Iklan

Iklan

Malu

9/03/21, 19:20 WIB Last Updated 2021-09-03T12:22:00Z

 Malu

Malam ini Hana memasak makanan yang sederhana namun terlihat sangat enak, udang yang di masak dengan bumbu-bumbu balado, sayur sup dengan berbagai bahan sayur di dalamnya, tempe orek sederhana namun terlihat sangat nikmat dan ada sambal yang terlihat sangat enak. 

Makanan sudah tertata rapi di meja makan aromanya pun sudah tercium kepenjuru ruangan. 

Tapi sampai sekarang Arka belum pulang juga, satu jam Hana menunggu di meja makan sampai akhirnya dia ketiduran. 

Cklek! 

Pintu apartement terbuka lebar, menunjukan Arka yang berdiri dengan tegap. 

Dia melangkahkan kaki menuju sofa dan merebahkan tubuhnya. 

Dia tidak berniat mencari keberadaan Hana, yang saat ini dia butuhkan adalah istirahat. Namun aroma harum dari masakan membuat Arka kelaparan. 

Dia beranjak dari sofa dan langsung pergi ke dapur untuk melihat masakan yang beraroma sangat enak. 

Langkah Arka terhenti ketika dia melihat Hana yang sedang terlelap tidur di atas meja makan, tangan sebagai bantalan kepalanya. Jika kalian rasakan pasti akan sangat pegal saat terbangun. 

Ada rasa kasihan jika melihat seorang wanita hidupnya se buruk ini, apalagi dia seorang gadis remaja yang baru berumur 18 tahun, pikir Arka. 

Namun ini kesalahan dia juga yang mau menjual dirinya sendiri, pikirnya lagi. 

Arka berjalan ke arah Hana dan langsung menggendongnya ala brindel style. Hana terbangun kaget ketika tubuhnya seperti melayang, seketika Hana langsung mengalungkan tangannya ke leher Arka. 

Tatapan mereka bertemu sampai akhirnya Arka mengalihkan pandangnnya lurus ke depan. 


"M-mas, turunin!" ucap Hana lembut. 

"M-mas turunin, aku berat badannya."

Hana terus memberontak. 

Arka tidak mengubris perkataannya Hana, dia tetap menggendong Hana sampai akhirnya dia turunkan Hana di ranjang kingsizenya. 

Hana menundukan kepalanya malu, entahlah baru kali ini dia merasakan di gendong oleh laki-laki seperti tadi. 

Arka tidak mengucapkan sepatah katapun, dia pergi meninggalkan Hana yang masih terdiam malu. 

Beberapa menit Arka terdiam di rungan yang berbeda. Arka yang sedang menunggu Hana tidur karena dia sangat lapar. 

Lima belas menit berlalu. Arka pergi ke dapur untuk makan, karena dia pikir Hana sudah terlelap tidur. Sungguh malu jika dia ketauan oleh Hana. 

Gruwuk ... gruwuk

"Duhh, ngantuk tapi lapar banget!" Hana memegang perutnya yang dari tadi terus saja meminta untuk di isi. 

Dia masih saja menyelimuti dirinya dengan selimut tebal. Tapi sial perutnya terus saja berbunyi. 

Memang, tadi Hana menunda acara makan malamnya karena mau menunggu suaminya pulang. Tapi karena kejadian tadi Hana enggan berbicara dan bertemu Arka. 

Sungguh malu, pikirnya. 

"Semoga Mas Arka sudah tidur!" Hana beranjak dari ranjang kingsizenya dan berjalan gontai ke luar kamar. 

Hana melirik sekilas ke arah sofa ruang tamu untuk mengecek apakah Arka sudah tidur?

"Kemana Mas Arka?" tanyanya sendiri. 

Hana mengangkat bahunya acuh, yang sekarang dia inginkan adalah makan. 

Suara-suara terdengar di dalam dapur, Hana sangat was-was akhirnya dia mengambil sapu. Entahlah dipikirannya sekarang adalah pencuri.

Hana siap-siap dengan sapu sebagai alat pemukul si pencuri itu. 

"Satu ... dua ... tiga, hah!" Hana meloncat ke depan meja makan. 

Degh! 

Mata Hana melotot! 

Beberapa detik berlalu, keduanya di landa kebisuan dengan mata yang terus bertatap-tatapan. 

"Ah! Eh! Anu Mas, maaf kirain Hana tadi pencuri, eh ternyata salah." Hana dibuat salah tingkah akan kelakuannya sendiri. 

Arka menaik turunkan alisnya sebagai pertanda ada apa. 

"Anu laper! Eh nggak, i-itu mau ambil minum." Hana berjalan ke arah Arka yang kebetulan tempat minum ada di sebelahnya. 

Hana mengisi gelas dengan air, sesekali dia melihat ke arah makanan yang masih bnyak tertata di meja. 

"Ehmm!" Deheman Arka mengagetkan Hana, entahlah dia berdehem seperti tadi karena apa. 

Hana mengalihkan pandangannya kembali ke gelas yang sudah terisi air penuh, sampai-sampai airnya tercecer ke atas meja karena terlalu penuh dengan air. 

Hana meneguk minum itu hingga tandas tanpa tersisa, dia menggigit bibir bawahnya supaya bisa menahan kelaparannya. 

Gruwuk ... 

Hana melotot ketika perutnya sendiri mengeluarkan suara yang begitu keras. 

Dia memegangi perutnya dan siap-siap untuk berlali mungkin karena malu, baru saja satu langkah dia sudah di kagetkan oleh cekalan Arka. 

"Duduk!" perintahnya tanpa menunjukan ekspresi apapun. 

Hana menurut, dan langsung duduk di samping suaminya itu. 

"Makan!" perintahnya lagi. 

"Ah! Eh! N-nanti aja kalau Mas Arka sudah beres." Hana menunduk malu, dia terus saja memainkan jari-jemarinya. 

Arka menyodorkan piring ke hadapan Hana, "Makan" ucapnya lagi. 

Hana mengangguk dan langsung mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauk. 

Hana sesekali melihat Arka, dia sangat lahap memakan makanan Hana, mungkin sangat enak atau sangat lapar. 

Senyuman Hana mengembang ketika Arka menambah nasi ke piringnya lagi. 

Arka berdehem untuk menetralkan kegugupannya, mungkin karena malu. 

Keheningan melanda ruangan itu, tidak ada kata yang keluar kecuali dentingan sendok. 

Hana memberanikan diri untuk memecahkan keheningan, " M-mas mau Hana bikinkan teh?" tawarnya. 

"Tidak usah," jawabnya dingin. 

"O-h iya," sahut Hana gugup. 

Setelah acara makan itu selesai Hana masuk ke kamarnya untuk tidur, sedangkan Arka tidur di sofa ruang tamu. 

"Huh, kenapa ini mata nggak ngantuk juga! Perasaan tadi ngantuk banget," gumamnya di balik selimut. 

Hana bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke arah pintu kamar. 

Dia membuka pintu dan mengecek apakah Arka sudah tidur apa belum. 

Terlihat disana Arka sudah menutup matanya, tapi Hana terfokus kepada tangan Arka yang sedikit mengigil. Pertanda dia sangat kedinginan. 

Hana berinisiatif untuk menyelimuti Arka. Dia berjalan dengan selimut yang ia pegangnya. 

Pelan-pelan Hana menyelimuti tubuh Arka sampai ke dadanya. Hana tersenyum manis saat melihat Arka yang begitu damai. 

Saat hendak melangkah, kaki Hana terkait oleh karpet bulu yang ada di bawah sofa tersebut, alhasil Hana terjatuh di atas tubuh Arka.

Cerpen Karangan: Selvi Agustiani

Blog / Facebook: Selvi Agustiani

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Malu

Terkini

Iklan