Iklan

Iklan

Seratus Hari Mengejar Cinta Trinia

7/17/21, 17:23 WIB Last Updated 2021-07-18T01:26:58Z

 Seratus Hari Mengejar Cinta Trinia


POV Pak Drajat

Diam saat menyaksikan dua orang putra berjuang memperebutkan satu hati wanita pujaannya dari tempat yang berbeda, bukan berarti tak acuh tanpa bisa merasakan. Sejujurnya aku lebih tahu kondisi hati kedua putraku. Tetapi, mereka sudah sepakat, aku bisa apa? Meminta Indra mengalah pada sang kakak? Sangat tidak adil, pun sebaliknya. Mereka mempunyai hak dan porsi yang sama dalam memperjuangkan cinta lamanya.

"Apakah tidak ada perempuan lain selain gadis ayu itu yang lebih menarik hatimu, Le?" tanyaku pada si Sulung.



"Bapak tahu persis bagaimana rasaku terhadap Nia. Andai kecelakaan itu tidak pernah terjadi, mungkin saat ini anak-anakku telah lahir dari rahimnya, Pak."

"Seandainya berterus terang padanya tentang kisah kami tak membahayakan Nia, aku pasti sudah mengatakan itu dari dulu. Namun, aku ingat pesan bapaknya agar aku tak pernah mengungkit kisah itu."

"Kamu tahu persis jika adikmu juga memiliki rasa yang sama jauh sebelum kamu bertemu Nia."

"Aku tahu itu, tetapi aku tanya sama Bapak, apa usaha Indra untuk mendapatkan Nia? Tidak ada!"

"Itu karena jarak menjadi kendala, Le."

"Jika Bapak Ibu tidak melarang, aku pasti sudah berjuang dari dulu untuk memenangkan hatinya, bukan saat ini saja, Pak."

"Kamu tak bisa menyalahkan adikmu. Dia hanya bingung karena pekerjaan. Dia tak bisa menjamin akan bisa pindah jika ia menikah."

"Itu kelemahannya. Dia tak berani mengambil risiko," rutuk Adit.

"Indra bukan kamu, Dit. Kamu tahu itu."

"Iya, dia tidak punya cukup keberanian untuk berjuang."

Ya, aku paham kedua putraku. Mereka tidak sama, tetapi saling menyayangi. Baik fisik maupun mental Adit jauh lebih kuat dibandingkan dengan adiknya. Itulah sebabnya aku dan Nunik--istriku--lebih tegar dan legowo (ikhlas) saat ia mengemukakan keinginannya menjadi prajurit.

Walau mulut mengatakan ikhlas, Nunik tetaplah seorang ibu seperti kebanyakan, khawatir dan takut ditinggal pergi jauh Adit pastilah begitu besar mengingat Adit adalah putra kesayangannya. Aditlah yang memberikannya gelar seorang ibu untuk kali pertama. Istriku yang paling mendukung Adit berjuang mendapatkan Nia, tetapi Pak Harto tegas memeringatkan kami untuk tak mengungkit memori Nia sebelum kecelakaan. Pupus harapan Adit karena ultimatum ayah Nia.

**

Adit sudah kembali ke Kalimantan untuk menjalankan tugasnya. Aku tahu, sangat berat dia meninggalkan Nia, wanita yang ia perjuangkan hatinya dari titik nol kembali. Aku hanya bisa menatapnya iba saat Adit memandang Nia sendu.

"Pak!"

Tepukan lembut Indra di bahuku memaksaku menoleh ke arahnya. Dia tersenyum, tapi aku tahu ada luka di balik senyumnya. Indra melihat binar cinta di mata Nia untuk kakaknya saat mengantarnya ke bandara. Itu penyebabnya.

"Bapak lagi mikirin siapa?" Indra bertanya sambil duduk menyejajariku.

"Masmu," jawabku lesu.

"Mas Adit baik-baik saja, apa yang Bapak khawatirkan?"

"Hatinya yang sedang tidak baik-baik saja,” jawabku sambil menepuk bahunya. Indra menghembuskan napas kasar.

“Aku pun sama, Pak,” desahnya.

“Iya, bapak tahu, tetapi bapak tidak tahu bagaimana caranya bapak menolong kalian.”

“Doakan saja, Pak!” 

“Siapa yang harus bapak doakan? Kalaupun terkabul, salah satu di antara kalian pasti akan terluka.”

“Bapak berada di pihak siapa? Jangan bilang kalau Bapak sama dengan Kinasih, mendukung dua-duanya!”

“Kamu bertanya, apa menghakimi?”

“Karena kulihat Bapak tidak mendukungku.”

“Apa sikap bapak mengisyaratkan itu? Bapak mendukungmu, kenapa kamu meragukan itu?”

“Iya, aku tahu. Tetapi itu sebelum Mas Adit hadir di antara kami.”

“Siapa yang memberitahukan tentang talak Dullah pada masmu?”

Indra menggaruk tengkuknya. Dia sendiri yang menggali lubang kuburnya sendiri dengan mengabarkan berita gembira berpisahnya Nia dengan Dullah. Kini, dia sendiri yang merasa posisinya terancam.

“Kupikir dia akan mendoakanku agar berhasil mengambil hati Nia, tidak tahunya malah menantang kompetisi.

“Sudah, sudah! Kalian sudah membicarakan tentang kompetisi ini setelah pernikahan Nia dengan Dullah. Jadi, tidak ada yang salah. Semua benar menurut hati kalian.”

“Apa aku menyerah saja, Pak? Tentu akan mengurangi beban Nia dalam menentukan pilihan.”

“Pertanyaan yang sama dengan kakakmu, tetapi bapak tahu kalian hanya di bibir saja mengatakan itu. Hati siapa yang tahu? Jika bapak mengiyakan, bapak jamin kamu bakal meratap, menangis darah untuk keputusan konyol yang kauambil.”

Indra terkekeh mendengar pernyataan jujurku. Dia memang paling tidak bisa menyembunyikan perasaannya di depan kami. Bahkan Asih pun tahu tentang itu. Berbeda dengan Adit, dia lebih tertutup. Bicara bila dirasa itu perlu.

“Bapak tahu kok siapa yang akan Trinil pilih nanti, Le.”

Indra terperanjat mendengar kalimat yang baru keluar dari mulutku. Matanya menatapku tajam, menuntut penjelasan.

“Bapak yakin? Siapa? Kasih tahu aku sekarang, Pak!”

“Rahasia!” kataku terkekeh, kemudian bangkit meninggalkan Indra dan tanda tanya besar di kepalanya.

“Bapak tidak bisa menyembunyikan ini dariku. Suatu saat pasti aku tahu, Pak!” seru Indra.

Aku tahu, sangat tahu siapa yang akan Nia pilih sebagai suaminya setelah selesai masa iddah. Keputusan terbesar dalam hidupnya tak mungkin dia ambil seorang diri. Ada seseorang yang bisa mengendalikan hati dan pikirannya. Siapa? Pak Harto! Sang Bapaklah penentu masa depannya. Nia sangat menyayangi kedua orang tuanya, terutama sang Bapak. Dia akan menuruti apa saja yang Pak Harto katakan. 

Andai aku ditakdirkan mempunyai putri lagi, Nialah yang kuinginkan menjadi anak bungsuku selain Tari. Kalaupun tidak bisa, menjadi menantuku saja cukup membuatku menjadi mertua paling bahagia di dunia. Dengan siapapun, aku inginkan hal itu menjadi nyata.

Kuambil gawai di atas meja makan. Gawai yang setahun lalu Adit belikan untukku sebagai ganti hp jangkrik yang dibelikannya juga beberapa tahun sebelumnya sebelum android mewabah.

“Ngapain kamu beli hp bagus ini untuk bapak, Le?” protesku pada saat iyaa mengulurkan hp baru yang iya beli belakangan kutahu bernama gawai atau lebih kerennya disebut android.

“Hp yang Bapak pakai sudah sangat lama, sudah saatnya ganti.”

“Tapi ini mahal, Le.”

“Enggak, Pak. Lima juta masih kembali,” sanggahnya.

“Biar kalau Bapak kangen Adit, Bapak bisa bicara lewat panggilan video,” imbuhnya.

“Matur nuwun (Terima kasih) ya, Le!”

“Nggih (Iya), Pak.”

*

“Assalamu'alaikum, Le!” sapaku saat wajah tampan putraku muncul di layar gawaiku. Ia menjawab salam dengan senyum lebar.

“Bahagia sekali kelihatanya anak lanange (anak laki-lakinya) bapak,” ujarku.

“Bahagia lagi kalau Adit bisa kembali lagi ke Pemalang saat ini juga, Pak,” guraunya.

“Halah … halah … sing lagi kasmaran (yang sedang jatuh cinta).” Adit terkekeh.

“Indra mana, Pak?” tanya Adit.

“Baru pulang kerja, sedang membersihkan diri sepertinya.”

“Lha iku nopo, Pak di belakang Bapak?”

(Lha itu apa, Pak di belakang Bapak?)

Aku menoleh. Indra sudah terlihat segar usai mandi.

“Opo Mas? Kangen po (Kangen, ya)?” tanya Adit.

Wes … wes … nek cah loro iku wes ketemu, gelut terus (Sudah … sudah … kalau dua orang itu sudah bertemu, berantem terus), batinku.

“Kangen Trinil aku, Pret!” 

“Opo Pret?” tanya Indra.

“Kutukupret!” jawab Adit.

“Rumangsamu kowe dudu Pret, Mas?”

“Lah, Pret-ku emang opo?” 

“Sok amnesia koyo Trinil. Kampret, Ndhes, Kampret!”

“Asem kecut,” tukas Adit.

“Pak!” panggil Adit dengan wajah memelas.

“Opo?” tanyaku.

“Kangen Trinil aku, Pak.”

“Hahaha!”

Kututup telinagku mendengar tawa Indra tepat di samping telingaku.

“Ora sopan blas!” rutuk Adit.

“Lagi pirang jam kowe minggat, Mas? Aku sing cedhak, pengen ketemu wae kudu ngempet. Trinil kemayu tenan, ora gelem ketemu nek ora karo sengklek Asih.”

(Baru berapa jam kamu minggat, Mas? Aku yang dekat saja ingin bertemu harus menahan. Trinil sok cantik benar, tidak mau ketemu kalau tidak bersama sengklek Asih)

“Aku balik maneh ning Pemalang ya, Ndra?”

(Aku pulang lagi ke Pemalang ya, Ndra?)

“Ojo!”

(Jangan!)

“Nek kowe nekat, Trinil takgowo minggat, Mas.”

(Kalau kamu nekat, Trinil kubawa kabur, Mas)

“Minggat ning ndi?”

(Kabur ke mana?)

“Menek wit salam.”

(Manjat pohon salam)

“Suwek mengko.”

(Sobek nanti)

“Ben. Mengko takgendhong.”

(Biarin. Nanti aku gendong)

“Wes, mandheg! Duwe anak lanang loro kok gendheng kabeh.”

(Sudah, berhenti! Punya dua anak laki-laki kok edan semua)

Cerpen Karangan: Yudhistira Bintang

Blog / Facebook: Yudhistira Bintang

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Seratus Hari Mengejar Cinta Trinia

Terkini

Iklan