Iklan

Iklan

Ustadz the perfect #part29

8/25/21, 09:15 WIB Last Updated 2021-08-25T02:18:50Z

 

USTADZ  THE PERFECT

#PART29 [ DIA KEMBALI]

"Pulang yuk pak!" ajak Aisyah, Ali pun menyetujui nya.

Tak lama kemudian, mereka pun sampai dirumah.

Sesampainya dirumah, mereka langsung membersihkan diri.

Setelah membersihkan diri, Aisyah langsung menuju dapur. Ia sedang bersiap memasak makanan untuk dirinya dan Ali.

Walaupun sifatnya sedikit tomboy, tapi dirinya pandai memasak, karna bunda lah yang mengajarinya.

Kata bunda, seorang wanita itu harus pintar memasak. Supaya rasa cinta sanh suami akan bertambah.

Sedangkan kedua orang tua Aisyah, kemarin malam mengabari bahwa mereka akan pulang sore nanti. Alhasil hanya Ali dan Aisyah lah yang berada dirumah itu saat ini.

Setelah selesai membersihkan diri, Ali pun turun ke bawah untuk mencari keberadaan sang istri. Ia mencari ke seluruh penjuru rumah, dan tatapannya terhenti disaat melihat seorang gadis yang tengah sibuk dengan alat dan bahan masakan nya.

Lalu Ali mendekati sang istri. Dan memeluknya dari belakang.

"Astaghfirullah!" Pekik Aisyah.

Pasalnya ia sangat kaget ketika Ali memeluknya dari belakang.

"Ih ... pak ustadz!"

"Kamu lagi apa hmm?" tanya Ali dengan posisi memeluk Aisyah lalu menopang kepalanya di pundak Aisyah.

"Nih aku lagi main perosotan!" jawab Aisyah kesal.

Suaminya itu sangat aneh. Apa suaminya itu tidak melihat bahwa dirinya sedang memasak? sungguh aneh tapi nyata!


"Loh ... itu bukannya kamu sedang masak?" tanya Ali.

Aisyah membalikan badannya dan menatap tajam ke arah suaminya itu.

"Nah itu. Pak ustadz kan udah tau kalo aku lagi masak, terus ngapain nanya?!" Ali membalas dengan cengiran khas-nya.

Lalu Aisyah pun melanjutkan ritual masaknya.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ali pada sang istri.

"Gak ada. Lebih baik pak ustadz duduk aja di sana!" ucap Aisyah sambil menunjuk ke arah meja makan.

"Iya deh." lalu Ali pun menuju meja makan.

Tak lama kemudian akhirnya Aisyah pun selesai memasak. Lalu masakan itu pun ia sajikan di meja makan.

Ali menatap satu-persatu masakan yang di masak oleh istrinya itu. Ia tak sabar untuk mencoba masakan sang istri. Karna ini lah pertama kalinya Aisyah memasak untuk dirinya.

Aisyah pun mengambil kan makanan untuk Ali.

Ali sangat senang melihat sikap Aisyah kepadanya. Aisyah kini semakin dewasa dan perlahan-lahan menjalan kan tugasnya sebagai seorang istri.

Kemudian Ali pun mencicipi masakan sang istri.

Ali tidak menyangka seorang gadis tomboy masakannya bisa seenak itu.

"Gimana pak? enak kan?" tanya Aisyah setelah sang suami mencicipi masakannya.

"Lumayan," jawab Ali.

"Pasti enak kan? pak ustadz aja yang gengsi buat bilang masakan aku enak!"

"Iya enak sayang,"

seketika jantung Aisyah berdetak dua kali lebih cepat saat mendengar ucapan suaminya itu. Entah mengapa akhir-akhir ini Ali sering sekali memanggilnya dengan sebutan 'sayang'.

Setelah makan, Ali dan Aisyah menonton tv di ruang keluarga. Disaat mereka sedang asik menonton, tiba-tiba bunyi notifikasi ponsel Aisyah menganggu mereka, akhirnya Aisyah pun membuka ponselnya dan melihat siapa yang mengiriminya pesan.

Ternyata yang itu pesan dari teman-temannya. Mereka mengajak Aisyah untuk bertemu di taman sore nanti.

Aisyah sangat rindu kepada teman-temannya itu, ia ingin sekali bisa berkumpul dengan teman-temannya. Tapi sekarang ia sudah memiliki suami, ia harus sadar diri.

Ali yang melihat wajah murung sang istri pun heran. Mengapa wajah istrinya terlihat murung begitu?

"Kamu kenapa?" tanya Ali disaat melihat wajah murung sang istri.

"Hm... gak papa," jawab Aisyah.

"Jangan bohong, kamu kenapa?"

"Tadi temen-temen aku ngirim pesan. Mereka mau ngajak ketemuan nanti sore di taman," tutur Aisyah.

"Aku mau ikut, tapi kan gak mungkin,"

"Gak mungkin kenapa?" tanya Ali.

"Pak ustadz gak bakal kasih izin," jawab Aisyah tertunduk lesu.

"Siapa bilang saya gak kasih izin?" tanya Ali membuat Aisyah mendongak  menatap suaminya itu.

"Terus pak ustadz ngizinin aku?" tanya Aisyah dengan mata berbinar-binar.

"Iya," jawab Ali.

Mendengar itu Aisyah langsung memeluk Ali, ia sangat bahagia bahwa Ali mengizinkan nya.

"Makasih pak ustadz,"

"Iya sama-sama,"

Ali tak mau mengekang sang istri. Istrinya itu masih terlalu muda, dan diusianya itu adalah waktu dimana ia bisa berkumpul dan bermain bersama teman-temannya.

Sore hari pun tiba. Aisyah sedang bersiap-siap untuk menemui teman-temannya itu.

"Pak ustadz ikut sama aku yuk!" ajak Aisyah.

Ali terdiam. Apa perlu ia ikut dengan Aisyah? nanti pasti banyak pertanyaan dari teman-temannya Aisyah.

"Ayolah pak ustadz! Masa iya aku keluar sendiri, kan kalo perempuan mau keluar rumah itu harus ditemani sama mahramnya," jelas Aisyah.

"Ya pak?"

"Iya saya ikut," ucap Ali

Aisyah pun tersenyum puas mendengarnya.

"Yaudah ayok pak!" ajak Aisyah pada suaminya itu.

"Ayo!" Akhirnya mereka pun berjalan beriringan menuju taman.

Tak butuh waktu lama akhirnya mereka pun sampai di taman.

"Assalamu'alaikum," salam Ali dan Aisyah saat sampai di taman.

"Wa'alaikumussalam," jawab teman-teman Aisyah disana.

Teman-teman Aisyah menatap Aisyah dari ujung kepala hingga kaki. Apakah yang mereka lihat ini adalah Aisyah? sangat berbeda sekali.

"Hah?! ini beneran elo syah?" tanya Maya histeris.

"Bukan, Gue cucunya!" jawab Aisyah malas.

"Ya ampun Aisyah... Gue kangen banget sama Lo," ucap Maya seraya memeluk Aisyah dan diikuti oleh teman-teman perempuan lainnya.

Tak lama kemudian, mereka pun melepaskan pelukannya.

Teman-teman perempuan Aisyah menatap kagaum kearah Ali. Aisyah yang melihat itu merasa jengkel, Ia tak mau kejadian tadi pagi terulang kembali.

"Biasa aja dong liatnya! kek gak pernah liat cogan aja!" cetus Aisyah.

"Cowo disebelah Lo siapa Syah? kenalin dong!" pinta salah satu teman Aisyah yang bernama sisi itu.

"Heh demi apa si?! dimana lo dapet cowo se tampan itu?"

"Udah diem!" ucap Aisyah.

"Gue gak bakal jawab pertanyaan kalian," ucap Aisyah, semua temannya pun pasrah.

Tak lama kemudian beberapa teman laki-lakinya  pun datang.

"Weh maap, kami telat," ucap Dodo, teman Aisyah.

"Baru dateng itu salam dulu kek!" sindir Aisyah.

"Assalamu'alaikum?"

"Wa'alaikumussalam," jawab orang-orang disana.

"Eh Aisyah? haduh Syah, gue kangen banget sama lo!" ucap Dodo.

"Oh ya Syah Lo apa kabar?" tanya Roni seraya mengulurkan tangannya yang berniat untuk bersalaman dengan Aisyah.

Ali yang melihat itu, segera menahan tangan Aisyah. Lalu berkata...

"Bukan mahram!" ucapnya dingin.

"Eh itu siapa Syah?" tanya Wahyu seraya melirik Ali.

"Iya Syah, itu siapa?" tanya Roni

"Dia siapa sih Syah?" tanya Dodo

Akhirnya yang lain pun juga ikut bertanya.

"Haduh... lo semua sifat keponya gak pernah ilang ya," ucap Aisyah, mereka pun menyengir.

"Gue gak mau kasih tau kalo dia ini siapa, yang jelas dia milik gue!"  jawab Aisyah.

"Iya deh seterah lo!" ucap semuanya pasrah.

Ali hanya menyimak obrolan antara istri dan teman-teman istrinya itu.

Setelah beberapa detik kemudian, mata Aisyah menangkap seseorang yang dulu sangat dinantinya. Ia tak menyadari bahwa orang itu ikut berkumpul disini.

Ingin sekali dirinya menyapa orang itu, menanyakan kabarnya bercanda bersamanya, tapi ia ingat bahwa dirinya adalah seorang istri dari seorang ustadz atau yang lebih tepatnya istri dari seorang Gus yang telah mengisi hatinya selama beberapa bulan ini.

Drttt... Drttt....

Tiba-tiba ponsel Ali berdering, ada telpon masuk.

"Assalamu'alaikum bund?" salam Ali, dan yang menelpon itu adalah bunda Aisyah, mertuanya.

"Wa'alaikumussalam. Ali kamu dimana?" Tanya bunda disebarang sana.

"Lagi di taman, emang kenapa bund?" Balas Ali.

"Ini, bunda udah di depan rumah, terus pintunya ke kunci, jadinya bunda sama ayah gak bisa masuk,"

"Oo, kalo gitu Ali pulang  bund," ucap Ali.

"Yaudah hati-hati ya nak. Telponnya bunda matiin ya, assalamu'alaikum,"

"Wa'alaikumussalam,"

Setelah mematikan telpon, Ali langsung berpamitan kepada Aisyah dan teman-temannya. Lalu Ali pun langsung meninggalkan taman.

Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mereka pun pulang ke rumah masing-masing, begitupun dengan Aisyah.

Namun, saat di jalan, Aisyah dihentikan oleh panggilan seseorang.

Aisyah pun membalikan badannya, dan melihat siapa yang memanggil dirinya. Dan ternyata itu adalah seseorang yang sangat dirindukannya.

"Kamu kemana aja?"

"Aku nyariin kamu selama ini,"

"Kenapa pesan aku gak kamu bales?"

"Aku ada salah sama kamu?"

"Kalo ada, aku minta maaf,"

Seketika badan Aisyah lemas mendengar penuturan orang itu, lidahkan terasa kelu, tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

"Aku mau ngomong sama kamu Syah,"

"Aku sebenernya cinta sama kamu, aku sayang sama kamu, dan aku berniat untuk melamar kamu," ucap orang itu

Aisyah terkejut mendengar itu semua. Hatinya juga perih. Mengapa setelah dia memiliki suami, baru orang ini mengungkapkan nya?

Dulu Aisyah sangat menanti kehadiran dirinya. Ia sangat berharap kepadanya. Namun apa? dia selalu datang kemudian pergi dan datang lagi kedalam kehidupannya.

"Syah, aku tau kamu cinta kan sama aku? jawab Syah!"

"Aisyah jawab!" pinta orang itu

Mata Aisyah menjadi panas, dadanya terasa sesak mendengarnya.

Jujur saja, ia sangat rindu dengan lelaki yang berdiri didepannya ini. Tapi ia harus ingat bahwa dirinya adalah milik Ali.

Tak terasa bulir bening jatuh membasahi pipinya.

"Jawab Syah! Kamu cinta kan sama aku?" Tanya laki-laki itu.

"Iya aku cinta sama kamu!" Teriak Aisyah.

Ali yang berniat untuk menjemput Aisyah, tak sengaja melihat dan mendengar itu semua.

Ia urungkan niatnya untuk menghampiri sang istri dan memilih untuk pulang ke rumah. Perasaannya sangat kacau setelah melihat kejadian itu.

"Tapi itu dulu! sekarang sudah ada yang mengisi hatiku, bahkan ia bisa membimbing ku!"

"Ia tidak sama seperti dirimu yang selalu datang lalu pergi dalam kehidupanku! kamu terlalu pengecut!"

"Kamu membuat ku berharap kepada mu, tapi kamu tak pernah memberikan kepastian kepadaku,"

"Lebih baik kamu lupakan semua tentang kebersamaan kita, dan jalani hidup ini dengan selayaknya." jelas Aisyah lalu meninggalkan laki-laki itu seorang diri

Bersambung....

Cerpen Karangan: Ukhty Fillah

Blog / Facebook: Ukhty Fillah

 

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Ustadz the perfect #part29

Terkini

Iklan