Iklan

Iklan

VINA, WANITA YANG MEMUJA NAFSU

6/28/21, 13:58 WIB Last Updated 2021-06-29T17:23:15Z

 VINA, WANITA YANG MEMUJA NAFSU

Bagas nampak sedikit lesu menjinjing dua koper yang cukup besar menuju bus jurusan Jogja-Banjarnegara. Tas punggung hitam ala-ala pendaki gunung juga nemplok di punggung kekarnya. Sementara di sebelahnya, nampak gadis mungil memegang erat kaos Bagas. Sebenarnya ingin sekali Bagas sambil menggandeng bahkan bisa menggendong putri semata wayangnya tersebut, namun apalah daya. Saking banyaknya bawaan yang dibawa membuatnya tak kuasa melakukan hal itu.


Jam yang melingkar di pergelangan tangannya, telah menunjukkan pukul satu siang. Cuaca yang panas membuatnya semakin lesu. Terlebih ini bulan Ramadhan, hingga Bagas harus menahan dahaganya. Dia menatap lekat-lekat wajah Affa putrinya. Ingin rasanya dia menawari Affa minuman. Namun dia tahu, Affa tak mungkin mau membatalkan puasa. Bagas telah menghabiskan enam belas jam di perjalanan. Tepat jam sembilan malam tadi, Bagas memutuskan pulang ke kampung halamannya di Banjarnegara, Jawa Tengah. Setelah tepat sepuluh tahun lamanya Bagas hidup di perantauan Kotabaru. Sebuah kota di Pulau Borneo.

Kepulangannya bukan tanpa sebab. Pertengkaran hebat yang terjadi semalam membuatnya goyah untuk bertahan di perantuan. Sebenarnya Bagas tergolong lelaki yang sabar, santun dan tidak gegabah dalam bertindak. Namun apa yang telah dilakukan Vina istrinya sudah melampaui batas. Hingga kesabaran Bagas tak terbendung lagi. Lalaki itu memutuskan pulang dengan membawa serta Affa putrinya.

"Sini Affa sayang, duduk di dekat jendela. Nanti Affa bisa liat pemandangan yang indah" ucap Bagas ketika mereka telah berada di dalam bus. Affa tersenyum dan menuruti tawaran ayahnya. 

"Affa capek? Kalau capek, Affa boleh membatalkan puasanya. Ayah bawa minum dan roti. Apakah Affa mau makan rotinya sekarang?" ujar Bagas sembari mengelus kepala Affa yang berbalut jilbab. Lagi-lagi Affa hanya tersenyum. Kali ini, senyumnya diiringi gelengan kepala. Ah....kasihan sekali putriku. Guman Bagas dalam hati. 

Masih teringat jelas kejadian semalam. Kejadian yang mungkin tak akan pernah mampu Bagas lupakan. Kejadian yang telah memporak-porandakan hati dan perasaannya. Rumah tangga yang telah sepuluh tahun dia bina, harus kandas begitu saja.

***

Semalam....

"Ayah, Affa ngantuk sekali. Bolehkah Affa pulang duluan? Affa tadarusnya nanti sebelum sahur aja ya yah." Rajuk Affa ketika usai sholat tarawih di masjid komplek perumahan ellite miliknya.

"Kalau ngantuk, Affa wudhu lagi aja. Kalau habis wudhu, insyaallah gak ngantuk lagi. Sayang lo pahalanya kalau gak ikut tadarusan." Bujuk Bagas. Meski Affa baru berusia tujuh tahun, namun pengetahuan agamanya sangat bagus. Jus tiga puluh telah fasih dia hafalkan. Sholat wajib tak pernah ditinggalkan. Sholat-sholat sunah juga dia kerjakan. Sungguh tiada keberuntungan yang melebihi keberuntungan memiliki putri yang solekhah seperti Affa. 

"Ayah...., Affa benar-benar capek dan ngantuk ayah. Tadi di sekolahan ada pelajaran olahraga. Olahraganya lari putar lapangan lima kali, ayah. Kaki Affa serasa mau putus ini yah. Boleh kan Affa libur tadarusan hari ini? Affa kan belum pernah bolong tadarusannya, bolong sekali boleh ya ayah? Boleh ya ayah...." rengek Affa penuh manja. 

Bagas sangat menyayangi putrinya. Saat Bagas terpuruk dan hampir menyerah. Harapan atas kebahagiaan dan masa depan Affa selalu menjadi penyemangat dan prioritasnya. Melihat wajah memelas Affa, Bagas luluh jua. "Ok..., tapi nanti kalau ayah bangunkan tengah malam, jangan males-malesan ya. Biasanya Affa suka sulit dibagunkan kalau udah meluk si Sipho, boneka beruang kesangan." Ledek Bagas sembari mencubit pipi putrinya. Cubitan yang menggelorakan nafas kasih sayang Bagas yang begitu besar.

“Iya ayah yang paling baik sedunia. InsyaAllah Affa bangun. Affa sayang ayah. Ayo kiya pulang yah!” terang Affa.

Affa mengemasi mukena yang masih membalut tubuhnya. Dicopot dan dilipatnya mukena itu dengan sangat rapi dan hati-hati. Bagas hanya menatapnya penuh kegaguman. Putrinya yang masih kecil, selalu rapi dan hati-hati tatkala mengerjakan sesuatu. 

Mereka berjalan keluar dari masjid. Affa mengambil dua pasang sandal yang tertata rapi di atas rak.  Sepasang sandal berwarna hitam, diberikannya pada Bagas. Bagas tersenyum dan mengenakannya di telapak kakinya.

Jarak masjid dengan rumah mereka tak terlampau jauh. Mereka hanya butuh berjalan kurang lebih tiga ratusan meter. Bagas mendongok menatap ke atas. Langit malam ini begitu indah, rembulan menampakkan seluruh permukaannya yang bundar. Sinarnya menerangi jalanan yang dilalui Bagas. Bintang-gemintang juga seakan tak mau tertandingi. Kerlipnya indah menerawang, menyerupai lampu diskotik. Tak terasa, mereka telah sampai di depan rumahnya.

Bagas mengeluarkan kunci di saku kemejanya. Saat hendak memutar kunci, teryata rumahnya sudah tak terkunci. Vina udah pulang rupanya, batin Bagas. Vina adalah istrinya. Wanita yang sangat mengejar karier. Jabatannya sebagai kepala "bangsal ibu dan anak" di RSU Kotabaru membuat dia sibuk dan jarang di rumah. Apa lagi jadwal kerjanya sesuai shift. Kalau masuk pagi, pulangnya sore. Kalau masuk sore, pulangnya pagi. Vina biasa pulang terlambat dari seharusnya. "Banyak kerjaan di kantor." Itu yang Vina ucapkan setiap Bagas mempertanyakan kenapa pulang telat. Keberadaannya di rumah, juga nyaris tak berpengaruh. Hampir seluruh waktunya di rumah, digunakannya untuk tidur. Bagas memaklumi, mungkin Vina capek. Begitulah rutinitas Vina sehari-hari. Hampir tak punya waktu buat keluarga.

Bagas dan Affa berjalan beriringan memasuki rumahnya.  

"Kok sepi dan gelap sekali yah? Bukannya Bunda udah pulang? Pintunya kan udah gak di kunci yah..." tanya Affa keheranan saat berada di ruang keluarga. Biasanya pulang kerja, Vina tiduran sembari nonton tv di ini.. 

"Mungkin bunda kecapean dan pengen istirahat, jadi sengaja mematikan semua lampu agar lebih tenang." Jawab Bagas menerka. Kamar Vina dan Bagas berada di ruang paling belakang. 

"Affa mau ketemu sama bunda dulu yah." Ucap Affa yang penuh dengan sumringah memancarkan sejuta kerinduan. Affa selalu menyimpan banyak rindu untuk bundanya. Affa selalu merindu ..., merindu untuk dapat ke masjid bersama bunda, merindu untuk belajar di temani bunda, merindu untuk bermain bersama bunda..., ah...banyak sekali kerinduan yang tak sempat dia katakan namun jelas tergambar.

Tanpa mengetuk pintu, Affa membuka kamar bundanya dengan pelan. 

“Klek....” Terdengar suara gagang pintu yang ditekan. Sekilas ;ihat, tampak bundanya tidur di atas ranjang. Affa melangkahkan kaki mendekati bundanya. Namun pada langkah ke duanya, Affa baru menyadari bahwa bundanya tak tidur sendiri, bahkan bundanya tak berbusana. Pun begitu pula dengan lelaki yang berda di sampingnya. Lelaki yang biasa dia panggil dengan sebutan Om Icol, sedang memeluk mesra bundanya. Siswa kelas dua SD tersebut, sontan berteriak hysteris. Sedikit banyak dia paham, bahwa bundanya telah melakukan hal yang keliru.

Mendengar jeritan putrinya, Bagas segera berlari menghampiri. "Ada apa nak? Kamu kenapa?" Tanya Bagas penuh kekhawatiran. Bagas takut putrinya kenapa-napa. Affa masih menangis, bahkan semakin menjadi. Kemudian dia menunjuk ke arah bundanya

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • VINA, WANITA YANG MEMUJA NAFSU

Terkini

Iklan