Iklan

Iklan

Selembar Kain Penutup Wajah

8/02/21, 19:16 WIB Last Updated 2021-08-02T12:35:18Z

Part 1 (Ada apa dengan cadar?)

Cadar. Bukan perkara mudah saat kami memilih memakai nya. Karena tidak semua orang mau menerima kehadiran kami. Tidak banyak dari yang lain, akan menatap kami dengan tatapan aneh dan sinis. Mengatai teroris, hantu, dan juga ninja. Katanya, kami itu menyeramkan. Namun, aku sendri berusaha untuk tidak peduli. Biar mereka mengatakan sesuka hatinya. Bukankah, pada dasarnya, perkataan manusia tidak akan ada habisnya? So, untuk apa di pikirkan? 

Pagi ini sebelum ke kantor, aku mampir di warung untuk membeli bensin. Karena masih ada pembeli yang harus di layani, terpaksa kutunggu di luar. Kulihat, seorang anak kecil di dalam warung itu menangis histeris. Entah karena apa. Pemilik warung itu mencoba membujuk anaknya agar tidak menangis. Tidak sengaja, netra ibu itu menoleh padaku. Yang membuatku mengulum senyum, ia  menatapku dengan pandangan aneh, bahkan mengkin ... Sinis.

"Mau apa, Nak? Permen?," Ibu tadi mencoba membujuk bocah itu dengan permen di tangannya. Namun, bocah itu bertambah menangis dengan sangat kencang. 

"Duh, kamu kenapa Nak? Syutt. Diam ya. Ada orang cadaran tuh."

Subhanallah. Perkataan nya seolah wanita bercadar di ciptakan untuk menakuti orang. Sekilas, bocah itu melirikku. Namun tetap menangis. Bukankah sebelum aku kesini, bocah itu sudah menangis?

"He! Mbak!" 

Aku tersentak dengan teriakan pemilik warung itu. Ibu itu langsung keluar dari dalam warung. Menuju padaku.

"Anak saya nangis nih, dia takut ngiliat kamu!"

Karena teriakan ibu itu, tatapan para pembeli langsung tertuju padaku.

"Maaf, Bu. Tapi saya nggak nakutin siapa pun kok,"

"Halah! Kamu memang nggak nakutin! Tapi penampilan kami nih, bikin orang takut! Lagian pake jilbab kok lebay banget, gadis yang dari pondok saja tidak seperti ini!" teriak Ibu itu menunjuk jilbabku. Orang di sekitar Mulai berbisik satu sama lain. Mungkin, Jika tidak belajar tentang adab dan sopan santun, aku pasti Sudah membalas perkataan nya. Kucoba berucap istighfar dalam hati agar aku tenang. 

"Pergi kamu! Saya nggak Sudi layani pembeli kayak kamu!"

Dengan mencoba menahan diri, agar tidak emosi, Aku kembali pada motorku yang terpakir. Lalu berlalu dari sini. 

***

"Hilya! Nih, ada sesuatu buat lo,"

Aku yang sedang berjalan menuju meja kerjaku menoleh sekilas pada Ema. 

"Apaan?"

"Surat cinta dari Pak bos,"

Aku memutar malas mataku.

"Apa sih? gak jelas!"

"Hehe. Coba dibaca deh. Penasaran gue," Ema menyodorkan sebuah kertas padaku yang masih terlipat. Ku ambil, lalu membuka isinya. Seketika mataku terbelalak. Apa apaan ini?!

"Ini, Pak Arsyad yang ngasih?" 

"I-iya. Emang isinya apaan? Ngajak Nikah?"

Tak ku jawab pertanyaannya dari Ema. Aku langsung bangkit dari tempat duduk, melangkah ke ruangan lelaki itu. Aku tidak terima, memangnya apa kesalahan kami sampai dia melakukan ini?

Kucoba ketuk pintu ruangan nya yang sudah terbuka.

"Masuk!"

Kulangkahkan kaki masuk kedalam. Lalu berhenti tepat di depan mejanya. Ternyata disini, sudah ada Ayumna. Seorang gadis yang berpenampilan sama sepertiku.

Pak Arsyad yang sedang  menatap laptop serius, mendongak padaku dengan sebelah alis terangkat. Detik berikutnya, senyum miringnya mulai terlihat.

"Duduk!"

Aku segera menarik kursi dekat Ayumna, lalu menduduki nya. CEO baru itu Menggeser laptop ke samping. Lalu dengan tidak sopan nya, ia mengangkat kedua kaki ke atas meja. Aku dan Yumna di buat melongo dengan kelakuan nya. Dasar tidak sopan!

"Kenapa? Mau ngasih saya sesuatu sebelum kamu angkat kaki dari perusahaan ini?"

"Bapak kok memecat kami? Memangnya kami berdua  melakukan kesalahan?"

"He! Wajah saya belum se-tua itu sampai di panggil Bapak!"

Sabar, sabar, Hilya. Sabaaarr

"Pak Maksudnya tuh---"

"Tidak sopan sekali! Saya ini atasan kamu!"

Menyebalkan!

Maunya apa sebenarnya? Perihal sebutan saja di permasalahkan. 

"Kamu sudah saya pecat, Hilya shanum. Masih kurang jelas?"

"Ya tapi salah kami apa, Pak?!"

"Yang pastinya, kamu sudah tahu sendiri apa kesalahannya. "

Aku terdiam. Sudah kuduga, pasti soal penampilan. Kulirik sekilas pada wanita di sebelahku yang menunduk, memainkan jemarinya. Kehela napas pelan. Lalu kembali menatap Pak Arsyad.

"Bukanya Pak Herman sudah mengijinkan kami berpakaian seperti ini?"

"Iya. Tapi itu dulu, sebelum saya menggantikan posisi beliau. Sekarang di sini, saya pemimpinya! Jadi kamu pun harus patuh terhadap peraturan baru yang akan saya buat. Paham?"

"Tidak bisa begitu dong, Pak! Apa kesalahan nya dengan penampilan kami yang seperti ini?! Kami disini tidak mengganggu siapapun!"

Lelaki berumur 23 tahun itu menurunkan ke-dua kakinya. Kemudian bangkit dari duduk. Kini, kedua tangannya bertumpu pada meja. Wajah, ia Dekatkan padaku. Sementara kedua Netranya menatapku dengan tajam. Membuat diri ini, cuit seketika.

"Denger, Hilya Deandra Shanum. Penampilan mu, akan mencemarkan nama baik perusahaan ini," ujarnya pelan dengan penuh penekanan.

"Tercemar?"

"Klien membatalkan kerja sama dengan perusahaan ini karna kalian bercadar! Kamu pasti tahu, Wanita berpenampilan sepertimu di cap seperti apa!"

Kupejamkan mata mencoba menahan emosi. Kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi.  Saat di mana aku di pecat karena memakai hijab lebar dan niqob. Aku di pecat karena aku di tuduh teroris. Sungguh, aku sama sekali tidak mengerti dengan pemikiran orang-orang seperti itu. Hanya dengan teroris teroris itu memakai cadar, lalu dengan seenaknya mereka menyimpulkan semua wanita yang memakai cadar itu teroris? Ck, miris sekali pemikiran mereka. Lalu bagaimana dengan seorang pengusaha berdasi yang melakukan tindakan korupsi, apa semua yang berdasi bisa di cap korupsi?

"Saya beri kamu pilihan. Ayumna sudah membuat keputusan nya. Lepas cadarmu itu, atau kamu di pecat dari perusahaan ini."

Deg

Aku mematung di tempat. Pilihan macam apa seperti itu? Aku tidak mungkin melepaskan selembar kain yang sudah kuperjuangkan sedari dulu. Dan, aku juga tidak mungkin keluar dari perusahaan ini. karena saat ini, aku sangat membutuhkan uang. Jika aku keluar, dari mana aku dapatkan uang untuk membayar pengobatan Ibu di rumah sakit?

Walaupun, cadar hanya Sunnah. Tapi, bukan berarti kami bisa melakukan sesuka hati.

"Pilihan ada ditanganmu, Hilya." 

Kutatap nanar lelaki itu yang kini sudah berbalik badan. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku. Kuhapus air mata yang hampir menetes. Bagaimana pun aku harus putuskan Sekarang juga. 

"Bagaimana? Sudah diputuskan?"

Aku menarik napas dalam-dalam, sebelum menghembuskannya dengan pelan. 

"Sa-saya ... Keluar dari perusahaan ini, Pak."

Bersambung


Cerpen Karangan: Nurul

Blog / Facebook: Nurul

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Selembar Kain Penutup Wajah

Terkini

Iklan