Iklan

Iklan

JODOHKU TETANGGAKU

7/17/21, 17:24 WIB Last Updated 2021-07-18T01:26:58Z

JODOHKU TETANGGAKU

Kuputuskan kembali duduk di atas jok motorku usai menerima kembalian dari babang siomay. Meskipun kesal dengan babang itu, tapi aku tak mungkin memarahinya. Dia juga sedang mengais rejeki. Nafkah untuk keluarganya.
Tak mungkin aku menyusul Sekar ke dalam gedung itu. Di lantai mana dia bekerja saja aku tak tahu. Gedung itu ada lebih dari dua puluh lantai. Bertanya ke resepsionis atau satpam, jelas tak mungkin. Ini bukan kantor kelurahan yang semua orang bakal kenal.
Begonya memang aku tak pernah bertanya padanya dia kerja di lantai berapa, divisi apa dan nama kantornya apa. Kantornya bukan perusahaan besar yang terkenal. Namanyapun juga tak mudah kuingat. Mungkin, kalau aku kepepet sih bisa saja aku tanya satpam. Pasti dia tahu jika aku menyebutkan detil pekerjaan Sekar. Tapi, ini sudah di luar jam kantor bung. Alih-alih, malah aku dicurigai yang tidak-tidak.

Hape di saku celana kurogoh kembali. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Sakina. Kubiarkan saja. Biarlah waktu yang menjawabnya. Dia sudah punya Fajar. Lebih baik aku membiarkannya bersama Fajar.
Tapi, apa aku jahat? Bukannya aku sudah tahu keb*jatan Fajar selama ini? Sejauh apa yang dilakukan Fajar terhadap Daniar, pacarnya itu? Ah, bodo amat. Jangan sampai aku sibuk memikirkan Sakina, sementara Sekar terlepas.
Beberapa kali panggilanku ke Sekar dirijek. Dasar, bocah ngambekan! Tapi, gimana lagi. Memang aku yang salah. Dia memang melihat panggilan Sakina di hapeku.
[Dik, ayo pulang. Aku tunggu di bawah] kuketik pesan itu untuknya. Setelah kukirim. Langsung centrang dua. Ya iyalah, kan di gedung itu ada wifi. Jelas tidak ada alasan tidak punya sinyal atau data internet. Kecuali dia mematikan hape atau pakai mode terbang atau batrei habis.
Mataku masih menatap layar hape sambil sesekali menatap arah dia sering keluar.
[Pilih dia atau aku!]
Astagaaa….bocah ini masih tetap saja. Sudah berapa kali aku bilang padanya, kalau aku jelas-jelas sudah memilihnya. Dan itu tak perlu diragukan. Apalagi ditawar. Kenapa dia masih saja mempertanyakannya.
[Aku pilih kamu lah, Dik. Mana ada aku pilih yang lain.]
[Buktinya?]
Nafas kuhembuskan dengan kasar. Sabar-sabar. Benar kata papaku. Sebelum aku ijab qobul, papa sudah mewanti-wanti, “Kalau jadi suami, yang sabar. Wanita itu maunya kadang sulit dipahami. Tapi, hanya dengan sabar, keluarga bisa langgeng.”
Benar juga. Buktinya, mamaku yang sangat rewel begitu, papaku betah. Masak aku baru diuji begini saja sudah menyerah. Apalagi, aku mengenal Sekar bukan dari kemaren sore. Bahkan, sejak dia orok, masih ingusan.
Kubuka daftar kontak di hapeku. Nama SKN segera kubuka, lalu kupencet tnda titik tiga di pojokan dan segera kuklik: BLOKIR. Lalu aku skrinsut nomor itu termasuk tanda blokirannya.
[Nih buktinya]
Aku mengirimkan skrinsut foto pemblokiran nomor Sakina ke nomor Sekar. Hanya berselang sekian detik, tanda centrang abu-abu menjadi biru. Dan dalam hitungan jari, bocah itu sudah terlihat dari balik gerbang.
Ya Salaam...rupanya, dia benar-benar hanya bersembunyi di balik gerbang kantornya yang tentu saja tak terlihat dari tempatku duduk.
Bocah itu mendekat dengan wajah yang berbinar cerah. Dasar memang. Hanya dengan memblokir nomor Sakina saja, masalah sudah selesai.
Tapi, bagaimana dengan Sakina? Kalau dia menungguku di kantornya bagaimana? Apa aku harus membuka blokir dulu dan mengirimkan pesan padanya jika sebaiknya dia tak perlu menungguku? Tapi, bocah di depanku ini semakin mendekat.
Ah, biar saja. Sakina sudah dewasa. Jika tidak ada aku, toh masih ada Fajar kalau aku tak datang. Segera kumasukkan kembali hape itu ke saku celanaku. Sekar sudah datang.
Aku segera mengangsurkan helm untuk Sekar saat bocah itu tanpa rasa berdosa meletakkan begitu saja tasnya di tempat kaki di motor maticku. Bocah ini berlagak seperti itu memang tempat tas untuknya. Aku hanya menggelengkan kepalaku, mengalah.
“Pasangin!” rengeknya sambil mendongak. Memperlihatkan dagunya yang runcing. Coba kalau tidak ditempat umum, ingin juga sekalian kukecup bibirnya yang sedari tadi manyun.
Bocah ini sebenarnya manis juga. Cuma kusam dan kucel saja wajahnya, masih bau kampung. Tapi aku yakin, sebentar lagi dia ngga akan kalah dengan Sakina.
“Sudah!” ucapku saat bunyi klik sudah terdengar. Dasar manja. Masang kaitan helm saja tidak bisa. Coba kalau bukan istriku, sudah kutoyor saja kepalanya.
Kami menyusuri jalanan padat merayap karena sudah waktu jam pulang. Hanya sekitar dua puluh menit, karena aku melewati jalan tikus, akhirnya kami tiba di sebuah rumah sakit besar. Klinik kecantikan itu berada di dalam rumah sakit ini.
“Ngapain, Mas kita ke sini?” tanya Sekar lagi.
Kugandeng tangannya saat kami usai memarkir motor di parkiran khusus kendaraan roda dua. Lobi rumah sakit itu sangat dingin. Pasien rumah sakit ini tentu bukan kalangan sembarangan. Tentu orang yang berduit. Tapi, aku tidak rendah diri. Aku kan juga punya duit. Tapi duitku memang tak tampak dalam penampilan. Semua terlipat dalam satu kartu atm. Eh, padahal duitku sudah habis buat biaya nikah dan bayar hutangnya orang tua Sekar. Yang ada tinggal gaji bulan ini karena cicilan uang dari Sekar sudah ditarik oleh bank Syariah tempat aku meminjam uang.
Aku tak menjawab pertanyaan Sekar, tapi justru langsung masuk ke klinik itu.
“Mas...ngapain kita ke sini?” bisik Sekar penuh penekanan. Aku hanya menoleh padanya sambil meletakkan telunjukku di depan bibir.
“Mbak, kami mau mendaftar untuk konsultasi,” ujarku pada respsionis di klinik itu.
“Mas!” Sekar menarik tanganku. Tapi aku justru segera menggenggam jemarinya. Aku tahu, kalau tidak begini, dia pasti akan segera kabur.
“Atas nama?”
Kujawab dengan menyebutkan nama lengkap Sekar. Gadis itu melotot padaku saat aku menoleh padanya usai menyebut namanya. Dia berusaha melepaskan genggaman tanganku, namun tak kulepaskan. Kubalas saja dengan senyum kemenangan.
“Silahkan ditunggu ya, Kak!” ujar resepsionis yang berseragam dengan nama klinik di dadanya ini.
Kuajak Sekar duduk di bangku yang berderet di depan respsionis itu. Beruntung, klinik ini sepi. Jadi hanya kami berdua di sana. Muka Sekar pun masih cemberut.
“Kenapa Mas? Kamu kecewa karena aku ngga cantik? Ngga secantik Sakina?” ujarnya.
Hadeehhhh. Sakina lagi. Bisa tidak sih dia berhenti bicara mengenai Sakina. Kapan aku bisa melupakan Sakina jika tiap detik Sekar masih membahasnya.
“Siapa bilang kamu tidak cantik? Kita kesini hanya konsultasi saja. Biar wajahmu tampak lebih segar. Aku malah suka, kamu selalu tampil natural,” gombalku. Padahal ini hanya bahasa halusku saja. Aku juga ingin punya pendamping yang wajahnya tidak kusam. Aku sering lihat di medsos, ibu-ibu yang umurnya baru tiga puluhan, tapi wajahnya sudah seperti lima puluhan. Dari artikel yang aku baca, selain tidak terawat, karena enggan merawat, juga karena faktor suaminya yang terlalu cuek kurang memperhatikan. Aku tak mau punya istri seperti itu. Nanti orang mengira, istriku tidak bahagia bersama denganku.
Soalnya, aku pun sering lihat istri bos-bos yang glowing-glowing. Usianya sudah lima puluhan, tapi masih seperti tiga puluh atau empat puluhan. Pasti selain duitnya banyak, beban hidupnya juga tidak banyak. Nah, aku pengen juga kan punya pendamping yang seperti itu. Tandanya, aku manfaat jadi suami.
###cut###
Aku segera mengeluarkan kartu atmku saat mbak di kassa menyebutkan sejumlah uang yang harus kubayar. Mata Sekar melotot, menatap tajam ke arahku. Kubalas saja dengan senyum. Tak mungkin aku ikut melotot kaget, sementara aku sebenarnya sudah tahu kisarannya berapa sebelum aku datang ke sini.
“Mas, itu bisa buat makan sebulan,” ujarnya sambil bersungut-sungut saat kami jalan keluar lobi rumah sakit elit ini.
“Ngga papa, demi kamu,” ujarku sambil memasukkan paket skincare tadi ke tas punggung milik Sekar yang masih bertengger di punggungnya. Lalu setelah aku tutup ristlestingnya, kita berjalan lagi ke parkiran rumah sakit.
“Tapi, bukan karena kamu terobsesi dengan...”
“Stop Sekar! Aku tak suka kamu menyebut namanya lagi,” hardikku sambil menghentikan langkahku, memperingatkannya. Aku ingin melupakannya. Tapi, bagaimana bisa jika Sekar selalu mengungkit-ungkitnya.
Sekar terdiam. Wajah berubah pucat. Lalu dia menunduk. Tak lama, dia mengusapkan air mata dengan jemarinya.
Haduh! Nangis lagi. Dasar cengeng!
Aku paling tidak suka drama seperti ini. Apalagi di tempat umum. Nanti orang mengira aku ngapa-ngapain dia.
“Ayo buruan,” bentakku tak sabar sambil menarik tangannya, mencari-cari motor di mana tadi terparkir. Dia harus segera memakai helm agar tak terlihat orang lain kalau sedang menangis. Perkara mau lanjut nangis sepanjang jalan, terserah! Yang penting kagak kelihatan orang.
BERSAMBUNG….
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • JODOHKU TETANGGAKU

Terkini

Iklan