Iklan

Iklan

Berhenti Mengagumimu

8/25/21, 08:32 WIB Last Updated 2021-08-25T02:17:51Z

 

Berhenti Mengagumimu

Sepulang sekolah, Zahara langsung masuk ke kamarnya. Untung saja, Ibu dan Bapaknya sedang keluar rumah. Setelah baju terganti, gadis itu langsung bersiap-siap untuk melaksanakan sholat ashar. Sholat sudah dilaksanakannya, mulut itu beristighfar berkali-kali. Do'a mulai dilantunkannya. Air mata terus mengalir, tubuh itu berguncang karena tangisan yang ditahannya agar tak bersuara. Berulang kali ia memohon pada sang Rabb agar mengampuni segala kekhilafannya. Sedang berdo'a, suara ramai terdengar dari luar rumah.

"Astagfirullah, Bapak!" pekik seseorang. Suara yang sangat dikenali Zahara, yaitu kakaknya, May.

Zahara segera bangkit, mukenah masih dipakainya. Setelah melipat sajadah, ia segera keluar kamar. Sedikit berlari, akhirnya Zahara sampai di ambang pintu luar. Zahara terpaku bagaikan patung. Ia menatap tak percaya siapa yang ada dihadapannya. Bapak. Wajah itu masih dikenalinya walaupun sebagian dipenuhi cairan merah pekat.

"Bu, saya benar-benar minta maaf. Benar-benar minta maaf. Ayo, Bu, kita bawa suami Ibu ke rumah sakit," ucap seorang kakek yang rambutnya mulai berubah warna.

Ibu masih hanyut dalam kesedihannya, ia meratapi tubuh sang suami dengan berderai air mata. May langsung merangkul Ibunya.

"Bu, kita harus bawa Bapak ke rumah sakit. Kakek ini yang akan mengantarkannya," ucap May.

Sebagian tetangga yang membopong Bapak ke rumah juga langsung menyarankan agar di bawa ke rumah sakit. Jika tidak, akan memperparah keadaan Bapak. Ibu mengangguk, ia menemani Bapak di jok tengah. Setelah mobil meninggalkan halaman, May mulai bertanya kepada salah satu tetangga yang melihat kecelakaan itu. Ya, Bapak korban kecelakaan.

Namun, May ingat dengan adiknya yang tak berkata-kata di ambang pintu. Ia segera memeluk adik bungsunya itu, mata Zahara sudah terlihat sembab. Kedua gadis bersaudara itu hanya bisa menangis dalam diam.

Malam harinya, May dan Zahara bergegas ke rumah sakit yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya. Ia diantar oleh tetangga yang memiliki mobil. Sekitar dua jam dalam perjalanan, akhirnya kedua bersaudara itu sampai di depan bangunan bertingkat. Tetangganya yang bernama Bu Siti tak langsung pulang, wanita ramah itu juga mau menjenguk Pak Ahmad, Bapaknya Zahara.

Setelah May bertanya pada resepsionis, mereka langsung menuju ruangan pasien.

"Assalamualaikum, Bu." May langsung berhambur kepelukan Ibunya, menguatkan wanita yang terlihat rapuh itu.

"Bu," ucap Zahara. Gadis itu juga memeluk Ibunya. Air matanya luruh kembali.

Bu Siti ikut merasakan kesedihan, ia juga memeluk wanita seumurannya itu.

Suara tangis Zahara mulai terdengar, matanya terlihat sembab dan merah. Hidungnya pun sampai mengeluarkan cairan kental berwarna putih. Gadis manja itu berdiri di samping brankar sang Bapak dan memeluk lengan Bapaknya. May dan Ibunya duduk di kursi panjang yang berada di ruangan itu. Sementara Bu Siti, ia pamit sebentar untuk pulang kerumahnya.

Sesaat, ruangan putih itu menjadi hening. Tangisan mulai tak terdengar. Namun isakan Zahara tak kunjung mereda. Gadis itu memang cengeng, apalagi melihat orang yang sangat disayanginya terbaring lemah dengan tubuh mengalami luka yang cukup serius. Kepala Bapak terkena benturan, tangan kirinya mengalami cedera serius, dan masih banyak luka kecil maupun luka besar yang terdapat pada tubuhnya.

Tak disangka, Bapak membuka matanya. Tangan itu bergerak pelan. Tak lama, tubuhnya kejang. Zahara berteriak pada Ibunya, Ibunya pun panik. Akhirnya, May memanggil dokter. Tak menunggu waktu lama, wanita yang disebut dokter itu datang dengan stetoskop yang menggantung di lehernya. Ibu dan May mendekat ke arah brankar Bapak. Wanita bername tag dr. Alisa Rahmania itu mulai memeriksa Bapak.

Setelah memeriksa Bapak, dokter Alisa menyuruh suster memberi obat pada Bapak.

"Mari ikut saya, Bu," ujar dokter Alisa.

Ibu tak langsung menjawab, ia beralih menatap May. May mengangguk dengan senyum tipisnya.

Ibu dan dokter Alisa pun meninggalkan ruangan Bapak. Letak ruangan dokter Alisa tak terlalu jauh, mungkin hanya melewati enam ruangan pasien.

"Mari masuk, Bu," ucap dokter Alisa setelah membuka pintu ruangannya.

"Terima kasih, Bu dokter," sahut Ibu.

Ibu dipersilahkan dokter Alisa untuk duduk di kursi yang berhadapan dengan dokter Alisa. Setelah duduk, dokter mulai menyampaikan hasil diagnosa.

"Jadi begini, Bu. Menurut hasil diagnosa, Bapak Ahmad mengalami benturan keras pada kepalanya. Hal itu berakibat cederanya jaringan otak. Untuk—"

"Permisi, dokter." Potong seseorang yang mengetok pintu ruangan.

Ibu dan dokter Alisa langsung menoleh ke arah pintu.

"Silahkan masuk," sahut dokter Alisa tanpa beranjak dari kursinya.

Seorang perawat berseragam putih masuk dengan tergesa. Lalu ia mulai menyampaikan sesuatu.

"Dokter, pasien bernama Pak Ahmad kembali mengalami kejang," ucap perawat itu.

Ibu langsung beranjak, ia tahu bahwa suaminya yang dimaksud. Dokter dan perawat pun langsung menuju ruangan Pak Ahmad bersama Ibunya Zahara.

Sesampainya di ruangan, Ibu melihat Zahara dalam pelukan kakaknya. Gadis itu menoleh, dengan cepat ia memeluk tubuh Ibunya.

Dokter Alisa mulai memeriksa keadaan Bapak. Kejang itu mulai mereda seiring kedua mata yang mulai tertutup. Dokter dan satu perawat itu saling pandang saat tubuh Pak Ahmad tak lagi bergerak atau pun kejang. Ibu dan kedua anak perempuannya itu hanyut dalam pikirannya masing-masing.

"Bu dokter, apa yang terjadi?" Ibu membuka suara, matanya mulai berembun.

Zahara semakin mengencangkan pelukannya. Ia tak kuasa jika harus mendengar kabar yang tak pernah terpikir olehnya.

"Maaf, Bu. Kami sudah berusaha untuk menolong, tapi sang kuasa telah berkehendak. Suami Ibu tidak bisa kami selamatkan," ucap dokter.

Ibu terdiam, sedangkan tangis Zahara sudah terdengar menyayat hati. Begitu pun dengan May, tak bisa ia pendam air matanya yang sedari tadi menggenang. Ibu tak berkata-kata, ia melepas pelukan Zahara. Ia menghampiri brankar tempat sang suami terbaring tanpa nyawa.

Bersambung~

Cerpen Karangan: Rabiatul Al-Adawiyah

Blog / Facebook: Rabiatul Al-Adawiyah

 

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Berhenti Mengagumimu

Terkini

Iklan