Iklan

Iklan

Surat Takdir Untuk Salma

8/31/21, 13:24 WIB Last Updated 2021-09-03T11:31:05Z

Surat Takdir Untuk Salma

"Udahan deh galaunya, ngapain pikirin si Aya lagi udah jelas dia gak peduli." Arif jengah sudah beberapa kalinya ia dan yang lain menasehati Azka tetapi tetap sama pria itu galau, galau berat.

"Gue gak terima aja apa alasan dia putusin gue!" Kini emosi Azka membuncah.


Membuat ke empat sahabatnya yang juga ada di ruangan itu ikut emosi menatap Azka yang malah menumpahkan amarahnya pada mereka.

"Udah kali! Lo udah lupa satu minggu yang lalu Lo udah Ijab qabul, udah halalim anak orang!" Teriak Aldo yang berwatak mudah emosi.

"Gue gak peduli!" Teriak Azka menatap mereka.

"Dia itu baik, Azka. Coba deh kenali dia dulu." Kini Arif melunakkan suaranya, agar tidak menambah keadaan yang panas.

"Baik? Tau dari mana Lo! Dia mau aja dinikahi sama gue! Baik menurut Lo!!!" Wajah Azka memerah menahan amarah agar tidak menonjok Arif entahlah emosinya sangat tidak tertahankan saat ini.

Tanpa mereka semua sadari, Habibi mendekati Azka lalu menarik kerah pria itu.

_Bugh_

Semua terkejut, ketika Habibi meninju perut Azka dengan sangat keras, sampai-sampai pria itu terduduk lemas.

"Jangan pernah Lo jelekin Salma, apalagi di depan gue." Ujar Habibi dingin.

"Kenapa?" Azka menatap Habibi menantang, meski ia sudah lemah.

"Salma sepupu gue. Jadi gue gak mau denger Lo jelek-jelekin dia di hadapan gue." Habibi pergi meninggalkan mereka yang tampak diam, masih mencerna apa yang barusan terjadi.

Sesaat kemudian Habibi beristighfar, ia sungguh tak bisa menahan amarahnya. Beraninya Azka mengatakan kalau Salma bukan wanita yang baik. Tidak tau saja pria itu bagaimana sikap Salma yang sebelumnya.

_Flash back onn_

" _Apa?! Jadi yang di jodohin paksa sama Azka itu Salma?" Sungguh Habibi baru mengetahui nya saat ini ketika pria itu mampir ke panti tempat tinggal Salma dari dulu.

Betapa mengejutkannya berita ini, Habibi kecewa karena ia baru mengetahui nya dari Bunda.

 

"Bunda pikir Salma udah kasih tau kamu." Ujar bunda dengan tatapan merasa bersalah.

"Gak Bun, waktu itu aku ada di luar negri selama seminggu jadi gak tau, gak ada yang kasih tau, gak nyangka juga orang yang di jodohin sama Salma adalah sahabat aku, Bun."

Bunda mengusap punggung Habibi, ikut merasa bersalah terlebih lagi pemuda di hadapannya ini sangat peduli dengan mereka

"Maaf ya Nak,"

"Gak papa Bun, aku paham kok kenapa Salma gak cerita ini." Habibi mengulas senyumnya.

Flash back off_

"Bib, ada yang Lo sembunyiin?" Tiba-tiba saja Aldo dan Arif menghampirinya.

"Azka mana?" Tanya Habibi, mengacuhkan pertanyaan mereka.

"Di dalam, reda in emosi. Pengen ditinggal sendiri dulu katanya." Ujar Arif menatap lekat Habibi.

"Ada yang Lo sembunyuiin kan? Kenapa Lo gak bilang kalau Salma itu sepupu Lo?" Arif ikut duduk di samping Habibi, di ikuti Aldo. Menikmati semilir angin malam yang menusuk tulang.

"Gue baru tau kalau Salma yang di jodohin sama Azka. Kalau aja gue tau Dari awal bakal gue gagalin." Aura dingin menghampiri ketiganya, hanyut dalam pikiran masing-masing.

Arif dan Aldo tidak pernah melihat sisi Habibi seperti saat ini. Biasanya pria ini lah yang paling murah senyum dan paling tidak suka pertengkaran.

"Salma itu istimewa, bahkan dia adalah orang yang membuat gue paham cinta," sejenak Habibi terkekeh membuat Aldo dan Arif menatapnya.

"Salma itu cinta pertama gue, tapi tenang aja rasa itu udah gak ada tapi berganti."

"Maksudnya?" Aldo menatap heran Habibi.

"Berganti menjadi rasa sayang kepada seorang adik. Gue udah anggap Salma adik gue jadi jangan macam-macam." Pria itu mengusap pelan wajah lalu kembali beristighfar.

"Gue merasa bersalah udah nonjok Azka," ujar Habibi menatap lekat kedua sepatunya, menunduk.

"Gak papa, tu anak perlu di gituin biar kapok. Gue juga kasihan sama dia karena posisi dia sekarang ini pasti berat. Di jodohkan dengan orang yang sama sekali nggak dia sukai." Arif ikut menunduk, entah siapa yang harus dia bela. Salma atau Azka.

"Gue punya ide." Aldo menatap kedua sahabatnya itu bergantian.

"Gimana kalau kita deketin Azka sama Salma, selama ini kan Azka gak kenal sama Salma."

"Gue setuju deh, Lo setuju gak Bib?" Arif menyenggol bahu Habibi.

"Gue setuju."

"Gak cemburu kan?" Tanya Aldo membuat Habibi menatapnya sinis.

"Nggak lah, Salma itu udah gue anggap sebagai adik, ngapain gue cemburu. Ayo lah gue mau minta maaf sama Azka." Habibi berdiri tetapi di cegat ke dua curut Itu.

"Kenapa?"

"Jangan baku hantam lagi ya." Peringat Aldo menatap Habibi yang mengernyit heran.

"Kan gue mau minta maaf, bukan gelud."

"Salma."

Kegiatan Salma menata buku-bukunya ke raknya terhenti.

"Saya?" Gadis itu menunjuk dirinya ragu.

"Iya, saya mau kasih tau kalau Azka tadi pingsan di lapangan," ujar Arif tampak berkeringat karena berlari mencari keberadaan Salma.

"Gimana keadaannya Kak?" Wajah Salma panik, dengan segera Arif membawanya menuju rumah sakit di dekat kampus.

Makasih ya buat teman teman yang sempat baca cerita Salma. Buat kalian syukron banget, masih banyak belajar an perlu dukungan tentunya.

"SEBAIK-BAIK BACAAN ADALAH AL-QUR'AN."

 

   
Khoirun Nisa

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Surat Takdir Untuk Salma

Terkini

Iklan