Iklan

Iklan

Suci Dalam Debu

8/02/21, 19:04 WIB Last Updated 2021-08-02T12:35:18Z

Tidak ada cinta yang datang tiba tiba, cinta datang karena adanya sebuah rencana, jadi rencanakanlan cintamu sebaik-baiknya~

(Muhammad Tamlikho Zain)

Tamlikho, adalah namaku, orang-orang biasa memanggilku, Tamel.

"Assalamu'alaikum.."

Kedatangan kyai Maruf, pimpinan Pon-Pes Ar Raudoh  membuatku sangat terkejut, aku yang siang itu sedang memberi makan kucing langsung menyambutnya dengan penuh hormat. 

"Silahkan masuk pak Kyai, silahkan duduk.." pintaku

"Iya, terimakasih, nak"

"Sebentar ya pak, saya panggilkan abah dulu.."

"Iya nak, silahkan"

Aku segera memberitahu abah ku yang sedang mengajar anak-anak kecil di majlis. Ya, abah seorang guru ngaji, dia biasa mengajar anak-anak mengaji di rumah kami, orang-orang menyebutnya, Ustadz Alwan.

"Assalamu'alaikum abah.."

"Wa'alaikumsalam mel, ada apa?"

"Maaf bah, ada Kyai Maruf dirumah"

"MasyaAllah, baik mel, kamu gantikan abah dulu ya!" Pinta abah!

"Iya, bah" sahutku.

"Baiklah, anak-anak ngajinya sama bang Tamel dulu ya, abah ada tamu." 

"Iya, abah..." Sahut anak-anak.

Lalu aku menggantikan abah mengajar anak-anak siang itu. Setelah selesai mengajar dan anak-anak sudah pulang, aku segera menghampiri abah dan kyai Maruf di ruang tamu, ternyata kyai Maruf sudah akan pulang, jadi aku hanya bisa bersalaman dengannya dan mengantarnya sampai teras rumah.

Hari pun sudah malam, selesai shalat isya dan sedikit tadarus, aku langsung tidur dan terbangun di jam 23:45. 

Aku lalu ke tempat wudhu dan akan melaksanakan shalat tahajjud. Tak sengaja aku mendengar percakapan abah dan ummi di ruang shalat yang sepertinya sedang membicarakanku.

"Kyai Maruf bilang, katanya kalau Tamel sudah siap menikah, nikahkan dengan perempuan namanya Khodijah, rumahnya di Jln. Langgar Ciledug.." ucap datar abah kepada ummi.

Aku segera pergi mengambil wudhu dan melaksanakan shalat sunnah tahajjud. Tiba-tiba aku kefikiran soal ucapan abah tadi, apa benar aku akan di jodohkan? Rasanya baru kemarin aku lulus.

Aku lalu menyelipkan pertanyaan itu dalam do'a di tahajjudku.

Selesai tahajjud, aku membaca buku yang berisi syair-syair dan puisi, lalu kembali tidur dan terbangun di pagi hari, mengerjakan aktivitas masing-masing seperti biasanya.

Hari terus berganti dan entah mengapa aku sering sekali kefikiran dengan ucapan abah soal wanita itu, Khodijah.

Rasa penasaran ini membuatku ingin sekali mencari tahu, akan tetapi abah dan ummi tidak mengatakan apapun tentang permintaan Kyai Maruf, ataupun  tentang Khodijah.

Aku pun mencari tahu tentang Khadijah kepada beberapa temanku yang tinggal di dekat Jln.Langgar, ternyata ada salah satu temanku yang kebetulan mempunyai saudara di Jln.Langgar itu. 

Aku meminta bantuan temanku, Kholil, untuk menanyakan siapa saja wanita bernama Khadijah yang tinggal di jln.Langgar Ciledug.

Tring...

Suara handphone berbunyi, satu pesan masuk..

"Mel, ana udah dapet info tentang Khodijah nih". Satu pesan dari Kholil yang membuat jantungku berdebar.

"Iya, Lil, gimana?"

"Sebentar ya, ana kirim dulu fotonya!" 

Aku menunggu Kholil mengirimkan foto Khodijah, tk sadar tubuhku gemetar dan nafasku tk beraturan seperti akan melihat singa menerkam mangsanya di depan mataku.

Tring...

Pesan masuk dari Kholil. Aku memejamkan mata dan menghela nafas sebelum membuka pesan itu.

Dan betapa terkejutnya diriku saat melihat foto Khodijah, mengenakan celana jeans biru pendek kurang lebih 30 cm dan tangtop berwarna putih yang membuatku makin gemetar dan jantungku berdebar semakin kencang.

"Astahgfirullah, apa kamu ngga salah orang, Lil?" Tanyaku memastikan.

"Saudaraku, Salma, bilang dia satu satunya remaja bernama Khodijah di tempat itu" sahut Kholil.

"Yang warga situ tau, dia anak yatim piatu dan tinggal bersama bibi nya, nakal, susah di ajak mengaji, suka gabung di tongkrongan malam, dan pakaiannya memang seperti itu" sambung Kholil.

"Astaghfirullah.. lalu, Jika benar hanya dia, apakah dia?" Seketika fikiranku tidak tenang dan penuh tanda tanya.

"Tamel, ngga mungkin Kyai Maruf sembarang menjodohkan orang, mungkin maksudnya agar antum bisa mendidik dia ke jalan yang lebih baik dan IngsyaAllah benar" perkataan Kholil sedikit membuatku tenang.

"Okee,, makasih ya, Lil, do'ain ana"

"Siapp bang Tamlikho,, jangan berkecil hati yeehh, dan coba chat aja nomor nya, hhe.." 

"Haha iya, Lil, terimakasih banyakk".

Aku menyimpan nomor telepon Khodijah.

Hari berganti hari aku hanya memandangi kontak nya, masih berfikir, apa benar dia??? Saran Kholil agar aku menyapanya untuk sekedar kenal. 

Setelah lama berfikir, malam ini akupun memberanikan diri, mencari kontak yang bernama Khadeejah dan mengiriminya pesan WhatsApp.

*Khadeejah*

(0812********)

Aku menyapa."Assalamu'alaikum, benar ini Khodijah?" 

Khodijah menjawab."Wa'alaikumslam, iya benar, ini siapa ya?

"Alhamdulillah, nama saya Tamel, tinggal di Petukangan, Jakarta Barat."

"Oh, iya ada apa?" 

"Sebelumnya maaf mengganggu, boleh saya mengenal adek?" Tanya ku.

"Maaf ya, tapi saya ngga kenal kamu" sahutnya dengan singkat.

Seketika tulisan online yang berada di bawah nama kontak berubah menunjukan terakhir dilihat. Entah mengapa Khodijah langsung Offline meninggalkan obrolan.

Kubaca ulang berkali-kali pesan singkat tersebut, sepertinya dia anak yang sopan juga berhati-hati, aku menjadi semakin penasaran padanya.

Bersambung...


Cerpen Karangan: Qotrunnadaa

Blog / Facebook: Qotrunnadaa

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Suci Dalam Debu

Terkini

Iklan