Iklan

Iklan

Aku Ingin Menikah Dengan Lelaki Sholeh

8/02/21, 18:58 WIB Last Updated 2021-08-02T12:35:18Z

 Andaikan Umi tahu, dialah laki-laki yang kucintai. (Farida Faqihah Alimah)

Tok tok!

"Assalammualaikum?" Sapa Mas Rofiq dengan lembut. Mendengar tidak ada jawaban, sekali lagi ia mengetuk pintu.

"Umi, ini Rofiq."

"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," terdengar suara seseorang dari balik pintu. 

Ceklek!

Pintu terbuka lebar, menghadirkan Mas Rofiq yang sedang berdiri disana. Dengan berpakaian rapi dan wangi, Mas Rofiq mencium punggung tangan Umi.

"Bagaimana keadaan Umi? Sehat?" Tanyanya sopan, seraya tersenyum manis.

"Alhamdulillah, Umi sehat. Jadikan kita ke pondoknya, Farida? Umi kangen," Umi menatap Mas Rofiq, dengan mata yang berbinar-binar.

Mas Rofiq tersenyum. "Jadi Umi."

"Umi suruh masuk, tidak enak ngobrol diluar." Suara Abinya Farida hadir, aku mengangguk mengiyakan lalu duduk dikursi.

Mobil mewah berwarna hitam, terparkir di halaman pondok pesantren. Hati Mas Rofiq berdebar-debar, karena ia akan bertemu dengan Farida, pujaan hatinya. 

'Alhamdulillah, akhirnya rasa rinduku akan segera terobati.'

Mas Rofiq turun terlebih dahulu, lalu berjalan menuju pintu mobil membukakannya untuk calon mertuanya itu.

"Silahkan Abi, Umi."

"Terimakasih, Nak."

Kami bertiga berjalan menuju Ndalem, bertemu dengan Pak Kiyai dan Ummi Syaidah. Tak lupa salam mereka ucapkan, lalu berjabat tangan.

"Maaf Pak Kiyai, menganggu. Kedatangan kami ingin menengok putri kami, Farida." Ujar Umi dengan sopan.

"Silahkan Bu, Mbak Farida nya sedang di kobong." Kami bertiga berjalan menuju kobong, Umi juga terlihat tidak sabar, ingin bertemu dengan putrinya.

Deg!

Di tengah jalan, mata kami membulat sempurna, tatkala melihat Farida sedang berduaan dengan seorang laki-laki.

"Farida?" Teriak Umi, seketika perhatian mereka berdua mengarah kepada Umi. Farida terperanjat kaget, melihat Uminya yang datang tiba-tiba. 

"Umi?" Farida berdiri dari duduknya, berlari kecil menghampiri sang Umi.

"Assalammualaikum, Umi?" Setelah mencium tangannya, Farida memeluk tubuh wanita paruh baya, yang berada di hadapannya.

Umi melepaskan pelukan itu, menatap tajam para putrinya. "Perempuan seperti apa kamu?"

Deg!

"Apa maksud, Umi?" Tanyanya sambil keheranan.

"Umi mengirimkanmu ke pondok pesantren, karena Umi ingin melihat putrinya, tumbuh menjadi wanita yang Sholehah. Bukan seperti ini! Kenapa kamu malah berdua-duaan, dengan laki-laki yang bukan mahram kamu? Bukankah Umi sudah mengajarkan padamu, bahwa itu dosa! Mengapa kamu lakukan itu?" Umi tidak bisa menahan amarahnya, nada bicaranya mulai meninggi.

Hati Farida sesak, mendengar perkataan Uminya, ia menunduk tidak bisa berkata-kata lagi. 

"Umi salah faham, sebenarnya Farida sedang setor hafalan dan ditemani oleh Pak Ustadz." 

Ungkapnya jujur.

"Jika setor hafalan, tidak mungkin berdua-duaan seperti ini! Apakah kamu tidak kasihan, kepada Nak Rofiq?" Perhatianku teralihkan oleh laki-laki berpakaian rapi itu, yang sedari tadi hanya terdiam.

"Tapi--" belum sempat aku menjawab, Umi memotongnya cepat.

"Nak, ingat! Nak Rofiq, adalah calon imam kamu dan kamu harus menghormati dia. 

Umi tidak peduli, apakah kamu mencintainya atau tidak, yang pasti dia akan tetap menjadi calon imam kamu!" Geram Umi, wajahnya merah padam menahan amarah.

Deg!

Bak di terjang ombak, impianku hancur tatkala mendengar kata-kata itu. Apakah itu artinya, aku tidak bisa bersama dengan Pak Ustadz?

Ustadz Faraz, yang sedari tadi hanya mematung, kini berjalan menghampiri Umi.

"Assalammualaikum?" Sapanya dengan sopan.

"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." 

"Umi, ma'afkan saya. Sebenarnya, saya tidak bermaksud, untuk berduaan dengan putri Umi. 

Hubungan kami hanya sebatas guru dan muridnya, tidak lebih."

Deg!

'Pak Ustadz?' 

Hatiku perih, mendengar kata-kata terakhir dari Pak Ustadz. 'Memang benar, hubunganku dengan Pak Ustadz, hanya sebatas guru dan murid. Namun, mengapa hatiku perih?' batin Farida lirih.

"Saya ma'afkan kamu. Tapi, saya mohon sekali lagi, jangan dekati putri saya! Karena dia sudah mempunyai calon imam, semoga Pak Ustadz mengerti." Kini nada bicara Umi, sudah mulai merendah.

Ustadz Faraz menghela nafas lega, ia sedikit melirik padaku lalu tersenyum manis kepada Umi. "Syukron, Umi. Saya permisi, assalammualaikum?"

"Waalaikumussalam."

***

Jam menunjukan pukul 02.30, Ustadz Faraz bangun dari tidurnya. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, bermaksud untuk melaksanakan Sholat Tahajud. 

Melangkah menuju Masjid, segera ia mengambil wudhu lalu Sholat.

"Allahuakbar." Ustadz Faraz bertakbir, hingga mengakhiri Sholatnya dengan salam.

Mata hitam pekat itu, menatap sendu langit-langit Masjid. Tangannya masih sibuk dengan tasbihnya, tak terasa air matanya menetes.

'Saya ma'afkan kamu. Tapi, saya mohon sekali lagi, jangan dekati putri saya! Karena dia sudah mempunyai calon imam, semoga Pak Ustadz mengerti.'

Tik!

Ucapan Umi Farida terngiang-ngiang di kepalanya, masih teringat jelas kemarahan wanita paruh baya itu.

'Ya Allah ... Apakah ini artinya, hamba tidak berjodoh dengannya? Apakah ini petunjuk darimu, agar aku melupakan Mbak Farida?' batin Ustadz Faraz, seraya menghapus habis air matanya.

"Jika ini yang terbaik, akan hamba usahakan ya Allah. Bismillah ..." Ustadz Faraz mengambil Al-Qur'an, lalu mulai membacanya.

 "Audzubillah hiiminasyaiton niiradzim ... Bismillahirrahmanirrahim ...

Alif lam mim ..."

Deg!

Kebetulan Farida dan Mbak Hannah, juga sedang melaksanakan Sholat Tahajud. Mendengar suara mengaji seorang laki-laki, hati Farida berdebar. Ia tahu betul, pemilik suara merdu itu.

'Suara itu, seperti suara Pak Ustadz.'

"Mbak Hannah, kita pulang yuk!" Ajakku kepada Mbak Hannah, yang masih asyik dengan kegiatan dzikir nya.

"Ayo, Mbak."

Kening Mbak Hannah mengernyit, melihat wajah murungku. "Mbak Farida, dari tadi ana perhatikan wajah Mbak murung. Ada masalah apa Mbak? Coba ceritakan, siapa tahu ana bisa bantu," ucap Mbak Hannah dengan lembut.

Farida menggeleng, seraya tersenyum manis.

"Tidak ada apa-apa, Mbak."

Farida menatap lekat punggung Ustadz tampan itu, yang sedang mengaji. Tersenyum tipis, Farida mengusap air matanya yang menetes.

'Pak Ustadz, ma'afkan ana.'

"Mbak?" Panggil Mbak Hannah, seketika lamunanku buyar. 

"I-iya, Mbak?" Jawabnya sambil gelagapan.

"Ayo kita kembali ke asrama," Mbak Hannah menggandeng tanganku.

Ustadz Faraz yang mendengar suara seseorang, segera ia menoleh.

Deg!

Sosok wanita berjilbab hitam itu, berjalan pergi.

Ustadz Faraz menghela nafas panjang.

'Mbak Farida?'

Bersambung

Cerpen Karangan: Laily Rokib

Blog / Facebook: Laily Rokib

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Aku Ingin Menikah Dengan Lelaki Sholeh

Terkini

Iklan