Iklan

Iklan

MENGHADIRI PERNIKAHAN SUAMI

6/28/21, 13:56 WIB Last Updated 2021-06-28T10:53:39Z

MENGHADIRI PERNIKAHAN SUAMI

Kedua sudut bibirku tidak henti-hentinya terangkat ke atas, kala melihat Desi--wanita yang sudah aku nikahi seminggu yang lalu, nampak begitu cantik dan mempesona, di tambah lagi umurnya masih muda, baru saja menginjak usia dua puluhan. 


Tepat hari ini, adalah acara resepsi pernikahan kami. Sengaja aku dan Desi berunding, untuk melakukan akad terlebih dahulu, baru dilanjut dengan resepsi. Untung saja Desi dan keluarganya mau melakukan hal tersebut.

"Sayang, kamu nampak cantik hari ini," pujiku kala melihat Desi berdiri di hadapan cermin, gaun berwarna putih membalut tubuhnya yang cukup ramping dan tinggi.

Tidak mau buang kesempatan, aku langsung menghampirinya dan melingkarkan tangan di pinggangnya.

"Mas, kamu puji aku terus. 'Kan jadinya aku malu," balas Desi dengan sedikit menunduk, meskipun begitu, aku bisa melihat bibirnya ikut menyunggingkan senyuman.

"Kenapa malu, Sayang. Lagian kamu udah sah jadi istri, Mas. Jadi, jangan malu-malu gitu dong."

Desi tidak menjawab ucapanku, dia malah semakin menunduk dalam.

Aku dan Desi bertemu beberapa bulan yang lalu di sebuah warung makan milik kedua orang tuanya, waktu itu dia sedang melayani pesanan kami. Seketika saja, aku langsung jatuh hati padanya dan entah kenapa, rasa cintaku pada Tasya--istri pertamaku perlahan terkikis. 

Mulai saat itu, aku sering datang ke warung makan milik orangtuanya dan perlahan mendekati Desi dan yang lebih menguntungkannya lagi, orangtua Desi merespon dengan cukup bagus.

Mereka tidak tahu, kalau waktu itu statusku sudah menjadi suami orang lain. Tapi, itu tidak masalah dan yang terpenting, aku bisa bersama Desi. Gadis muda yang tidak kalah cantik dari Tasya, istri yang perlahan aku jadikan ATM berjalan.

"Mas, Mbak, sudah bisa keluar, untuk acaranya sudah di mulai." Tiba-tiba ada seorang wanita membuka pintu kamar itu, tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Seketika saja, aku dan Desi langsung tersentak. "Ma-maaf," tambahnya sambil menunduk.

Tidak kuhiraukan ucapan perempuan tersebut, begitupun dengan Desi. Dia malah langsung menggandeng tanganku dan keluar dari kamar, menuju tempat resepsi.

Saat aku dan Desi naik ke pelaminan, kedua orangtua Desi langsung menyusul. Rona bahagia terpancar di manik mata keduanya.

"Mas, aku tidak nyangka, tamunya bakal sebanyak ini."

Aku tersenyum simpul, lalu menarik tangan Desi ke pangkuanku dan mengenggamnya dengan begitu erat.

Acara semakin berlanjut, tidak terasa sudah saatnya para tamu memberikan ucapan selamat pada kami. Selama itu pula, aku tidak terlalu memperhatikan sekitar, karena terlalu larut dalam kebahagiaan.

"Desi, akhirnya kamu menikah juga. Selamat, ya!" ucap seorang gadis yang aku perkirakan mungkin saja seumuran dengan Desi. Mereka nampak akrab, mungkin teman sekelasnya pikirku. 

Tepat di belakang gadis itu, ada seorang pria tinggi yang juga ikut memberikan selamat. Tapi, aku melihat matanya begitu berbinar kala bersalaman dengan Desi , walaupun begitu kesedihan juga ikut tergambar.

"Ekhem,” dehemku kala pria itu tidak juga melepaskan tangan Desi.

"Des, selamat, ya! Aku ga nyangka, loh."

Desi pun malah meresponnya dengan begitu ramah.

"Terima kasih, Ilham. Sudah datang ke sini."

Sesudah berkata demikian, Desi lantas melepaskan tangan Ilham dan pria itu langsung beralih ke hadapanku, lalu tamu selanjutnya yang merupakan pria kembali menghampiriku.

"Boleh minta foto?" tanya seorang wanita berambut panjang. Dia memakai masker dan kacamata, tanpa ragu aku langsung mengangguk.

Wanita itu langsung berdiri di sampingku dan mengarahkan ponsel ke hadapan kami, tapi sebelum wanita itu menekan tombol kamera, tiba-tiba maskernya yang menutupi sebagai wajahnya terbuka, membuat senyumku seketika pudar, saat menyadari siapa dia.

"Ta-tasya! Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyaku secara spontan.

"Memangnya aku tidak boleh menghadiri acara pernikahan suamiku sendiri?" 

Seketika saja tubuhku membeku. Astaga, untuk apa Tasya datang kemari, kenapa dia bisa mengetahui keberadaanku di sini. Ah, bisa-bisa kacau semuanya.

"Mas, siapa dia?" Pertanyaan yang Desi lontarkan, membuatku semakin panik saja.

"Aku istri sah dari laki-laki yang berdiri di sampingmu! Dan kami sudah menikah selama hampir tiga tahun lamanya."

Dengan begitu lantang, Tasya membalas ucapan Desi.

Netraku menelisik seisi tempat resepsi, tapi tidak menemukan keamanan yang bisanya berjaga di acara hajatan. Astaga, kemana orang-orang tersebut. Padahal aku ingin sekali mengusir Tasya dari sini, bisa-bisa dia membuat keributan yang lebih gila lagi.

Namun, belum sempat aku menemukan orang yang di cari, tiba-tiba Ibu mertuaku yang berdiri di sisi lain kami limbung. Membuat acara semakin tidak terkendali.

Sontak, aku langsung menoleh ke arah Tasya yang sedang menatapku dengan tajam.

"Tasya, kamu sudah berlebihan! Lihat, apa yang telah kamu lakukan pada Ibunya Desi. Jika, terjadi sesuatu dengannya, aku akan menuntutmu." Tak kalah lantang, aku berkata seperti itu pada Tasya.

"Hei, Bro! Yang awalnya berlebihan siapa? Kami bahkan bisa menuntutmu lebih dulu." Tiba-tiba pria yang berdiri di samping Tasya menimpal. "Aku tahu, kamu memalsukan data-data agar bisa menikahi gadis yang mungkin bisa kamu sebut sebagai adikmu sendiri. Jadi, apa kamu berani menantang kami yang jauh lebih banyak memiliki bukti kuat?"

Aku langsung bungkam ketika mendengar ucapan Tian. Tidak mungkin, dia mengetahui ini semua. Sementara itu, aku tidak pernah bercerita pada siapapun.

Apa jangan-jangan Tian sudah curiga padaku, lalu tanpa sepengetahuanku dia memantau secara diam-diam dan mengikuti. Tapi, apa mungkin dia mengetahui soal data tersebut.

"Jadi, Mas, selama ini kamu membohongiku?" 

Sontak, aku langsung menoleh ke arah Desi yang tengah menatapku dengan begitu lekat, cairan bening nampak menggenang di pelukannya. 

Sementara itu, beberapa tamu terdengar begitu ricuh.

Ah, ini semua gara-gara Tasya! Lihat saja Tasya, aku akan membuatmu membalas semuanya.

Sudah lancar rencanaku dari awal, kenapa saat hampir berada di akhir, semuanya nampak begitu kacau.

"Mas, bisa jelaskan semuanya, Desi. Tolong jangan berpikiran yang buruk-buruk terlebih dahulu."

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • MENGHADIRI PERNIKAHAN SUAMI

Terkini

Iklan