Iklan

Iklan

Ketika Air Susu Dianggap Air Tuba

2/28/21, 22:49 WIB Last Updated 2021-03-19T14:51:15Z

Ketika Air Susu Dianggap Air Tuba

Oleh : Muhamad Adib

            Kok dianggap? Apa gak salah tulis Bukankah seharusnya kata yang benar Kalah di balas? Ya kata dianggap bukan salah tulis Bukan bermaksud ferubah kata dalam peribahasa Air Susu di balas Air Tuba yang bermakna kebaikan yang di balas dengan kejahatan Memang dalam konteks dka ini lebih tepat menggunakan kata di karena yang di maksud adalah sebuah insan yang dianggap sebagai sebuah kejahatan.


            Cerita tentang orang orang yang berbuat baik tetap dianggap oleh orang-orang yang tidak tahu dan atau tidak mau tahu sebagai perbuatan tidak baik, bahkan dianggap sebagai perbuatan Jahat pastinya banyak terjadi. Barangkali kamu yang sedang membaca tulisan ini) termasuk orang yang sudah pernah mengalami. Betul Tidak banyak sekali. Bisa jadi malah berkali kali mengalami.


            Di cerita cerita sebelumnya, saya banyak menulis tentang tantangan dalam menyelenggarakan kegiatan pendidikan luar sekolah dan pemberdayaan masyarakat desa hutan serta pelestarian sumberdaya hutan yang busanyak dan super kompleks. Seperti halnya fasilitasi pendidikan gratis tanpa pungutan biaya sepeserpun kepada warga belajar berkali-kali melaksanakan Study tour gratis, membantu kegiatan kegiatan sosial keagamaan yang ada di desa. Dan masih banyak lagi yang lainnya


            Karena banyaknya kegiatan-kegiatan yang serba gratis tersebut di desa, saya dianggap orang yang "kaya". Memiliki banyak harta uang dirumah dan uang yang di simpan di berbagai Bank Sering orang datang baik ke Sekretariat Argowilis maupun datang ke rumah dengan tujuan untuk meminjam uang Banyak yang datang dengan tujuan meminta sumbangan (Seringnya sumbangan untuk pembangunan Sekolah, Masjid dan fasilitas umum lainya Juga permintaan sumbangan pada peringatan hari hari besar nasional dan hari hari besar agama. Saat saya dan atau kelompok sedang ada rejeki, saya selalu berusaha untuk memberi. Baik itu pinjaman maupun permintaan sumbangan Ketika lagi tidak ada rejeki, dengan berat hati saya menyampaikan kepada mereka yang datang Mohon maaf, saya belum bisa membantu Saat ini belum ada rejeki" celakanya, ketika tidak di beri, banyak yang tidak percaya kalau saya sedang Hidakada uang


            Asyliknya lebih indah dari pada menyebut kata Sedihnya he he he. kemudian ada orang yang menduga duga dan membuat kesimpulan yang keliru Ada yang membuat kesimpulan bahwa saya sebenarnya mendapatkan banyak bantuan dari Pemerintah Bahkan banyak bantuan yang seharusnya untuk masyarakat tetapi malah hanya di pakai untuk kepentingan pribadi dan kelompok Dan kemudian anggapan seperti ini dengan cepat menyebar ke seluruh pelosok kampung.


            Dampak dari "isyu" tersebut, kegiatan simpan pinjam yang tadinya berjalan lancar. Mual macet Banyak peminjam yang tenang-tenang saja saat di tarik. Bahkan ada Yang dengan terang-terangan mengatakan tidak akan membayar pinjaman. Karena menurut kebanyakan orang, uang yang di pinjamkan adalah hak dari mereka


            Ada kejadian menarik di lebaran idul Adha tahun 2006. dat itu bekerjasama dengan Dompet Dhuafa Republika Program Tebar Hewan Qurban saya mendapatkan kepercayaan 10 (sepuluh) ekor kambing Qurban untuk di Dipotong dan di bagikan kepada warga belajar dan keluarga angen. Tak lupa di bag kan juga kepada tetangga di Sekitar sekretariat Argowilis saya yang kebetulan pas Penyembelihan hewan Kurban sedang ada kegiatan di luar tidak sempat menikmati sate daging Qurban Dua hari undian kolam ikan milik kelompok habis di curi. Setelah di Dki dengan bantuan Polisi, di temukanlah pelakunya (Si uri) Alasan orang itu mencuri bikin saya kaget, katanya Kecewa dan jengkel karena tidak menerima daging Beban Call In saya menjadi sedih mendengarnya Untung saya masih memiliki kesabaran untuk tidak Meneruskan masalah ke jalur hukum. Cukup dengan hemaafkan dan berharap tidak terulang


            Di bulan Juni 2006 dengan modal meminjam uang dari sebuah BMT di Kecamatan Wangon sebesar Rp. 15.000.000, (Lima belas Juta rupiah), saya memberanikan diri untuk mulai membangun rumah belajar 2 (dua) lantai untuk kegiatan belajar mengajar warga belajar Paket B dan Paket C dan membangun kantor KTH Argowills Di mulai dengan acara Peletakan Batu Pertama oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas dan dihadiri oleh banyak tamu undangan dari dinas dan masyarakat Nah, Gara -gara acara peletakan batu pertama dan yang datang banyak mobil mobil plat merah, berkembanglah dari berbagai Isyu di seantero kampung bahwa saya telah menerima bantuan uang ratusan juta dari Pemerintah


            Lagi - lagi banyak orang yang datang dengan maksud meminjam dan atau meminta sumbangan. Karena memang sedang tidak ada rejekl (Setelah acara peletakan batu pertama dan beberapa tukang bekerja selama seminggu, uang sudah habis. Pekerjaan dihentikan Lebih dari 3 bulan Bahkan sampai tanggal Jatuh tempo harus mengembalikan pinjaman Rp. 15 Juta, belum mendapatkan rejeki) maka orang-orang yang datang meminjam dan atau meminta sumbangan pulang dengan tangan hampa. Lalu isinya menjadi lebih asylik. Di kedamaian suasana pedesaan Saya mendapat julukan sebagal "Tukang bikin proposal" bahwa pekerjaan saya adalah mencari uang bantuan kemana-mana dengan menjual kemiskinan warga desa Bahwa semua kegiatan yang saya lakukan adalah "kedok" untuk menutupi kebohongan Masya allah...


            Melihat situasi dan kondisi yang kurang kondusif. (Hi hi hi seperti negara sedang dalam situasi genting) saya merapat menemui Kepala Desa, menemui beberapa tokoh masyarakat setempat, silaturrahmi ke Bapak Camat, Kapolsek dan Koramil Intinya memohon bantuan untuk menciptakan suasana agar keadaan kembali kondusif Lalu di buatlah sebuah acara yang BPD, Ketua ketua RW dan R irkan selurüh Perangkat Desa. Tokoh-tokoh masyarakat dan di saksikan Forkopimda dengan nama "Kupas Tuntas Argo Wilis" Acara di gelar di Balai Desa. Konsep acaranya dibikin seperti Sidang Terbuka dengan saya dalam kapasitas sebagai General Manager Argowilis di posisikan sebagai "Terdakwa". Seluruh yang hadir di berikan kesempatan untuk bertanya, menuduh, mendakwa, membuktikan dengan data dan fakta bahwa apa yang saya lakukan seperti isyu yang beredar


            Sayangnya, jangankan menunjukkan data dan fakta, mendakwa, menuduh, setelah di persilahkan oleh Bapak Camat (sebagai fasilitator) ternyata tidak ada satupun hadirin yang bertanya Berkall kali pak Camat meminta untuk bertanya, sampai setengah memaksa.... ahirnya ada seorang tokoh masyarakat  setempat yang berdiri dan bertanya dengan suara lantang "Tolong di jelaskan dari mana Argo Wilis mendapatkan uang untuk kegiatan-kegiatan yang di laksanakan yang banyak sekali itu? Soalnya kami heran juga bingung. Sebagai warga masyarakat, kami tidak pernah di mintal sumbangan. Padahal sekelas Pemerintah Desa saja setiap mau menyelenggarakan kegiatan, seluruh warga di mintal sumbangan melalui RT, Apalagi ketika kegiatan itu menghadirkan Pejabat Padahal Argo Wiiri oleh Pejabat mengadakan kegiatan-kegiatan yang di sering sekali bahkan oleh Bupati dan Wakil Bupati. Itu saja yang kami tanyakan. Dan saya kira yang lain yang hadir di sini juga pertanyaannya sama dengan pertanyaan saya. Jadi saya mewakili semua yang hadir, Tolong Jelaskan dari mana uangnya ?77 Betul begitu hadirin ??" lalu Jangsung terdengar teriakan seperti koor "Beeeetuuuul.

            Pak Camat mempersilahkan saya untuk berdiri di depan dan menjawab pertanyaan yang di tanyakan oleh tokoh masyarakat tadi. Dengan tenang saya melangkahkan kaki kedepan, mengucapkan salam dan menjawab pertanyaan yang sudah saya jawab dengan judul "Hanya 10 persen saja


Muhammad Adib

Peraih PGRI Award 2012 dan Pegiat Sosial


Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Ketika Air Susu Dianggap Air Tuba

Terkini

Iklan