Iklan

Iklan

Ketulusan

8/02/21, 18:26 WIB Last Updated 2021-08-02T12:35:18Z

 Jika hujan masih datang lagi setelah dibenci, jika daun-daun yang berguguran tak pernah menyalahkan angin, jika bulan tetap bersinar sendiri di tengah banyak bintang, maka tiada alasan untuk saya menyesali kehadirannya. menyadari ini semua adalah takdir?


Namaku, Rahma Hamidah. Panggil saja, Rahma. Usiaku 23 tahun, dan aku adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Kedua kakakku lelaki, dan kakak pertamaku perempuan.

Kami dibesarkan oleh kedua orangtua dengan penuh cinta dan kasih sayang. ketiga kakakku sudah menikah. Dan besok, adalah hari pernikahanku.

Malam ini, dirumahku ramai. Beberapa saudara menginap dan yang lainnya membantu persiapan akadku besok pagi.

Membuat beberapa macam kue khas pernikahan, mengolah sayuran untuk dimasak di pagi hari besok, menata pelaminan, dan lain-lainnya.

Bukan hal yang mudah untuk keluargaku, menikahkanku dengan seorang lelaki yang terkenal kasar dan mudah marah. Tapi tidak untukku, hatiku begitu yakin bahwa suatu hari calon suamiku bisa berubah kembali.

Aku telah mengenalnya semasa di pesantren. Namanya, Toya. Lengkapnya adalah, Muhammad Nainunis Himatoya.

tepat di belakang pesantren. Ibunya membuka jasa cuci baju. Jadi sering kali para santri mengunjungi rumahnya untuk me-Laundry pakaian.

Tidak jarang para santri melihat dan marahnya. Entah apa penyebab Toya sering marah dan kasar, tetapi sebelumnya terkenal sangat baik, sopan dan ramah.

Dua bulan lalu, aku dikagetkan oleh kedatangan Toya dan Bpk Hj. Mihad (Ustadz sekaligus pemilik masjid Al-Muttaqin), di dekat Pondok tempatku mengaji. Beliau juga berteman cukup dekat dengan Ayahku.

"Kedatangan kami kemari, ingin menyampaikan niat baik nak, Toya. Untuk meminta putri bungsu bapak, Rahma." Ucap ustadz Mihad pada Ayahku.

"Alhamdulillah, baik, sebelumnya apa nak, Toya sudah mengenal Rahma?" Tanya Ayah pada Toya.

"Kebetulan rumah saya sangat dekat dari pesantren yang di tempati Rahma 5 tahun lalu, jadi beberapa kali saya melihat putri bapak mendatangi rumah saya untuk me-Laundry pakaian. Kala itu saya sudah jatuh cinta dengan Rahma, dan mempersiapkan diri untuk mengkhitbahnya. Kebetulan saya kenal dekat dengan Hj. Mihad, lalu minta tolong di antarkan kesini untuk menyampaikan niat baik saya." Jawab jelas Toya.

"Benar begitu, Pak. Apa bapak sudah mengenal nak, Toya sebelumnya?" Tanya ustadz Mihad.

"Alhamdulillah, saya sempat beberapa kali mendengar nama nak, Toya. Juga beberapa kali sempat bertemu ya, Nak?!" Sahut Ayah.

"Benar pak ustadz, kami beberapa kali pernah bertemu." Ucap Toya pada ustadz Mihad.

"Baiklah, jadi apa mengizinkan bapak saya untuk melamar putri bapak?" Sambung Toya bertanya kepada Ayah.

"Sebentar, saya sampaikan dahulu permintaan nak, Toya pada putri saya, ya!"

"Baik pak. Silahkan," ucap Toya.

Kemudian Ayah mendekatiku di kamar dan menyampaikan permintaan Toya untuk melamarku, sungguh membuatku kaget. Ayah juga menceritakan pengetahuannya tentang Toya. Bagaimana baik dan buruknya di ceritakan oleh Ayah pada saat itu.

"Kurang lebihnya, seperti itu yang Ayah tau tentang lelaki itu. Apa kamu mau dan siap menikah dengannya?" Tanya Ayah.

"Maaf Ayah, apa boleh Rahma gagasan ini dalam waktu beberapa hari?"

"Sangat boleh, Nak.Fikirkan saja terlebih dahulu., kamu dan pasanganmu yang akan menjalani kehidupan baru. Ayah hanya bisa menyampaikan pendapat, selebihnya ada di tanganmu."

"Kalau begitu, tolong sampaikan pada lelaki itu, aku akan memikirkannya dan menjawab permintaannya minggu depan." Jelasku.

"Yasudah, kamu fikirkan saja dulu. Akan Ayah minta dia datang kembali di minggu depan." Ucap ayah sembari mengawasi dan mendatangi menemui Toya dan Ustadz Mihad.

Ayahpun menawarkan permintaanku, lalu Toya menyetujuinya dan akan kembali kesini satu minggu lagi.

Setelah kepulangan Toya, Ayah menceritakan dengan jelas tentang pendapatnya tentang Toya.

Pagi itu sekitar jam 09:00, Ayah menghampiriku yang tengah menjemur cucian di rooftop rumah.

"Gadis manis, kalau sudah selesai, temui Ayah di ruang tamu, Ya!" Ucap Ayah.

"Iya, Yah...."

Matahari mulai menyilaukan pandangan, rasa panaspun mulai terasa, kutinggalkan pakaian yang tersusun rapi di atas jemuran besi, lalu kuhampiri Ayah dan Mama di ruang tamu.

"Udah selesai Nak? Terima kasih!" Ucap Mama padaku.

Aku tersenyum lalu duduk di sofa bersama mereka.

Kemudian Ayah menceritakan dengan jelas, apa saja yang ia tau tentang Toya. Ternyata Ayah dan Mama mengetahui tentang Toya yang sangat mudah marah dan kasar, bahkan di depan orang-orang sekalipun.

Ternyata, Toya adalah anak yang sangat menjaga sikap di depan banyak orang, ramah juga sopan. Penyebabnya menjadi seperti sekarang adalah saat Toya menikah dengan adik laki-lakinya.

Saat itu, pada usianya yang ke 24, 7 tahun setelah lulus dari pesantren, ia akan menikahi seorang wanita yang banyak diinginkan oleh lelaki lain.

Satu tahun sebelum ia akan melamar wanita itu, adiknya yang bernama Azzam mendahulukan pernikahannya tanpa meminta izin pada Toya.

Tidak ingin didahulukan dan merasa tidak di hargai, Toya menjadi kesal. Akan tetapi tidak ada perhatian dari orangtua, karena orangtuanya menganggap bahwa ini adalah hal sepele.

Tidak lama dari pernikahan kakaknya, wanita yang dicintai pun meninggalkannya menikah dengan lelaki lain.

Hingga terus-menerus menjadi lelaki kasar juga pemarah. Bahkan ia tidak bisa menahan marahnya saat di depan banyak orang. Sehingga tidak sedikit orang yang mengetahui perilakunya yang kasar.

Ayah dan Mama memintaku untuk benar-benar penjelasan jawaban untuk permintaan Toya. Mereka sangat khawatir jika Toya melakukan kekasaran dan sering memarahiku. Merekapun akan merilisnya dengan ketiga kakakku.

Beberapa hari setelahnya, aku masih belum menemukan keyakinan untuk menerimanya atau tidak. Aku masih memperhitungkan konsekuensi dan resikonya.

Ketiga kakakku tidak menyetujui permintaan Toya untuk mengkhitbahku. Mereka khawatir dan banyak memberiku nasihat juga menyarankan lelaki lain.

Tetapi orangtuaku memberikan keputusannya.

Malam harinya sebelum Toya akan datang kembali, aku melaksanakan tahajjud guna hatiku juga memasrahkan diriku.

Disambungkan dengan istikhoroh, meminta petunjuk dari atas kebimbangan yang ku hadapi. Dan sepertinya hatiku menjadi yakin untuk menerima Toya.

Aku orangtua dan kakakku untuk tidak mengkhawatirkanku bersama Toya. Aku hanya meminta do'a yang lebih dari mereka untuk hubunganku dan Toya nanti.

Saya menerima permintaan Toyota.

Sifat pemarahnya di depan banyak orang. Dia seperti itu karena batal menikah. Aku tak ingin hal yang lebih parah terjadi jika aku menolaknya. Menurut beberapa orang, mungkin itu adalah sebab yang sepele. Tapi sifat dan perasaan seseorang itu berbeda. Bisa jadi hal sepele bagi orang-orang dan sangat menyakitkan baginya.

ia seorang santri, hanya mungkin ia sulit mengendalikan dirinya dan mudah khilaf. Dia bilang bahwa dia mencintaiku. Saat itu aku yakin sekali bahwa ia bisa berubah seiring berjalannya waktu.


Siang itu, di bawah terik matahari yang panas, Toya datang seorang diri. Menanyakan kembali soal permintaannya minggu lalu. Pada siang itu juga aku dan orangtuaku memutuskan menerima permintaannya untuk melamarku.

Setelah berkomunikasi dengan kedua orangtuaku, mereka memutuskan menggelar acara lamarannya pada bulan depan.

Selama menunggu, saya banyak meminta nasihat dari kedua orangtuaku. Pelajaran tentang seorang istri, satu kesatuan ku tanam dalam diriku.

Mama pun sangat banyak menganjurkanku untuk berumah tangga.

Hingga tiba saatnya keluarga Toya mendatangi rumahku untuk mengkhitbahku. Beberapa seserahan berupa perhiasan, kebutuhan rumah tangga, juga beberapa pangan dan lain-lain serta dibawanya saat itu.

Aku tidak menetapkan mahar, aku hanya menerima lamarannya dengan satu syarat. Yaitu, aku tidak ingin menjadi salah-satu istri. Yang berarti aku menolak untuk Toya menikahi perempuan lain selain aku.

Bukan mengharamkan poligami, hanya saja aku tak ingin suamiku nanti berbagi cinta dengan wanita lain. Aku khawatir jika hatiku tidak bisa ikhlas.

Boleh para suami memiliki empat istri, tetapi tidak dengan suamiku.

Setelah cukup lama, akhirnya Toya menyetujui syarat yang saya berikan dan kami antar keluarga hari dan tanggal pernikahanku dan Toya.

Kami menetapkan pernikahan, satu bulan setelah lamaran. Tepat di hari Milad Toya yang ke 29 tahun.

Acara lamaran selesai, di tutup dengan makan siang bersama antar keluarga dan bercengkrama guna mengenal satu sama lain.

Selama sebulan ini, aku dan Toya beberapa kali berhubungan lewat media sosial untuk membicarakan persiapan-persiapan pernikahan kami.

Hingga malam ini, orang-orang yang ada di rumahku sibuk dengan pekerjaannya masing-masing untuk akad besok pagi. Aku pun sibuk menata kamarku.

Tempat tidur, Lemari, Meja rias dan beberapa barang yang masih baru tersusun rapi dalam kamarku.

Cat kamar berwarna putih, dilengkapi gorden berwarna abu tua, juga warna coklat dan hitam di beberapa barang lain menghadirkan nuansa klasik pada kamarku.

Setelah rapi, aku bangun dan jangan lupa bangun di sepertiga malam untuk meminta bantuan, pada acaraku, dan Toya.


Pagi hari tiba, dekorasi rumah sudah terlihat cantik, disertai penyekat antara tamu laki-laki dan tamu wanita. Jamuan-jamuan untuk para tamu sudah siap tersedia dengan lengkap juga rapi.

Beberapa ibu-ibu yang di tugaskan untuk memasak sudah siap di dapur. Pelayan di prasmanan sudah mulai menyusun menu makanannya.

MakeUp natural dengan sempurna menutupi kulit, diiringi gaun putih juga mahkota di membuat penampilanku pagi ini terlihat sangat indah.

Lalu tibalah keluarga Toya dan para perjalanan rombongan menuju rumahku. Bercengkrama beberapa saat lalu pergi ke Masjid untuk memulai akad pernikahan kami.

Di saksikan para santri dan masyarakat, Toya berjabat tangan dengan Ayahku, kemudian ayah mengucap,

"Bismillaahirrohmaanirrohiim, Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka binti Rahma Hamidah alal mahri dzahaba 'asyrina goroman hallan."

Dengan tenang Toya mengucap,

"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bilmahri madzkuri hallan."

Kedua saksi mengesahkan pernikahan kami, lalu bersama membaca do'a dengan masyarakat dan santri, kemudian membacakan marhaba bulan maulid setelahnya.

Perasaan suka dan haru bercampur pada keluarga kami, terutama para orangtua kami.

Kini aku, lagi menjadi tanggung jawab orangtuaku. Aku telah menjadi seorang istri lelaki bernama Muhammad Nainunis Himatoya.

Di antar oleh Ayah, Toya mendatangi kamarku,

"Assalamu'alaikum, Rahma...." Salamnya.

"Wa-wa'alaikumsalam...." Sahutku berpikir.

Jantungku berdebar cepat saat Toya mendekatiku. Aku menghela nafas lalu kami saling memandang. Beberapa detik kami saling membocorkan, entah apa yang harus kulakukan, aku hanya bisa tersenyum tak kuat menahan malu.

"Cium tangan suami mu, Rahma!" Pinta Ayah.

Aku gemetar karena baru pertama kali akan memegang tangan, yaitu suamiku.

Beberapa kali aku menjatuhkan tangan saat ingin memegang tangan Toya. Serasa mimpi bahwa aku akan memegang tangan lelaki asing.

Orangtua kami hanya tertawa menyaksikan keluguanku dan Toya.

"Sudah sah, Nak...." Ucap wanita di dekat pintu. Yaitu Ibundanya Toya.

"Ayo! Jangan malu. Sudah sah kok.

Toya mencium tangannya, kemudian aku memegang dan menciumnya.

Meletakan pegangan di atas tangan kanannya, dan tangan kirinya memegang ubun-ubun yang direfleksikan, Toya mendo'akanku lalu mengecup ubun-ubunku dan memasangkan perhiasan berupa emas yang menjadi mahar pernikahan kami.

Belum kutemukan marahnya selama sebulan kami kontek. Tetapi hari ini, kurasa aku merasakan getaran cinta yang halal.

Bersambung....

Cerbung Karangan: Qotrunnadaa

Blog / Facebook: Qotrunnadaa

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Ketulusan

Terkini

Iklan