Iklan

Iklan

LEMBURNYA SUAMIKU

7/17/21, 17:12 WIB Last Updated 2021-07-17T10:12:01Z

“Kan Talia lagi cari kerja. Gimana kalau untuk sementara, biar dia tinggal di rumah kita?” ujar Mas Bram ringan tanpa beban.

Sementara, akan kuikuti permainannya kali ini. 

Benar-benar sampah dan tong yang sangat cocok. 

“Boleh, tapi Talia tidur di kamar dekat gudang.” 

“Apa? Itu ‘kan kamar pembantu? Kamu ikhlas enggak sih, bantuin adik sepupuku?” tanya Mas Bram sedikit emosi.

“Ya ... mau tidur di mana, Talia cantik?” 

Ingin rasanya kusuruh dia tidur di atas atap. Biar aku bisa menendaangnya dan ha ha ha, aku tak sejahat itu sih. 

“Kamar yang rada besar dan ada AC nya, ada enggak ya Mbak?”

What? 

Dia minta kamar besar dan ber-AC? 

“Baiklah, sekarang juga kita pulang ke rumah. Bayar, Mas.”

Mas Bram tertawa kecil. “Tolong bayarin kamu, ya, Sayang. Uang Mas kan habis.” 

Kuembuskan napas kasar. Andai mereka tahu, kesabaranku sudah hampir habis menghadapi mereka. 

Lekas kubayar makanan mereka siang ini pada pelayan. 

“Tapi kamu sama dia naik gocar ya, aku enggak mau mobilku penuh orang. Itu ‘kan, mobil pribadiku,” ucapku seraya mengoleskan lipstick berwarna merah. 

“Wah, Mas Bram sudah belikan Mbak mobil baru ya?”

“Apa tadi kamu bilang? Mas Bram belikan aku mobil? Kamu mimpi? Makan kalian berdua aja saya yang bayarin,” ucapku sedikit keras, membuat semua pandangan orang-orang di sekitar Resto tertuju pada kami. 

Wajah Mas Bram memerah, kali ini dia baru kupermalukan di depan orang lain. Bagaimana ya, kalau besok aku mempermalukannya di hadapan orang tuanya sendiri?

Sesampainya di rumah, aku menunggu dua pasang sampah itu hadir di rumahku. 

Aku menunggu di ruang tamu. Menunggu mereka seraya membaca koran hari ini. 

“Wah, ini rumah Mas Bram? Kalau begini, Talia makin betah. Jadi makin sayang deh sama Mas Bram.”

Dua benalu itu sampai sepuluh menit lebih lama dari pada aku. 

“Ssst, nanti Saras dengar bisa terbongkar kedok kita.”

Aku tersenyum dalam hati. Dua manusia tak tahu malu. 

Satu per satu dari mereka pun masuk ke dalam rumah.  

“Selamat datang di rumah Mas, adekku sayang. Eh, istriku tercinta, Saraswati. Kamarnya sudah siap?” ucap Mas Bram enteng. 

“Memangnya aku pembantu di rumah ini? Oh iya, Mas. Kemungkinan besar aku malam ini tidak pulang. Karena ada meeting dengan klien yang tadi pagi.”

“Oh, selingkuhan kamu itu?” 

“Tidak usah mencari masalah denganku, Mas.”

“Kalau begitu, mobilmu tinggal di rumah. Biar Mas yang antar kamu. Sekalian ajak Talia jalan-jalan.”

“Mobil itu hasil jerih payahku ya, Mas. Kalau kalian ingin jalan-jalan, beli mobil sendiri atau naik transportasi umum,” titahku. Sengaja aku menyombongkan diri agar emosi mereka tersulut. 

“Peritungan banget sih Mbak sama saudara sendiri?”

Saudara? Mungkin yang dimaksud saudaranya adalah Raja Fir’aun.

“Maaf ya, Tali Rafia. Eh, Talia. Itu bukan urusan Mbak,” jawabku ketus.

Talia berdecak, “memang kalau Mbak mati, enggak butuh saudara?” 

“Emang kamu tahu kapan aku akan mati? Kalau kamu mau tinggal di sini, silakan masuk ke dalam kamar dan istirahatkan mulutmu itu.”

Geram rasanya aku melihat dua benalu di hadapanku. 

“Istri Mas kok galak gitu sih, Mas?” 

“Sudahlah, masuk ke kamarmu sana.”

Aku tertawa dalam hati. Tunggu pembalasanku yang sesungguhnya. 

Malam ini, aku sengaja beralasan tidak pulang ke rumah. Aku ingin tahu, apa yang akan dia lakukan di rumahku. 

Aku dan Candra bertemu di Cafe Espresso. Tepat pukul delapan malam. Kebetulan malam ini malam Minggu, banyak orang yang memenuhi kafe ini. 

“Tumben ngajak ketemuan, Ras?” tanya Candra yang baru saja meneguk kopi latte.

“Ingin mengevaluasi kerja Mas Bram selama enam sepuluh bulan ini, Can. Kamu teman baik aku. Enggak mungkin dong, aku enggak boleh tahu bagaimana suamiku?”

Candra menatapku seraya mendengkus pelan. 

“Sebenarnya sudah enam bulan ini, kinerja dia berubah, Ras. Entah kenapa. Yang paling parah adalah sebulan ini. Ancur.” 

Akhirnya, hal yang ingin ku ketahui, meluncur dari mulut Candra. 

Klunting. 

Sebuah pesan masuk dari Yadi. 

[Kamu ingin tahu apa yang mereka lakukan sekarang?]

Yadi memang sedang ada di rumahku. Dia memata-matai dua benalu yang mungkin kini tengah berpesta  dia di rumahku. 

Ibu dan Reyhan ada di Puncak. Sedangkan Bi Imah sudah pasti tertidur jam segini. Jadi mereka bebas untuk melakukan apapun.

[Apa yang mereka lakukan?] balasku cepat. 

“Kamu ada masalah dengan Bram?” tanya Candra tiba-tiba. 

Aku mengangguk cepat. Kuputar video hasil rekamanku kemarin malam. 

“Entah sejak kapan. Tapi ini lah yang terjadi, Can.”

Rahang Candra mengeras. Ia nampak tak terima dengan video yang kuperlihatkan padanya. 

“Aku sudah cukup bersabar, Ras. Tapi kini tidak lagi,” ujar Candra seraya menatap garang ke arahku. 

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • LEMBURNYA SUAMIKU

Terkini

Iklan