Iklan

Iklan

Melawan Hati

8/25/21, 08:52 WIB Last Updated 2021-08-25T02:18:12Z

Melawan Hati

Kita adalah sepasang, yang sengaja disatukan, untuk saling meninggalkan pelajaran

Sepulang dari kantor, Mahesa langsung kembali kerumahnya. Baru saja melangkah masuk ia dilihatkan dengan pandangan tak biasa. Andara tertidur pulas di sofa depan tv yang seolah seukuran dengan tinggi badannya, dengan memegang remote ditangan.

Tv masih menyala, menayangkan film kartun Malaysia 'Upin-Ipin' pemandangan yang berhasil membuat Mahesa terkekeh geli sekaligus menggeleng pelan karenanya.

Sebentar, Mahesa mengedarkan pandangan keseluruhan halaman rumah, rapi.

Andara pasti lelah, membersihkan rumah sebesar ini sendirian. Mencuci piring, mengepel lantai, mencuci baju, membersihkan rumah, dan memasak untuknya.

"Huft ...." Mahesa menghela tertahan, segera meraih ponsel di sakunya lalu menghubungi seseorang.

Hampir beberapa menit, selesai berbincang ditelepon, ia melangkah perlahan mendekati Andara.


"Andara?" Ya, Mahesa membangunkannya. Bukan berniat menganggu, ia hanya ingin Andara tidur pulas ditempat semestinya, kamar.

"Hei ...." Tidak ada respon apapun, Mahesa menyentuh lengannya yang terlapis kaus panjang.

"Hm--" Andara melenguh sadar, menatap wajah tampan Mahesa begitu dekat dengannya.

Kening Mahesa mengernyit heran, mata Andara merah, tidak seperti biasanya. Wajahnya begitu pucat, dan suhu tubuhnya terasa panas saat Mahesa memberanikan diri menyentuh keningnya sebentar.

"Kamu sakit?"

Andara tidak menjawab, ia kembali menutup matanya memasang wajah datar tanpa irama.

"Kamu sakit, Andara. Ayo, kekamar."

Andara mengangguk pelan, rasanya benar-benar lemas. Dibantu Mahesa ia berdiri, belum lama ia akhirnya tersandung dipelukan Mahesa.

"Ma-maaf," ucap Andara samar.

"Tidak apa-apa, ayo."

Tidak ada pilihan lain, terpaksa Mahesa memopong tubuh ringannya menuju kamar. Menaiki anak tangga yang lumayan panjang, tiba dikamar segera ia baringkan Andara disana. Andara yang masih memejamkan matanya.

Matanya terbuka, begitu berat dan terasa panas.

"Sudah bangun, Non?"

Seruan asing yang belum pernah ia dengar ada, segera Andara memandang kepadanya.

"Alhamdulillah, Non Andara sudah bisa bangun."

Perempuan separuh baya, duduk dibibir ranjangnya. Tersenyum manis kepadanya sambil memijit pelan tangan Andara.

"Kamu siapa?"

Masih tersenyum ramah, ia menjawab "Nama Bibi, Nila. Pembantu baru dirumah ini, baru saja dipekerjakan Den Mahesa beberapa jam lalu, Non."

'Apa Mahesa yang membawanya?' batin Andara.

"Den Mahesa, sedang salat, Non."

Andara mengangguk mengerti, melihatnya ingin duduk segera Bi Nila membantunya.

"Non Andara, mau makan?" tanya Bi Nila.

Enggan menjawab, Andara hanya mengelus perutnya perlahan.

"Harus makan!"

Suara bariton seseorang menengahi keduanya, mereka memandang kepada Mahesa yang berposisi melangkah masuk kedalam kamar, membawa nampan berisi makanan dan segelas susu hangat ditangannya.

"Harus makan kalau mau cepat sehat," sambungnya lagi, mengambil tempat Bi Nila yang lebih dulu berdiri.

"Aku tidak lapar," ungkap Andara pelan.

Mahesa menghela nafas panjang, memandang wajah memelas istrinya "Meskipun tidak lapar, harus tetap makan. Saya ada urusan mendadak di kantor, kamu istirahat di rumah bersama Bi Nila, ya?"

Andara menggeleng pelan, tiba-tiba menggenggam pergelangan tangan Mahesa "Stay with me, Mahesa."

Deg!

Untuk pertama kalinya, debaran jantung itu terasa kencang. Wajah memelas Andara seolah merampas paksa ruang warasnya.

"Mm--Bibi, keluar. Assalamualaikum?" Merasa tidak enak, Bi Nila melangkah keluar kamar, meninggalkan Andara dan Mahesa yang masih berposisi sama.

"Waalaikumsalam," jawab Mahesa.

Sesaat, ia tersenyum manis kepada Andara. Mengambil piring yang sudah berisi nasi berserta lauk-pauknya, mengulurkan sesendok makanan kepadanya "I be there for you."

Entahlah, perasaan macam apa ini. Andara tersenyum lepas, membuka mulutnya menerima suapan pertama dari Mahesa.

Tidak salah, Andara memang manja ketika sakit. Mahesa jadi ingat, ucapan Ibu mertuanya beberapa jam lalu di telepon.

"Andara sakit, Bu."

Menempelkan ponsel ditelinganya, Mahesa memandang jauh keluar jendela kamar dari atas balkon kamarnya.

[Bagaimana bisa sakit, Mahesa?] tanya cemas Azizah diseberang sana.

"Mahesa yang salah, memintanya membersihkan rumah sendirian."

[Tidak apa-apa, itu memang kewajibannya. Ibu yang minta maaf, karena kamu menikahi putri Ibu yang tidak terlalu bisa mengurus rumah.]

"Itu tidak menjadi tolak ukur dari pernikahan, Bu. Tapi Ibu tenang saja, kata dokter ia hanya sedikit kelelahan."

[Andara manja jika sedang sakit. Kamu akan kesulitan menjaganya, menghadapi sifat kekanak-kanakannya. Ibu titip, ya?]

"Insya Allah, Mahesa akan menjaganya, Bu. Yasudah, Mahesa tutup teleponnya, Bu. Assalamualaikum?"

[Waalaikumsalam.]

"Kenapa tersenyum begitu?" tanya Andara bingung, melihat ekspresi aneh Mahesa.

Mahesa menggeleng pelan "Bukan apa-apa, saya minta maaf, Andara."

"Untuk apa?"

"Karena saya, kamu jadi sakit begini."

"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit kelelahan."

Mahesa manggut-manggut, sembari bicara lagi "Kamu mau salat? Saya akan meminta Bi Nila membantumu."

"Hah? Mm---"

Terdiam, Andara tidak tahu harus menjawab apa. Akhir-akhir ini bahkan bisa dihitung jari berapa kali ia menjalankan salat.

Melihat raut anehnya, Mahesa mengerti. Dunia gaul diluar sana pasti sudah mencuci sedikit pikiran Andara, saat ia memutuskan melanjutkan pendidikannya di luar.

"Tidak apa-apa, setelah makan kamu istirahat, ya?"

Andara mengangguk pelan, menatap seri indah wajah putih milik Mahesa. Mahesa yang  ikut memandang kepadanya, sambil menyunggingkan senyum kecil.

Bersambung

Cerpen Karangan: Rinaa

Blog / Facebook: Rinaa

 

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Melawan Hati

Terkini

Iklan