabatmu berkhianat?]

Queen Nefa M

[Maksud lo?]

85334234xxx

[Send A Picture]

[Jika kamu berpikir Noka pergi ke perpustakaan untuk belajar, Maka kamu salah, Noka selalu pergi ke perpustakaan karena ingin bertemu denganku]

[Lihat? Siapa yang menang kali ini. Kelas Marvel, aku sedang berada disana untuk menggoda pacarmu itu]

Tangan Nefa terkepal kuat, bukan karena perempuan licik itu ingin menggoda Marvel, tapi Nefa marah saat melihat foto Noka yang sedang memeluk mesra seorang perempuan.

"Sialan!" umpat Nefa sambil menendang kursi dengan keras.

"My Generation ikut gue! Kita harus kasih pelajaran seseorang!" kata Nefa sambil berlalu pergi.

Keysa, Laurine, Valerie dan Viktoria pun buru-buru menyusul Nefa, meski mereka bingung. Tapi mereka tetap mengikuti perintah gadis galak itu.

"Anjir! Si Nefa kenapa?" tanya Valerie dengan wajah bingung.

"Gak tau, tapi kayaknya marah banget deh!" jawab Keysa.

Nefa mengambil langkah besar untuk pergi menuju kelas Marvel, ia akan memberikan pelajaran pada perempuan sialan itu!

Brak! 

Pintu kelas Marvel ditendang kuat oleh Nefa, membuat seluruh murid disana menoleh ke arah gadis galak itu.

"Diandra Angela!" 


Cerpen Karangan: 

Blog / Facebook:  Author Cimout

Blog / Facebook: Author Cimout

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Suamiku Gangster Sekolah

Terkini

Iklan