Iklan

Iklan

Suami Idaman

8/02/21, 18:43 WIB Last Updated 2021-08-02T12:35:18Z

Suami Idaman 

Rasa gelisah yang kini kurasa, terjawab sudah. Tamu bulanan yang tak kurindukan telah datang, di saat malam suamiku meminta  untuk dilayani. 

Setelah mengatakan aku ada tamu bulanan. Wajahnya yang tadi sumringah, seketika berubah menjadi kaku. Ada rasa kasihan dalam benakku. Apakah aku berdosa? Tidak mungkin. Kan itu kehendak, Allah bukan kehendakku.

Malam pertama kami gagal, karena tamu bulanan. 

Pagi sekitar jam 04.15 aku terbangun. Menatap wajah ustad Ali, yang lelap. Tampan. 

Aku inginkan yang baik dari Allah. Allah memberiku yang terbaik versinya. Aku inginkan yang biasa saja, dari Allah. Tapi Allah memberiku yang luar biasa. Maka masih pantaskah ku mengeluh? Entahlah.

"Mas. Ayo bangun, waktunya salat subuh," bangunku sembari menepuk pelan bahunya. Dia menatap ku. Lalu duduk. Entah apa yang ada dalam pikirannya tentangku. 

"Cantik. Aku beruntung memilikimu," ucapnya. Menarik pelan tanganku. Akupun duduk di dalam pangkuannya. Aku tidak pernah berfikir akan mendapat suami sebucin ini. Suara azan terdengar dari berbagai penjuru. Ketika dia hendak menciumku. Keberuntungan tidak memihak padamu lagi, Mas.

Dia beranjak pergi membersihkan tubuh. Aku yang melihatnya masuk, langsung meluncur ke dapur. 

Tak lama dia menyusulku ke dapur. Aku mengambil tangannya, lalu dia mengecup alisku dan kedua mataku. Kemudian pergi. Suamiku kau lelaki bucin kedua setelah, Ayah.

Aku melanjutkan pekerjaanku yang terhenti. Menggoreng ikan yang dia beli kemarin. Membuat sup kesukaannya, dan mencah kangkung. 

Pasti dia akan makan banyak hari ini. Sebab semua makanan yang kubuat adalah kesukaannya. Batinku.

Kini semua makanan telah tertata di meja. Tinggal menunggu, Ustad Ali.

"Assalamualaikum, Sayang." Mencium kepalaku. Aku kaget karena asik melamun.

Mengambil tangannya. Dia melihat ke arah meja lalu melihat ku. "Kamu yang masak semua ini, Sayang? Lecet tidak tangannya?" Tanyanya cemas. Melihat setiap inci tanganku.

"Tidak ada yang lecet. Berhenti khawatir berlebihan, Mas. Aku baik-baik saja," ucapku karena mulai sebal dengannya. Mungkin karena sedang ada tamu, makanya sensi.

Sepertinya dia mengerti keadaanku. Dia mengambil piring lalu menyendok nasi, mengambil tiga lauk sekaligus. Dan memberikannya padaku. Aku bukan hewan. Mentapnya dengan sebal.

"Kau kan sudah capek. Jadi, makan yang banyak biar tenaganya pulih, biar tensinya turun." Ledeknya. 

"Maaaas!" Dia hanya kabur ke atas. Dasar nyebelin.

Aku duduk di depan TV. Saat dia selesai makan. Memutar acara TV ikan terbang. Sebenarnya aku tidak suka menonton. Tapi karena bosan tak ada teman bicara ya sudahlah. 

Kalau di pondok jam segini aku lagi duduk di majelis ta'klim. Aah jadi rindu suasana pondok deh. 

Lama nonton drama menangis. Aku langsung teringat sosok tampan yang tinggal bersamaku. Yah ustad Ali, entah di mana lelaki ku itu. Biasanya di mana ada aku di situ ada dirinya. Aku mencari dia kemana-mana tapi tetap tak kutemukan wajah tampanya. Kemana, ustad Ali pergi?

Pundakku tiba-tiba ada yang menepuk dari belakang. Membuat aku kaget sedikit jatuh.

"Sayang! Kamu kenapa?" Ternyata ustad Ali. Selalu begitu. Menyebalkan!

"Kaget, Mas. Kirain tadi, kuyang!" 

"Mana ada kuyang setampan ini." Pujinya. Tapi memang tampan sih. "Sudah masuk yuk. Mas ngantuk mau tidur siang sebentaran." Aku melangkah mengimbanginya. 

Tidur dalam pelukannya sangat nyaman. Bahkan nyamannya akan kalah dengan meluk guling. Kini bahagiaku sederhana. Cukup melihat wajah tampannya di pagi hari  sudah membuatku bahagia sepanjang hari. Sederhana bukan?

Kalau kata iklan. 

Suprite nyatanya nyegerin.

Itu salah. Nyatanya suamiku lebih nyegerin dari itu. 

Kalau kata orang, nikah itu bikin stres. Itu salah. Nyatanya aku nikah dengan lelaki yang tepat gak stress. Bahagia malah. 

Tapi, kalau kata Dilan rindu itu berat. Itu benar, sebab sejam tak bertemu saja mampu membuat aku gila. Gimana kalau selamanya? Gak kebayang.

Bersambung...

Cerpen Karangan: Tiara

Blog / Facebook: Tiara

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Suami Idaman

Terkini

Iklan