Iklan

Iklan

Mantanku Gada Akhlak Part10

7/17/21, 17:18 WIB Last Updated 2021-07-17T10:18:20Z


 Mantanku Gada Akhlak 

Cerpen Karangan: Pelangi Pelangi

Blog / Facebook: Pelangi Pelangi

Hari begitu cepat berlalu hingga tak terasa hari ini hari pernikahan Zidan berlangsung. Tepat jam 9 pagi. 

Aku bersiap-siap untuk menghadiri pernikahan mantan. Di luar cuaca sangat buruk. Rintik hujan mulai turun membasahi bumi. 

Walau hujan tidak akan membuat pernikahan Zidan terhambat karena dia melangsungkan pernikahannya di gedung. 

Sebenarnya aku sangat malas untuk hadir dalam pernikahanya tapi kalau gak dihadiri sayang gak dapet makan gratis. 

Lelaki itu sudah tak mengusikku lagi, nomornya juga kublokir agar dia tidak bisa menghubungiku lagi. 

Udah move-on, Vin? Ya, mau bagaimana lagi dianya juga mau nikah. Yang kulakukan hanyalah melupakan dan ikhlaskan seperti yang ibu ucapkan beberapa hari yang lalu. Hm, sadgirl.

Ibu dan bapakku sudah berangkat lebih awal bersama para tetangga. Mereka menyewa mobil Pak Rt.

Awalnya aku ingin ikut mereka tapi mobil itu sudah penuh. Jadi bapak menyuruhku untuk naik ojol saja. 

Aku memandang wajahku di cermin. Mengenakan baju kodok berawarna abu-abu, sepatu putih, rambut kuncir dua dan polesan make-up sedikit membuatku terlihat cantik. Yang penting pede, dah! 

Tak lama ojek online yang kupesan datang.  Aku mengunci pintu rumah terlebih dahulu, lalu kang ojek tersebut meminjamkan jas hujan dan helm padaku.  

"Entar make-up nya luntur, sayang udah dandan cantik-cantik kena hujan," ujar lelaki paruh baya itu. Aku lantas tertawa. Memakai jas dan helm-nya, setelah itu naik ke motor. 

Kami berangkat menuju ke tempat yang sudah ditentukan. Demi menghadiri pernikahan mantan rela berangkat hujan-hujanan begini. Ahh, setelah sampai nanti aku akan makan sapuas mungkin. 

"Neng cantik mau gak sama anak saya?" ujarnya. 

"Anak Bapak kerja apa?" tanyaku, sedikit lantang. Mungkin saja dia tidak dengar. 

"Anak saya masih sekolah. SMP," jawabnya. 

Aku melototkan mata. Masih SMP katanya? What, aku gak suka sama anak kecil. Lagi pula umurku juga  sudah menginjak 23 tahun.

"Nggak usah, Pak, saya sudah punya tunangan," ucapku berbohong. 

"Ohh, yaudah. Bapak cari yang lain aja," sahutnya. Nah, gitu dong!  

Kami terus melaju hingga tak lama kemudian sampai di depan gedung yang menjulang tinggi. Setinggi cintaku padamu!

Hujan sudah berhenti sejak tadi. Aku turun dari motor, melepas jas hujan dan helm lalu memberikannya pada lelaki paruh baya itu. Tak lupa membayar ojeknya.  

"Makasih, Pak," ucapku. 

"Iya, Neng," ujarnya.  

Aku langsung masuk ke dalam gedung. 

**

Bunga-bunga bertebaran indah dan lampu  berkelap-kelip seperti bintang. Diujung sana terdapat pelaminan mantan yang terlihat mewah. 

Pasti semua ini uang bapaknya, aku tahu kalau ayahnya itu seorang pengusaha sedangkan dia pengangguran.

Para tamu undangan sudah hadir, aku mencari keberadaan ibu dan bapak. 

"Vin!" panggil ibuku yang duduk di meja paling depan. Kenapa harus di depan, sih? 

Aku menghampiri mereka berdua. 

"Loh, Vin, kamu itu mau kondangan atau malah mau main di taman? Kok, kamu pakai baju itu." Ibuku nampak terkejut. Semua orang menatapku aneh. 

"Bu, kalau Vivin pake baju dres malah keliatan ribet. Apalagi naik motor," sahutku sambil duduk di kursi kosong sebelah ibu. Dia enak naik mobil.

"Kamu makan dulu, gin," suruh Ibuku. Seperti yang punya acara aja. 

Perutku mengonggong minta diisi. Dari tadi aku belum makan apapun. Aku beranjak untuk makan terlebih dahulu. Mencicipi semua makanan yang dihidangkan, hingga tak lama acara ijab qabol dimulai. 

Aku yang berada di pojok hanya memandang Zidan sesaat, cowok itu nampak menawan dengan balutan toksedo putih. Lalu aku beralih menatap pendamping hidupnya. Satu kata untuk gadis itu. "Cantik." 

Pengantin duduk berdampingan dan di depannya sudah ada penghulu dan wali nikah. Bukan wali band, ya.  

Ijab qabol dimulai. Namun saat Zidan ingin mengucapkannya seorang laki-laki yang seumuran ayahku datang menghentikan. 

"Pernikahan ini gak boleh berlanjut karna Amaira, anak saya sudah berjodoh dengan pria lain," ujarnya, mencengangkan kami semua.  

"Tapi Amaira gak mau nikah sama dia!" sahut gadis itu sedikit berteriak. 

"Anda siapa?" tanya ayah Zidan.

"Saya adalah Ayahnya," jawabnya. Para tamu undangan lantas heboh. Termasuk aku. 

"Amaira bukannya kamu bilang orangtua kamu sudah meninggal? Lantas kau berbohong pada kami semua. Kamu pikir ini lucu?" Pak Rudi menggeram marah. 

Perdebatan dimulai. Aku menyimak dan menonton di pojok sambil makan. Asik sekali. 

Ternyata gadis itu berbohong bahwa iya ditinggal pergi sama kedua orangtuanya dan hidup sendiri.

Ia membayar seseorang untuk jadi orangtuanya, wali nikahnya. Well, alasan gadis itu kabur dari rumah karna tidak mau dijodohkan. Alur cerita yang sangat menarik. 

Ibu Zidan pun jatuh pingsan mendengarnya. Para tamu terbengong-bengong. Sedangkan aku kembali nambah makan lagih. 

"Seru, ya Vin. Macam sinetron," ujar Ibuku. Entah sejak kapan ia ada di sebelahku. 

Kulirik Zidan yang gagal menikah, cowok itu terlihat santai, bahkan ia sibuk dengan gadget-nya. Disaat seperti ini aku sangat penasaran apa yang sedang dipikirkan cowok itu.

Tidak sengaja pandangan kami bertemu, dia tersenyum sekilas dan melambaikan tangan ke arahku. Secepat mungkin aku memaling muka. 

Padahal aku ingin meledeknya habis-habisan tapi wajahnya itu membuat membingungkan. Apa dia kesurupan, ya? 

Sebagain para tamu memilih pulang dan sebagaian lagi memilih menetap seperti aku yang asik menghabiskan jamuan makanannya. 

Tambah lontong sayur, rendang, ayam goreng lagi ....

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Mantanku Gada Akhlak Part10

Terkini

Iklan