Iklan

Iklan

Berhenti Mengagumimu

8/25/21, 08:15 WIB Last Updated 2021-08-25T03:03:18Z

Berhenti Mengagumimu

Paginya, Ibu Zahara bersama kedua anaknya sudah sampai di rumah mereka. Bu Siti yang mengantar mereka pulang. Hari ini adalah hari penguburan Ayahnya Zahara. Tadi malam, tepat pukul 08.00 malam Pak Ahmad menghembuskan nafas terakhirnya. Penyakit itu sudah terlanjur menjalar di kepala Bapak, tak bisa dilakukan selain ikhlas. Para warga sudah banyak yang berdatangan, mereka mendengar kabar sejak malam tadi. Hari inilah pemakaman Bapak dilaksanakan. Kakak pertama Zahara yang bernama Rayna juga datang dihari itu, sudah jarang ia berkunjung setelah menikah empat tahun yang lalu.

"Kita harus sabar, Bu. Ikhlaskan kepergian Bapak." Rayna, Wanita dengan pakaian tertutup itu memeluk sayang Ibunya.


Ibu hanya bisa membalas pelukan Rayna tanpa mengucapkan sepatah kata. Dikondisi seperti ini, mulut itu seakan tak mampu berbicara. Zahara, gadis itu baru saja keluar dari kamarnya dengan mata yang terlihat bengkak. Jelas bengkak, sejak malam tadi tangisannya tak kunjung hilang. Ia menangis maratapi tubuh sang Ayah yang tak lagi bernyawa. May digandeng oleh suaminya. Tubuhnya kurang vit, sejak semalam ia juga tak bisa tidur.

Penguburan Bapak telah selesai, sebagian warga mulai meninggalkan tempat pemakaman. Tinggallah Ibu, bersama ketiga anak perempuannya dan dua menantunya. Cucu-cucunya pun ikut juga. Tangisan tak terdengar lagi, mereka paham mengapa tak boleh menangisi kepergian orang yang sudah meninggal.

"Kami pulang dulu, Pak." Ibu mengusap tanah yang masih merah dihadapannya. Menandai kuburan itu baru saja digali. Air mata itu tak mampu dibendungnya lagi.

Rayna dan May memapah Ibu tercintanya itu. Mereka harus saling menguatkan, karena pada dasarnya manusia itu adalah makhluk lemah. Ikhlas dengan segala takdir, percaya bahwa semua itu sudah menjadi ketetapan-Nya.

Ibu Zahara bersama anak, menantu, beserta cucunya sudah sampai di rumah tua itu. Letak tempat pemakaman dan rumah Zahara tidak terbilang jauh. Hanya membutuhkan waktu lebih kurang empat menit untuk sampai di lokasi pemakaman.

"Ayo, Bu. May antar ke kamar," ucap May menuntun Ibunya.

Zahara langsung masuk ke kamarnya, menumpahkan kembali segala kesedihannya di kamar kecilnya itu. Ia membungkam mulutnya, tak ingin suara tangisan itu terdengar oleh kakak-kakaknya, apalagi Ibunya. Ia meringkuk sembari memeluk bingkai foto yang tak terlalu besar. Diusapnya kaca bingkai itu, terpampang foto sang Bapak dengan pakaian rapi saat acara pengambilan foto di pernikahan Rayna.

Drrrt ... drrrt ...

Benda pipih bermerek Samsung itu bergetar. Handphone pemberian dari sang Ayah. Zahara menjangkaunya, lalu membuka aplikasi berwarna hijau itu. Lis mengirim satu pesan. Gadis itu baru saja tau tentang kabar Bapaknya Zahara setelah sampai disekolah. Guru memberitahu bahwa Zahara tak bersekolah karena Bapaknya meninggal dunia.

[Assalamualaikum, Zah. Zah, serius. Aku baru tau kalau Bapakmu meninggal. Kamu yang sabar ya, Zah] Pesan dari Lis ditaburi emoticon menangis diakhir kalimat.

Zahara tak membalas pesan dari Lis. Bahkan untuk mengetik saja, jari itu tak mampu karena lemah. Zahara masih teringat dengan pesan terakhir dari Bapaknya. Pesan dari Bapak tak sulit untuk dilakukan, hanya meminta agar anak perempuannya selalu menutup aurat dan tak bebas bergaul dengan pria lain. Tangis Zahara semakin menjadi, ia semakin membungkam mulutnya. Teringat kembali sosok Bapaknya yang tegas. Namun, dibalik sifat tegas itu ada kasih sayang yang terus tercurahkan untuk anak-anaknya.

Lelah menangis, Zahara merebahkan kepalanya di bantal Hello Kitty miliknya. Mengistirahatkan tubuhnya yang sejak semalam menangis dan tidak karuan tidur.

Malam hari tiba, sebagian keluarga dari Ibu dan Bapak Zahara datang ke rumahnya. Keluarganya tak sempat datang pagi, karena rumah mereka yang lumayan jauh. Mereka berkumpul di ruang tengah, Zahara ikut juga berkumpul. Sedang mengobrol, suara salam seseorang terdengar dari arah pintu luar.

"Assalamualaikum."

Ibnu, Abinya Yasmin yang beranjak untuk membukakan pintu. Ternyata, yang berkunjung itu adalah kakek yang kemarin siang tak sengaja menabrak Bapak. Ibnu membalas salam dan menyuruh kakek itu masuk. Namun, kakek itu tak nyaman dengan banyaknya keluarga Zahara. Kakek itu hanya ingin mengobrol berdua dengan Ibnu di teras rumah. Ibnu menuruti kemauan kakek itu.

"Saya bikinkan minum dulu, Pak," ucap Ibnu tersenyum ramah.

Kakek itu hanya tersenyum dan mengangguk. Pikirannya masih menerawang, hukuman apakah yang akan didapatnya dari keluarga Ibnu.

Ibnu sendiri yang membuat minuman, hanya teh hangat yang dibuatnya. Walaupun orang yang datang adalah orang yang tak sengaja menabrak Bapak mertuanya, tetapi sikap ikromu dhaif atau memuliakan tamu tetap dilakukannya. Dengan memuliakan tamu, itu juga salah satu tanda keimanan seseorang terhadap Allah dan hari akhir. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya” [HR al-Bukhâri dan Muslim]

Bapak. Adalah orang yang sangat menegaskan sikap ikromu dhaif kepada anak-anaknya. Tak perlu repot, dengan bertutur kata sopan pada tamu pun tidak apa-apa jika tidak ada jamuan untuk disuguhkan.

Setelah membuat minuman, Ibnu kembali ke teras untuk menyuguhkan pada kakek tadi.

"Ini, Pak. Silahkan diminum," ucap Ibnu.

"Iya, Nak. Terima kasih," balas si kakek.

Kakek itu mulai menyeruput teh hangat. Untuk beberapa saat, keheningan menyelimuti mereka. Hanya suara obrolan dari dalam rumah. Kakek merasa tak nyaman, apakah keluarga yang tak sengaja ditabraknya itu tidak akan memaafkannya?

"Nak, sebelumnya saya minta maaf. Tadi pagi ... saya tidak bisa datang ke pemakaman—"

"Tidak apa-apa, Pak. Tidak perlu minta maaf," potong Ibnu tersenyum ramah.

Kakek itu tersenyum. Jika berbicara dengan pria muda disampingnya ini, ia merasa tak disudutkan bahkan sebaliknya ia merasa tenang.

Bersambung

Cerpen Karangan: Rabiatul Al-Adawiyah

Blog / Facebook: Rabiatul Al-Adawiyah

 

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Berhenti Mengagumimu

Terkini

Iklan