Iklan

Iklan

Ustad Muda Kekasih Halalku

8/02/21, 19:29 WIB Last Updated 2021-08-02T12:35:18Z

Semua orang pasti menginginkan kebahagiaan begitupun dengan Anisa, ia sangat berharap rumah tangganya berjalan sesuai keinginan, penuh kebahagiaan dan ketentraman. 

Meskipun, sekarang sudah kehadiran orang ketiga di antara keduanya. Namun, Anisa tetap tak menyerah untuk mempertahankan rumah tangganya itu. Waktu berjalan dengan begitu cepat, kini tepatnya kandungan Anisa sudah beranjak tiga bulan di mana pernikahan Haikal dan Amira sudah dua bulan lebih. 


Seperti biasa Haikal mengajar anak-anak dengan semangat yang tinggi, memory Haikal kembali pada masa di mana Ia menikah dengan Amira. Sungguh pernikahan ini tak diinginkan Haikal. Namun, sekarang ia harus menerima kenyataannya. 

Haikal pulang dengan mampir terlebih dahulu ke toko emas, untuk membelikan Amira kalung sebagai pengganti mahar. 

"Assalamu'alaikum," ucap Haikal ketika masuk dan ia hanya mendapati Amira sedang duduk di sofa. 

"Wa'alaikumsalam," jawab Amira seraya menghampiri untuk mencium punggung tangan suaminya itu. 

"Anisa mana?" tanya Haikal, sementara Amira hanya menunjuk ke arah dapur, yang memang Anisa sedang berada di sana. 

Haikal menengok ke arah dapur dan terlihat Anisa sedang mencuci piring, dengan segera Haikal mengeluarkan sebuah kalung, untuk diberikan pada Amira sebagai pengganti mahar kemarin. 

"Bagaimanapun ini hak kamu Mir, aku pakein yah?" ucap Haikal diiringi anggukan kecil Amira. Haikal memasangkan kalung tersebut, tanpa sadar di balik pintu ada seseorang yang melihatnya dengan tangisan sesaknya. 

Hati Anisa memanas melihat pemandangan barusan hingga dengan cepat ia lari. Namun, tanpa diketahui ada air bekas cuci piring yang bertebaran dilantai, hingga membuat Anisa terjatuh dengan mengeluarkan darah segarnya. 

'Aaaa'

Teriak Anisa yang nyaring di dengar Amira dan Haikal. Sigap keduanya langsung menghampiri Anisa, begitu terkejut Haikal ketika mendapati Anisa yang tergeletak dilantai dengan cucuran darah yang mengalir deras. Tanpa basa-basi Haikal langsung membawanya ke rumah sakit terdekat. 

*****

Tidak ada yang bisa tegar ketika kita kehilangan janin yang sangat kita harapkan. Anisa sangat terpukul ketika dokter berkata. 

"Alhamdulillah mbak Anisa gapapa, hanya saja janinnya tidak bisa kami selamatkan!"

Menangis, itulah yang bisa Anisa lakukan. Karna menyesalpun tak ada artinya, Anisa sangat hancur ketika penyemangat hidupnya lenyap dengan begitu cepat. Tuhan kenapa kau ambil janin yang menjadi alasan aku mempertahankan rumah tangga ini, batin Anisa terus meringis. 

"Mas, maafin aku. Aku sudah lalai dalam menjaga kandungan ini... Hiks" tangis Anisa terus pecah. Haikal memeluk Anisa dengan erat tak terasa kini Haikal menitikkan air mata iba pada Anisa. 

Aww

Ringis Amira dengan memegang perutnya, seketika pelukan Anisa dan Haikal terhenti. Sementara Amira terus meringis, dengan sigap Haikal membawa Amira pada dokter untuk diperiksanya. 

"Sus, saya ingin lihat ke sana!" ucap Anisa pada suster, untuk mengikuti Haikal dan Amira. Kini Haikal berada di ruang Amira untuk menanyakan kondisi Amira. 

"Selamat istri anda hamil dengan usia kandungan sudah beranjak satu minggu,"

Deg.

Seketika tangis Anisa kembali pecah ketika melihat Haikal mengucapkan Alhamdulillah dengan bersujud, rasa sesak kian menganga. Anisa tak kuat untuk menyaksikan kebahagiaa mereka, yang kini Haikal sedang memeluk Amira dengan tak sadar Anisa melihat keduanya dari luar ruangan. 

Anisa pergi ke taman dengan menggunakan kursi roda yang dibantu Suster, hatinya terus beristighfar agar ia sadar dengan sebuah kenyataan pahit ini, hatinya remuk seremuk mungkin. Namun, apa boleh buat? Ini semua sudah terjadi. "Tinggalkan saya sendiri Sus," ucap Anisa dengan cepat Suster tersebut meninggalkan Anisa yang kini tengah berada di Taman. 

*****

"Aku hamil mas," ucap Amira dengan penuh kebahagiaan. Namun, ia tak sadar bahwa ada hati yang tersakiti dari kebahagiaannya. 

"Iya Alhamdulillah Tuhan begitu baik, ketika janin yang tumbuh di rahim Anisa lenyap! Kini Tuhan gantikan dengan janin yang tumbuh di rahimmu. Jaga janinnya baik-baik, jangan sampai kejadian itu terulang kembali!" ucap Haikal dengan tersenyum bahagia. 

"Eh-Anisa mas,"

Dengan segera keduanya beranjak dari ruangan tersebut untuk menghampiri Anisa yang tengah terpuruk. Namun, mereka tak melihat Anisa di sana, terlihat ada suster. Dan Haikal langsung menanyakannya. 

"Sus, liat pasien yang ada di sini?"

"Di taman pak! Dia menangis ketika melihat kalian tadi, sebagai saran. Sebaiknya bapak berada terus di dekatnya jangan sampai dia setres!" ucapan Suster tersebut menusuk ke dalam hati Haikal yang kini ia sadar bahwa Anisa sedang kesakitan.

Hancur. 

"Ya Allah, tabahkanlah hatiku yang rapuh ini! Aku tak sanggup untuk melihat kebahagiaanya, bolehkah aku mengeluh sekali ini saja? Aku sakit ketika melihat dirinya bersama orang lain! Aku sesak ketika melihatnya memberikan sebuah hadiah. Meskipun itu haknya!" lirih Anisa dengan tangisan yang masih mengalir dengan sempurna. Tanpa sadar kini Amira dan Haikal tengah menyaksikan tangisan Anisa, tak terasa Haikal meringis melihatnya, begitu kejamkah diriku? Batin Haikal terus bertanya ketika melihat Anisa kesakitan. 

"Tenangkan dia Mas, aku akan pulang!" ucap Amira yang diiringi anggukan Haikal. 

"Eh-Mas," ucap Anisa ketika melihat Haikal. Seketika Anisa mengusap air matanya dan berpura-pura tersenyum agar semuanya terlihat baik-baik saja. "Amira mana mas?" tanya Anisa dengan tersenyum. 

Haikal yang melihat Anisa tersenyum hatinya begitu sakit, apakah dia berusaha tegar? Tanyanya di dalam hati. "Amira pulang!" ucap Haikal yang tengah berada di hadapan Anisa dengan bertekuk lutut mengusap air yang masih tersisa di pipi Anisa. 

"Maafkan aku, harusnya aku tadi menemanimu, karna aku tau di saat seperti ini kamu membutuhkanku sebagai penyemangat untuk kembali bangkit dari keterpurukan! Maafkan aku, bukan maksud aku untuk menyakiti hatimu, tadi aku khilaf karna terlanjur bahagia ketika mendengar kabar bahwa Amira tengah mengandung anak'ku, maafkan aku karna telah memberikan Amira sebuah kalung tanpa seizin kamu!" jelas Haikal dengan memeluk Anisa yang masih duduk di kursi rodanya. 

Kini Anisa tak bisa lagi untuk menyembunyikan tangisannya. Namun, ia pun sadar bahwa ia tetap harus bijaksana! Karna sekarang Haikal bukan milik seutuhnya, ia juga harus memperhatikan Amira sebagai istri keduanya. 

"Mas, Anisa minta maaf karna telah cemburu!" ucap Anisa. "Kamu tidak perlu minta maaf, bahkan aku lebih suka melihatmu cemburu. Itu artinya kamu masih menyayangiku, tapi aku janji! Aku akan bersikap adil terhadap kalian." 

Haikal tersenyum dan menyeka air mata Anisa, hingga membuat Anisa seketika luluh dan lupa dengan kesedihannya. 

Tangisan adalah cara seseorang untuk meluapkan kesedihanya yang tengah ia rasakan. Meskipun hatinya menginginkan menjerit sepuas mungkin, tapi apakah itu bisa terjadi? Tentu tidak! Karna ia masih sadar bahwa itu tak baik, ia cukup menjerit dalam hati ketika berhadapan dengan-Nya selepas melaksanakan ibadah sepertiga malam. 


Cerpen Karangan: Syifa Alfiyatunnisa Az

Blog / Facebook: Syifa Alfiyatunnisa Az

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Ustad Muda Kekasih Halalku

Terkini

Iklan