Iklan

Iklan

Dompet Suamiku

7/17/21, 17:25 WIB Last Updated 2021-07-18T01:26:58Z

 Dompet Suamiku

Part 1

  "Yur ... sayur ...! Ibu ... Ibu ... sayur ...! sayur segar baru dipetik dijamin fresh, ada ikannya juga." Sayup jauh kudengar Abang tukang sayur sedang teriak, menawarkan dagangannya.

 "Bu Aya! Belanja nggak? Tuh Abang sayur-nya sudah di depan rumah Bu Hani, bentar lagi mau pergi!" Seru Bu Tuti, tetangga sebelahku.

  Untuk mencapai rumah Bu Hani, aku harus melewati tiga unit rumah tetangga. Rasanya enggan berjalan kaki di tengah matahari yang sudah naik dan membiaskan sinarnya di hari yang sudah tidak pagi lagi. Sedangkan motorku dibawa Mas Bintang karena mobilnya sedang di bengkel.


 Aku turun tergesa-gesa dari lantai dua rumahku untuk menemui Bu Tuti. Hari ini rencananya ingin membeli satu kilo ayam dan dua ikat sayur kangkung pada Abang Sayur, tidak lupa tahu-tempe sebagai tambahannya. Makanan dengan bahan sederhana kesukaan Mas Bintang--suamiku.

 Hari ini, aku bangun kesiangan. Malam tadi entah kenapa bisa tidur dengan nyenyaknya, bahkan sampai tidak tahu jam berapa Mas Bintang pulang ke rumah. Padahal tidak pernah terlewat tiap hari menunggu kepulangannya walau selarut apa pun.

 Pukul 10 pagi, aku baru saja selesai membersihkan rumah, biasanya selesai lebih awal, bahkan seharusnya, aku sudah bisa duduk santai menunggu kedatangan Abang sayur. Sayangnya, Abang tukang sayur pun hari ini ikut kesiangan sepertiku. 

***

 Grasak-grusuk mencari keberadaan dompet panjang-ku. Tidak kutemukan, entah dimana tangan ini meletakkannya. Sedangkan hati mulai takut Abang sayur-nya keburu pergi. Lebih baik kutemui dulu Bu Tuti, sekalian menanyakan keberadaan Abang sayurnya, apakah masih di sekitar kompleks atau sudah pergi.

***

 "Iya Bu, saya mau belanja, tapi kok Abang sayur-nya tidak kemari?" tanyaku sambil membuka pintu pagar dengan mata yang celinguk mencari keberadaan Abang sayur, berharap ia berjalan menuju kemari.

 "Nggak katanya. Bang Wiro-nya mau langsung balik, ada urusan keluarga, tapi kamu tenang saja, tadi aku sudah nyuruh dia buat nunggu sebentar, siapa tahu kamu mau belanja, tuh nunggu di rumah Bu Hani, cepatan!" Jelas Bu Tuti menunjuk ke arah rumah Bu Hani. Memang masih nampak Abang sayurnya di sana.

 "Oh gitu, kalau begitu saya cari dompet dulu," ujarku berlalu masuk kembali ke dalam rumah dengan berlari.

 Aku cepat-cepat naik ke lantai dua menuju kamar.

 "Di mana ya, aku meletakan dompet itu," gumamku dengan napas terengah sambil menyisiri tiap sudut kamar.

 Mataku terpaku ke atas nakas. Ada dompet di sana, tapi bukan dompet yang kucari.

  Kuamati, Itu kan dompetnya Mas Bintang? sepertinya dia tidak sengaja meninggalkannya di kamar ini. Ingin menuju ke sana, tapi tidak jadi. Aku tidak berani menyentuhnya. Kulanjutkan kembali fokus mencari keberadaan dompetku. Namun belum juga kutemukan. Padahal sudah seisi kamar ini kuobrak-abrik hingga berantakan kembali. Tetiba mataku melirik ke arah nakas.

 Bimbang. Apa kupinjam saja uangnya dulu, nanti setelah dompetku ketemu baru kuganti dengan diam-diam. Mas Bintang tidak akan tahu. Daripada ditinggal Abang sayur, nanti bakal tidak bisa makan siang, karena tidak ada lauk dan bahannya.

 Selama ini aku tidak pernah menyentuh barang pribadinya Mas Bintang, termasuk dompet. Itu perjanjianku dengannya di awal pernikahan. Bukan aku yang meminta perjanjian itu, tapi itu keinginan Mas Bintang. Katanya dia risih kalau barangnya disentuh orang lain, walaupun itu istrinya sendiri. Aneh.

 Kuyakinkan hati membuka isi dompetnya. Kuniatkan untuk mengambil selembar uang berwarna merah, kalau dihitung itu lebih dari cukup untuk belanja kebutuhan masakan hari ini. Mungkin lebihan.

 Dengan cepat kuhampiri nakas di samping tempat tidur. Kuambil dompetnya dan kubuka. Netraku langsung tertuju ke slot ruang tempat penyimpanan uang. Ada beberapa lembar uang Seratus ribu dan Lima puluh ribu. Kuambil lembaran seratus ribu. Lalu kututup kembali. Ketika ingin beranjak pergi, tetiba urung kulakukan. Aku berbalik kembali menatap dompet Mas Bintang.

 Ada yang janggal. Ada yang menggelitik, membuat hatiku tidak nyaman. Ada yang mengusik penglihatanku, tapi apa? Kubuka kembali dompet tersebut.

 Jleb.

 Ini dia. Ada warna putih menyembul di selipan slot kecil berjejer kartu-kartu di bagian sampingnya. Entah kenapa aku penasaran dengan 'sesuatu' itu? Seperti menyakini itu adalah pas foto ukuran kecil , dan arahnya menghadap terbalik. Jadi aku tidak bisa melihat apa dan siapa dibalik foto tersebut.

 Mungkinkah itu fotoku? Ada seulas senyum tipis terbit di sudut bibirku. Namun keraguan melenyapkannya dalam sekejap. Mas Bintang tidak pernah meminta fotoku, apalagi memiliki fotoku untuk disimpannya, kecuali foto pernikahan yang terpajang di kamar ini. Ini pun dicetak besar, tidak sekecil seperti pas foto di dompet tersebut.

 Penasaran. Apakah harus kuambil dan melihatnya?

Cerpen Karangan: Fatimah Syarlina

Blog / Facebook: Fatimah Syarlina

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Dompet Suamiku

Terkini

Iklan