Iklan

Iklan

KETIKA SUAMIKU MEMBAWA KEKASIHNYA TINGGAL DI RUMAH KAMI

6/28/21, 10:52 WIB Last Updated 2021-08-02T12:20:18Z

 KETIKA SUAMIKU MEMBAWA KEKASIHNYA TINGGAL DI RUMAH KAMI

#ISTRI_ELEGAN

Cerpen Karangan: Ilyasa Cello

Blog / Facebook: Ilyasa Cello

Part 19

Satu bulan kini telah berlalu begitu saja, aku masih berada di kampung halamanku di sebuah desa di kota Bandung.

Keadaan ayah bahkan semakin membaik. Namun, rumah tanggaku dengan Mas Wahyu tetap tak menunjukan perubahan yang jauh lebih baik.

Aku bahkan bersikeras untuk tetap bercerai, menunggu Ayah benar-benar pulih dan bisa menyampaikan semua kebenarannya.

Aku tak bisa terus membohongi mereka. Apalagi, malam ini Ayah pulang dari rumah sakit dan aku tak bisa menggunakan alasan rindu Mama untuk bisa terus tidur bersama Mama

Aku yakin, Mama sudah mulai curiga dengan keadaan rumah tanggaku karena aku selalu saja menolak tidur bersama Mas Wahyu selama satu bulan aku tinggal disini.

"Ta, malam ini kamu tidur sama Wahyu ya, Papa kayaknya sudah pulang. Kasihan Wahyu, dianggurin terus," cetus Mama.

Aku memutar bola mata, malas rasanya harus menghadapi pria penghianat seperti dia. Namun, apa boleh buat. Aku hanya tinggal menunggu beberapa hari lagi sampai Ayah benar-benar pulih dan bisa mengalahkan semuanya.

Aku yakin, orangtuaku akan mengerti. Selama berada disini, Mas Wahyu terlihat baik. Ia bahkan tak pernah terlihat menghubungi siapapun. Entah aku yang tak tahu atau memang ia yang terlalu pintar menyembunyikan masalah.

"Kamu tidur di luar Mas, kasih alasan panas atau apapun. Aku gak mau ya, tidur sama kamu!" tegasku saat aku baru saja masuk ke dalam kamar.

"Iya Ta," jawab Mas Wahyu.

Ia pun bergegas keluar dari kamar dan membiarkan aku tidur dalam kamar sendiri. Entah ia akan tidur dimana, aku tidak perduli.

_____

Pagi ini, setelah usai melaksanakan kewajiban dua rakaat aku memutuskan untuk berolah raga mengelilingi komplek. Ayah sudah sembuh, artinya aku bisa kembali lagi ke Jakarta. Memulai bisnis bersama Vito yang sempat tertunda.

"Inget Gak Ta, dulu kita sering lari pagi begini. Kenapa sih kamu gak cerai saja sama Wahyu, lalu tinggal lagi disini?" tanya Siska.

Aku tersenyum sendu, "Gak segampang itu Ka. Kalau cerai iya, sudah ada dalam rencana tapi, kalau pindah dan tinggal lagi di sini, mungkin belum bisa Ka. Aku harus sukses dan membuktikan pada Mas Wahyu serta selingkuhannya bahwa aku bukanlah wanita lemah. Vera bisa saja merasa menang dan mengalahkan aku dalam merebut Mas Wahyu tapi, tidak dengan kehidupan lainnya." 

Terlalu sakit hatiku jika Aku harus menyerah dan pasrah melepaskan mereka begitu saja.

Siska pun akhirnya mengerti, sifatku memang keras kepala. Aku tak pernah kalah dalam hal apapun dan ini menjadi pertama kalinya seseorang berani mengusik kehidupanku.

"Kayaknya di rumah kamu ada tamu," ucap Siska sembari menunjuk ke arah rumah orangtuaku.

Aku menoleh, seorang wanita muda dengan bayi dalam pelukannya. Wanita yang sangat aku kenal perawakannya.

Aku bergegas, berjalan dengan cepat agar aku bisa membungkam mulut wanita pelakor tersebut sebelum ia mengatakan semua pada Mama.

"Vera ...?"

Benar saja, Vera hampir mengatakan maksud dan tujuannya kemari. Aku yakin, ia mencari Mas Wahyu sampai di tempat ini.

"Dia Vera?" bisik Siska.

Aku mengangguk kecil, "Dia temen Kalista Ma, Mama bisa tolong bikinin minum?" pintaku lembut.

Mama pun mengangguk sembari tersenyum, lalu berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman untu seorang tamu istimewa.

"Ngapain kamu kesini?" tanyaku sinis.

Vera menyibakkan rambut panjangnya yang terurai.

"Kamu tahu Ta, apa tujuanku!" sentaknya.

"Dasar pelakor gak ada harga diri, kejad-kejar suami orang terus. Gak tahu malu!" decak Siska.

Vera melirik ke arah Siska. Nampak ia begitu tak suka dengan cara Siska berbicara. Namun, kami berdua sama-sama tak perduli dengan hal tersebut.

"Kamu yang bilang gak akan lagi memaafkan Mas Wahyu, pembohong!" sentak Vera.

Berani sakali ia mengatakan hal itu padaku.

"Tunggu disini, aku panggilkan pujaan hatimu!" bentakku.

"Jagain dia Ka, jangan sampai dia masuk dan menghancurkan semua untuk yang kedua kali!" pintaku pada Siska.

"Tenang Ta, aman!" teriaknya.

Aku segera membangunkan Mas Wahyu yang masih terlelap di ruang televisi.

"Mas, ada yang cariin!" bisikku sembari mengoncang tubuh Mas Wahyu.

Mas Wahyu menguap dan menatapku sejenak, "Siapa?" tanyanya.

"Vera," jelasku.

Aku tak berani mengatakan dengan suara keras karena Mama ada di dapur dan bisa saja curiga dengan sikapku dan dengan kedatangan Vera ke rumah ini.

Mas Wahyu segera bangkit dari posisi tidurnya dan keluar menemui Vera. Sementara itu, aku berjalan ke dapur untuk mengambil minuman yang Mama buat. Sesungguhnya aku hanya ingin memastikan jika Mama tak akan keluar lagi dan menjadi curiga dengan sikap kami.

"Ma, biar aku aja. Mama temenin Papa atau buat masakan ya, Kalista laper abis olahraga," kilahku.

Mama mengerutkan kening, aku yakin beliau sudah merasa ada yang tidak beres. Namun, aku masih tak berani mengatakan semuanya. Aku menahan diri agar bisa lebih sabar untuk tidak mengatakan semuanya.

"Aku anter ini keluar dulu ya Ma," pamitku sembari membawa dua cangkir teh ke teras depan.

Saat aku keluar Mas Wahyu dan Vera tengah berbincang di depan gerbang, jauh dari pendengaran aku dan Siska. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti mereka terlihat tengah berdebat hebat.

"Gila ya tuh perempuan!" cetus Siska.

"Kalau gak gila gak jadi pelakor!" jelasku diiringi gelak tawa.

Entah apa yang mereka berdua perdebatkan. Dari yang aku lihat mereka sama-sama di kuasai emosi. Mungkin Vera marah karena Mas Wahyu menemani aku disini sedangkan dia baru saja melahirkan.

Biarlah, biar sedikit saja ia merasakan sakit. Agar dia tidak seenaknya merebut milik orang lain.

"Kamu gak sakit hati lihat mereka begitu Ta?" tanya Siska lagi.

Aku terdiam sejenak, "Sakit itu sudah lama hilang seiring perasaan yang juga sudah memudar," ungkapku.

Vera nampak kesal dan berjalan ke arahku dengan tatapan penuh amarah.

"Puas kamu Ka? kamu udah merebut Mas Wahyu dari aku!" cetusnya.

Aku tersenyum sinis, "Aku merebut? kamu waras gak sih!" sindirku.

Vera nampak sudah tak bisa lagi menguasai dirinya. Berkali-kali ia berusaha mencakar wajahku tapi, beruntung Siska menghalanginya.

"Dia siapa sebenarnya Ka? kenapa datang ke rumah kita hanya untuk membuat keributan?" tanya Mama yang tiba-tiba sudah berada di belakangku.

Aku, Siska dan Mas Wahyu saling pandang. Namun, Vera justru tersenyum sinis.

"Tante mau tahu siapa saya?" ucap Vera dengan nada penuh percaya diri.

Tidak, Vera tidak boleh mengatakan siapa dirinya. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk menimpa Mama.


Selesai

Cerpen Karangan: Ilyasa Cello

Blog / Facebook: Ilyasa Cello

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • KETIKA SUAMIKU MEMBAWA KEKASIHNYA TINGGAL DI RUMAH KAMI

Terkini

Iklan